" Aku di sini,"
-oOo-
Seorang gadis cantik dengan kulit berwarna coklat terang—dan pucat—sedang berbaring diranjangnya. berbagai selang terpasang di tangan gadis cantik itu.
Cklek.
Wanita paruh baya yang merupakan ibu dari gadis cantik itu masuk ke kamar. Beliau mendekati ranjang anaknya. Duduk di samping ranjang sambil menggenggam jemari anaknya.
" Cepat sembuh, Nak. Mama sedih melihatmu seperti ini,"
Gadis cantik itu mengangguk. " Iya, Mama. Cha janji akan cepat sembuh,"
Mamanya tersenyum. " Oh ya. Sahabatmu mau dateng loh. Kemarin dia mau pamit, tapi kamunya lagi tidur. Kamu tunggu di sini ya. Kakaknya lagi duduk di depan kayaknya lagi baca novel atau main HP,"
Gadis itu memperhatikan Mamanya berulang kali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. " Mama mau kemana? Ada pesenan ya? Kalo Mama mau ngerjain pesanannya nggak papa kok Cha ditinggal. Kan ada kakak,"
Mama gadis itu mengangguk sambil tersenyum tipis. " Maafin Mama ya. Mama akan kembali nemeninn kamu secepatnya, oke?"
Wanita itu mengelus kepala anaknya lalu berlalu keluar ruangan sambil melambaikan tangan. 5 min setelah Mamanya keluar, pintu diketuk.
" Siapa ya?" sahut gadis itu dengan suara yang dikeraskan. " Kakak? Kakak di luar?"
Tiba tiba pintu kamar gadis itu terbuka. Tampak seorang laki laki seumuran dengan gadis itu berdiri di ambang pintu. Pandangannya menatap ke lantai, jadi dia tidak tahu ada seorang gadis yang memperhatikannya sambil melongo. Gadis itu memperhatikan gerak-gerik laki-laki itu. Dia menutup pintu dengan santai seolah ini adalah kamar seseorang yang ia kenal.
Eehhh??
APA DIA GAK SADAR KALO DIA SALAH MASUK RUANGAN? GADIS INI SAMA SEKALI TIDAK MENGENALNYA!
" Maaf kamu siapa?"
Laki-laki itu mendongak. Mereka berdua saling tatap selama beberapa detik. Tiba-tiba ekspresi laki-laki itu berubah. Dia mundur satu langkah kembali mendekati pintu.
" Eum, maaf—?"
" OKE MAAFIN AKU YA AKU SALAH MASUK RUANGAN!"
Laki-laki itu buru-buru membuka pintu dan keluar dari ruangan. Sedangkan gadis itu menatap kepergian laki-laki itu dengan heran. Beberapa detik kemudian tawanya lepas. " Bener kan dia salah masuk,"
Cklek. Kepala laki-laki itu menyembul dari balik pintu. Wajahnya tampak menatap gadis di ranjang dengan kesal. " Kamu ngetawain aku ya!"
" Eh! Maaf, hehehe," gadis itu menutup mulutnya.
Laki-laki itu malah kembali nyelonong masuk. Lalu ia memperhatikan si gadis cantik berkulit coklat dan pucat. Pandangan nya terarah pada berbagai selang ditangannya. Gadis itu sedang duduk, memperhatikan apa yang sedang diperhatikan oleh laki-laki di depannya. Dia ikut memperhatikan tangannya yang terdapat selang dan diperban.
" Kamu...sakit?"
Gadis itu menggeleng. " Nggak. Sakit pas kemarin kemarin. Sekarang aku udah nggak begitu sakit." Gadis itu tersenyum manis.
Si laki-laki kecil sempat terpesona beberapa saat. " Beneran udah nggak sakit?"
Gadis kecil itu mengangguk meyakinkan. " Aku masih bisa ngobrol sama kamu,"
Entah kenapa, laki laki kecil penuh rasa penasaran ini duduk dikursi yang ada di sebelah ranjang si gadis kecil. Dia penasaran apakah sakit dipasang banyak sekali selang. dengan pelan dia menyentuh punggung tangan gadis itu.
" AW!"
Laki-laki itu tampak terkejut, segera dia menarik tangannya kembali. " EHHH?! KAMU GAK PAPA?"
Tawa gadis itu tiba-tiba pecah. Ia memegangi perutnya karena tawa yang tak tertahankan usai menjaili laki-laki ini. " AKU CUMA PURA-PURA KOK!"
Laki laki itu merengut kesal. " Kamu kok sendirian? Kenapa nggak ada yang nemenin di sini?" Laki-laki itu melupakan rasa kesal nya karena rasa penasarannya lebih dari kekesalannya.
Gadis itu tersenyum tipis. " Tadi ada Mama. Tapi lagi ada urusan. Nanti ada sahabatku dateng. Oh iya, Kakakku kan lagi duduk di luar. Kok kamu bisa masuk tanpa kakakku tau?"
Laki-laki itu nyengir lebar. " Oh, aku tadi liat tapi kakakmu lagi asik foto foto tanaman. Terus pas aku keluar lagi, kakakmu lagi baca buku,"
Gadis itu ber-oh ria. " Kamu kenapa ada di rumah putih?"
" Rumah putih?"
" Kata Mama, rumah ini namanya rumah putih. Dulu aku taunya dari kakak nama rumah ini rumah sakit. Mama bilang rumah ini bukan cuma buat orang sakit, tapi juga tempat orang-orang sembuh,"
Laki-laki itu mendengarkan sambil sesekali memperhatikan wajah gadis kecil cantik di hadapannya ini. Telunjuknya tak henti mengelus pelan tangan gadis ini. " Ohh. Aku di sini karena nenekku sakit,"
" Cepat sembuh buat nenekmu ya,"
Laki-laki di hadapannya mengangguk. " Kalo kamu kenapa ada di rumah putih?"
Gadis itu tiba-tiba menunduk lesu.
" Kamu—gak papa?" Laki-laki kecil ini mulai cemas.
" Iya, gak papa. Aku punya penyakit. Kalo gak salah aku pernah denger waktu Mama sedang ngonrol dengan Budeku, namanya leukimia. Makanya aku di sini buat disembuhin. Tapi aku udah lama banget di rumah ini. Kayanya aku gak bisa sembuh,"
Gadis kecil itu mulai meneteskan air matanya. Dia berusaha mengelap air matanya, tapi sia-sia karena gadis itu benar-benar sangat sedih. Susah menahan air mata yang sudah terlanjur jatuh dari pelupuk matanya.
Si laki-laki kecil menggenggam pelan tangan gadis kecil yang sedang menangis. Matanya ikut berkaca-kaca. " Kamu harus sembuh ya! Jangan menangis,"
Gadis itu mengelap air matanya lalu tersenyum. Dia mengangguk pelan sambil menatap laki-laki di depannya.
" Cha! Ada temenmu nih," suara kakaknya membuat mereka berdua panik. Laki-laki itu bergegas berdiri.
" Aku pergi dulu ya! Kalau bisa nanti aku ke sini lagi! Dadah!" Sebelum pergi, laki-laki kecil itu tersenyum ke arah gadis cantik yang tengah menatap kepergiannya diranjang.
" Ya, Kak. Masuk aja!"
Kakak nya dan sahabatnya masuk. Di saat itu pula laki-laki itu diam-diam menyelinap keluar.
" Sampai jumpa lagi, Teman!"
tbc.
1.1.20
[TADINYA MAU NGE POST PAS TAUN BARU BENER2 TAUN BARU, EH TAUNYA LUPA GAPUNYA PULSA DI KARTU
Akhirnya molor ya sipsip.
Pokoknya NEW YEAR NEW SPIRIT💫✨
🥳🌙]
Direvisi : 29 April 2020. ✅
KAMU SEDANG MEMBACA
Rasendhira
Fiksi Remaja-Jika kamu sedang dalam masa berjauhan dengan seseorang yang sedang menetap dihatimu, cerita ini untukmu. Seorang perempuan cantik, famous, dan pintar bernama Adinda Chitra Anandhira, punya banyak cerita dalam hidupnya. Dan cerita itu semakin banyak...
