Kenangan dalam Goresan Rindu

20 3 3
                                        

Elliana Putri Syauqina, 20 tahun.

Jomblo.

Dan dirinya baru saja mengalami patah hati yang benar-benar menyakitkan ala-ala anak muda kala si pelabuhan cinta justru lebih memilih pergi ketimbang bersama dirinya. Miris, memang. Tapi yang namanya perasaan, jelas tidak bisa dipaksakan. Elliana tahu itu, bahkan jauh lebih dari mengerti soal itu.

Karenanya, di siang hari pukul satu, dia memilih di sini. Di pertengahan musim penghujan. Bersamaan dengan rinai huja yang mengguyur habis kota Jogja saat itu. Duduk begitu tenang di sudut café kecil dengan pencahayaan yang tak begitu terang. Begitu hangat, dan dipenuhi aroma biji kopi. Bersisian dengan jendela berembun, tersembunyi di dekat rak yang berisi penuh dengan buku-buku yang begitu rapi. Desain café yang penuh warna coklat dan hitam ini sangat menarik perhatian anak muda. Kalau dalam bahasa sekarang desain cafenya itu sangat instagram-able dan aesthetic. Di samping itu, menu kopinya yang bervariasi dan harganya cukup menjangkau kantong-kantong pelajar dan mahasiswi seperti dirinya.

Ditambah satu buku di atas meja yang tertutup. ‘Cara Cepat Mencari Cinta edisi Move On’. Sebuah buku penuh akan guratan romansa pelik seorang remaja yang putus asa untuk melupakan kekasih hati. Dan sungguh betapa miris ketika Elliana sendiri merasa jauh lebih mengerti daripada penulisnya, mungkin.

“Ah, payah”

Gerutuan kesal, disertai bibir yang merengut ketika ia menemukan satu gelas kopi dan satu piring kentang gorengnya telah kosong. Benar sekali, gadis kalau galau itu maunya banyak makan, pikirnya. Melirik sekilas, langit masih tampak gelap. Belum ada tanda tanda hujan akan reda. Sesuatu yang menyebalkan, ia harus terjebak di sini lebih lama. Ditemani pasangan muda-mudi yang mengelilingi sekitar bangkunya. Dan ia sendiri di sini, menambah dirinya tampak mengenaskan.

“ Kalau begitu pesan kopi dan makan lagi. Emm, mie kuah cocok ketika hujan.” gumamnya.

Mengutuk diri sendiri yang memang gadis pecinta makanan instan dan penyuka kafein. Membuat Elliana berdiri tenang, membawa ponsel di tangan seraya berjalan ke arah counter. Tanpa peduli pada langkah, ia justru lebih memaku pandangannya pada layar ponsel sembari membaca deretan kata yang tertulis pada postingan.

“Jangan membuang waktumu untuk mencari cinta sejati. Karena percayalah. Apabila takdir mengiyakan dan Tuhan mengizinkan, maka pada akhirnya, cinta akan datang untukmu.” – Kimkimku, 2019.

Elli mendengus remeh membaca kalimat itu. Tanpa menoleh, bahkan tanpa menelisik peduli, ia hanya menunjuk menu yang tertera di counter. Sambil berkata acuh tak acuh.

“Coffe latte, dengan ekstra gula”

Dan sebuah kekehan menyambut, “Wah, tidakkah terlalu manis?”

“Bukan urusanmu. Dan satu lagi mie kuah ekstra pedas.”

“Oke, satu Latte dengan ekstra gula dan mie kuah pedas. Tunggu sebentar ya, nanti diantarkan.”

Elliana hanya bergumam untuk mengiyakan. Ya, dia memang sering ke café ini. Mungkin sebagian kecil barista dan pelayan di sini mengetahuinya. Ia segera berbalik menuju mejanya seraya menghentakkan kaki karena sebal.

Ketika pesanan kopinya telah tiba, Elliana sibuk menikmati minumannya tanpa mengindahkan sekitar. Ia menyesap kopi secara perlahan, menikmati aroma kopi yang menusuk indra penciumannya. Dia sangat menyukai Latte. Rasa dan aroma yang begitu menenangkan jiwa dan pikirnya. Hingga tak lama terdengar suara yang memecah keheningannya.

“Sepertinya ada yang sedang patah hati”

Ia menghela nafas, “maaf, urusan pribadi. Dan jangan sok tahu.”

“Daripada berpacu pada masa lalu, ada baiknya loh untuk membuka hati untuk cinta yang baru.” Ujarnya kemudian terdengar suara piring yang menepuk atas meja. “Satu porsi mie kuah ekstra pedas untuk Elliana”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 11, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kenangan dalam Goresan RinduCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang