[Support dengan Follow, Vote dan kasih saran di komentar. Terimakasih]
Kumpulan pengalaman sahabat dan beberapa pengalaman pribadi yang dituangkan menjadi sebuah tulisan. Pengalaman dan kejadian mungkin tak selalu positif, ada kalanya kita mengalami...
Selamat pagi, siang, sore, malam. Di tulisan ini aku akan membahas tentang pengalaman sahabat saya yang bernama Romi mengenai racun yang ada disekitar kita.
Pertemanan memang tak lepas dari drama namun ketika seseorang salah menyikapinya, pasti akan ada akibat yang tak diinginkan.
Aku : Romi.
Kita semua pernah "keracunan" orang-orang dalam lingkaran kita sendiri. Dulu aku punya banyak sekali teman, asyik memang punya banyak orang yang mengelilingi kita.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Aku tidak pernah merasa kesepian, bertahun-tahun aku dan semuanya membangun hubungan ini, yaa memang tidak selalu mulus konflik kecil pasti ada, entah karena uang, perempuan, ada yang ingin diatas, yang tidak suka tapi dipendam banyak sekali jenisnya. Tapi menurutku itu proses pendewasaan, aku pikir semua orang pasti mengalami itu dengan teman sekitarnya.
Beberapa waktu berlalu, sedikit demi sedikit teman-temanku mulai jarang bergaul lagi aku pikir mereka memang orang yang membosankan hanya karena konflik kecil saja sudah meninggalkan temannya, sungguh kekanakan sekali. Bertahun-tahun aku belum menyadari entah belum merasakan, tapi makin banyak temanku yang malah kian berpisah dari lingkunganku.
Semakin dewasa aku berfikir ada apa sebenarnya? Sampai saat aku menyadari adanya Racun Dalam Lingkaran. Ya racun, kau tau kan racun itu mematikan? Tahu darimana itu racun? Aku menanyai temanku yang sudah lama tidak nongkrong bareng lagi dan yang mereka katakan benar. Mereka merasa tidak enak tapi tidak pernah berani mengungkapkan, merasa direndahkan atas nama bercanda. Sedikit demi sedikit aku mengerti. Sampai aku yang merasakan sendiri.
Aku masuk di Universitas swasta di kotaku, sebenarnya aku diterima di salah satu universitas swasta di bandung namun karena berbagai hal aku tak jadi masuk universitas itu. Sedih memang membayangkan bisa masuk universitas yang diinginkan tapi realita berkata lain, ah sudahlah mungkin memang aku seharusnya sekolah di tempatku sekarang.
Aku memang bukan mahasiswa yang rajin dan pintar, aku tergolong mahasiswa yang cenderung malas karena ini bukan jurusan yang aku mau dan aku tidak suka. Tapi aku tergolong mahasiswa yang senang dengan teman-teman baru. Aku bisa mengenal orang-orang yang sebelumnya bahkan ada yang menjadi musuh tawuranku pas smp, iya aku memang nakal dulu. Tapi lucu sekarang dia temanku dan bukan cuma dia banyak teman-teman baru yang mempunyai berbagai pemikiran yang membuatku sadar akan hal-hal yang sebelumnya tak terpikirkan.
Senang dan sedih, senang karena aku mempunyai teman baru yang bisa aku ajak berbicara banyak hal, melakukan hobi bersama dan hal lainnya. Sedih karena sekarang giliran aku yang merasakan racun pahit yang ada di lingkaran tadi.
Orang di lingkaran mulai membicarakan kalau aku lupa akan mereka gara-gara punya teman baru, dan orang yang bilang seperti itu bisa dibilang adalah pentolan yang punya kredibilitas di lingkaran itu yang mana pasti didengar oleh teman-temannya yang lain tanpa memastikan. Timbulah kabar kabar yang bahkan sudah tidak relevan lagi dengan topik "teman baru" "Iya dia emg gitu egois" "gitu biarinlah dapet temen baru nanti susah juga balik ke kita" bla bla bla.
Seseorang memberitahuku kalo mereka berbeda kepadaku gara-gara itu. Lucu aku pikir. Bayangkan memang ada orang yang selama hidupnya jalan di tempat? Apa kita memang harus terus di lingkaran agar kita dianggap? Lambat launpun aku yakin mereka pasti harus memilih jalannya masing-masing. Kecuali ada orang egois yang orang lain harus terus mengikutinya. Dan perihal "susah nanti juga balik lagi" aku berfikir keras. Kapan aku pernah merepotkan mereka. Mungkin sesekali aku pernah sebagai manusia tapi aku merasa justru aku yang sering diperlakukan seenaknya dan bodohnya aku diam saja dulu. Misalnya dia bisa seenaknya menyuruhku datang jam 7 tanpa menanyakan aku ada acara atau tidak, dia merasa tak enak ketika chatnya tak kubalas, dia meminta aku untuk mengantarkan dia ketika dia sedang ada kebutuhan tanpa menanyakan aku mau atau tidak. Sangat bodoh. Dan itu semua aku lakukan demi pertemanan, memang tak ada pembullyan tak ada main fisik karena kalau sampai seperti itu akupun berani melawan aku bukan tipe anak yang diam ketika diganggu, apalagi kalo sudah main fisik aku bisa nekad, namun butuh bertahun-tahun sampai aku sadar kalo dia memang orang yang egois. Egois mungkin perlu dalam beberapa momen tapi egosentris (semua keuntungan harus padanya) yang tidak boleh. Dan dia melakukannya. Ingin rasanya kutimpa kepalanya dengan batu dan menaburkan isinya untuk dimakan burung gagak.
Aku sadar kenapa sejak dari dulu banyaknya teman-teman dilingkaranku semakin lama semakin menipis. Kini aku mengerti, racun itu mematikan. Kita masih satu tempat duduk bersama tapi membicarakan keburukan satu sama lain di tempat duduk tersebut. Benar-benar sampah. Dulu orang-orang di lingkaran mungkin puluhan saking banyaknya kini terhitung oleh jari, dan aku yakin kalau mereka berani berkata jujur tanpa ada embel-embel gak enak. Mereka pasti menyimpan uneg-uneg yang bau seperti sampah juga.
3 tahun sudah aku lewati dengan teman-temanku yang sekarang. Lebih dewasa, lebih mengerti dan lebih nyaman berdiskusi tentang hal hal aneh daripada membicarakan orang lain. Dari situ juga aku mengenal teman-teman yang lain, komunitas-komunitas lain, meskipun aku orang yang cenderung agak sulit beradaptasi dalam bergaul tapi dengan teman-temanku sekarang aku menjadi lebih terbuka dan menjadi lebih dekat dengan orang-orang yang bisa membawaku ke arah yang lebih baik. Tak bisa kupungkiri juga tempatku dulu memang banyak pelajaran baik yang aku dapat, tapi pahitnya lebih terasa.
Kini aku masih berhubungan baik dengan teman lama ku, tapi jarang duduk bersama. Masih ngobrol walau tak sampe larut seperti dulu. Tapi yaaa manusia memang harus terus melangkah kedepan kan? Aku menganggap semuanya pelajaran, pelajaran berharga yang membawaku sampai tempat sekarang dengan pemikiran sekarang ini. Karena aku yakin manusia yang berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk itu sebenarnya adalah hasil dari apa yang selama ini dia alami. Aku bersyukur mengalami hal yang membuatku belajar, dan aku bersyukur mempunyai teman yang menegur dan selalu mengingatkanku ketika aku salah..
Ahh aku ngantuk aku lanjut di tulisan selanjutnya dengan topik yang berbeda ya. Selamat malam