REVISI
•Tempat Ter-Aman.
Memandangi bola basket yang sejak tadi ia pantulkan sebagai pelampiasan emosinya, Sudah terhitung kurang lebih setengah jam Gelsha meluapkan kekesalannya. Jam pelajaran masih berlangsung namun Gelsha masih termenung dengan keringat yang mulai bercucuran. Terakhir, Batinya. Ia mulai mendrible bola tersebut dan mengarakanya pada ring, Belum sempat kakinya mendarat Gelsha merasakan kehilangan urat di sekujur tubuhnya.
"CHA!"
Sherly menjerit menghampiri Gelsha yang telah ambruk dan tak berhasil mendarat dengan sempurna.
Sesak.
Ingatan kesedihanya kembali mengoyak habis energinya, Mata sayunya perlahan memburam memandang Sherly yang terus menepuk pipinya agar sadar.
Sherly semakin panik karna tidak ada satu pun yang berlalu lalang di lapangan basket. Dengan sigap Sherly merogoh kantongnya untuk meminta bantuan.
"Yesa? Apa gue harus minta bantuan dia?" Pikir Sherly menatap layar handphonenya.
Ini akan menjadi masalah.
...
