1

13 1 0
                                        

Karen berjalan santai melewati gerbang SMA Garuda. Sesampainya di koridor, ia sesekali tersenyum dan membalas sapaan orang-orang yang menegurnya.

Namun, langkah kakinya harus terhenti ketika melihat dua orang sedang pergi terburu-buru. Karen memicing, memastikan penglihatannya. Itu Mishel dan Aufar.

Karena penasaran Karen mengikuti kedua orang itu yang ternyata berjalan ke arah taman sekolah.

"Ngapain?" gumamnya.

Karen mendekat dan langkahnya tiba-tiba terhenti, saat menyadari sesuatu. "Gue ngapain sih? Biarin aja kali," decaknya pada diri sendiri.

Namun pikirannya berbanding terbalik dengan gerak tubuhnya, karena nyatanya saat ini ia tengah mencoba mengintip di balik dinding.

"Ngapain?"

"Eh, anj--" pekikan Karen tertahan, dan refleks ia langsung menepuk lengan orang yang membekap mulutnya.

"Lo ngapain sih?" tanya Karen dengan jengkel dan mengusap mulutnya merasa jijik. Sedang yang ditanya, hanya tersenyum seperti biasa.

Senyum aneh dari orang yang aneh, Karen tidak menyukai jenis senyum semacam itu. Ah, Karen lupa, ia tidak menyukai semua yang ada pada cowok di hadapannya. Belum lagi mulutnya yang jika berbicara tidak pernah pakai filter. Semuanya aneh menurut Karen, karena cowok itu memang aneh.

"Segitu terpesonanya sama gue, ha?" tanya Garuda, "sampe nggak mengalihkan pandangan gitu, njir." Ia tertawa menatap Karen.

Karen memutar bola mata menahan kesal, "Dasar gila!" geramnya. Kemudian langsung berbalik pergi meninggalkan Garuda.

Garuda tersenyum miring menatap kepergian Karen. Ia heran dengan cewek itu yang mudah sekali terpancing olehnya. Kan Garuda jadi senang, tapi bagus sih pikirnya.

Ia sedikit melirik apa yang sedang dilakukan dua insan yang tadi sempat diintip oleh Karen. Oh, rupanya sepasang kekasih--yang kabarnya selalu romantis--itu sedang bertengkar. Garuda berdecak, bertengkar di sekolah. Drama sekali.

Garuda menggaruk kepalanya yang tidak ketombean, ia baru sadar sedang mengintip. Kembali berdecak, kenapa dia jadi kepo seperti Karen begini.

Meneruskan langkah, Garuda merogoh saku celananya saat merasakan getaran di ponselnya. Ia tersenyum cerah lalu kembali memasukkan ponselnya, dan berbalik arah menuju belakang sekolah.

***

Garuda memasuki warung yang letaknya tidak jauh dari sekolah, dengan tergesa.

"Lama lu. Buruan!" teriak Delpinus tidak sabaran sambil memiting kepala seseorang.

Garuda melangkah mendekat dan dengan cepat menjitak kepala cowok yang sepertinya sudah sangat lelah itu. Delpinus melepas pitingannya dan mendorong cowok itu.

Rajas memijit kepalanya yang terasa pusing. "Gila ya, lo semua mau bunuh gue?" Ia melirik kesal satu persatu temannya.

Ucapan Rajas dibalas gelak tawa oleh seisi warung yang isinya memang hanya Garuda cs.

"Kemana aja lu, njirr!" Garuda menepuk bahu cowok itu dengan keras.

Rajas terkekeh pelan, "Kenapa lo? Kangen?" tanyanya, kemudian menoel dagu Garuda.

Sedang yang ditanya malah bergidik karena perlakuan Rajas. "Najis. Si Behel noh!" Ia menunjuk seorang cowok yang sedang menjilati behelnya.

Cowok berbehel di seberang menatapnya dengan kesal.

"Menurut lo semua aja lah, apa yang bisa dilakuin orang abis kena masalah kayak gue ini?" Rajas menghela napas, "Sempat pengin bunuh diri gue, tapi sayang belum kawin." Ia terkekeh dengan leluconnya sendiri.

Teman-temannya prihatin pada Rajas. Cowok itu baru saja mengalami kejadian yang amat menyakitkan, tapi untung saja dia masih memiliki akal sehat hingga tidak sampai bunuh diri.

"Udah lah, nggak usah dilanjut acara sedih-sedihnya. Ntar gue mewek lagi."  Gino menimpali, cowok berbehel biru itu mencoba mencairkan suasana.

"Iya bener kata si Behel, nggak usah sedih lagi. Dan gue harap lo nggak kabur-kaburan lagi lah, Jas. Lo harus bisa terima kenyataan, mungkin perpisahan orang tua lo ini adalah salah satu ujian buat lo biar makin dewasa." Gunawan si pemilik warung, yang akrab disapa 'Bang Awan' itu memberi nasihat.

Rajas mengangguk. "Iya Bang. Gue juga mikir sih, kalau gue terus berlarut sedihnya, apa kabar sama adik gue. Gue nggak mau dia down, dan ngerasa nggak ada yang peduli lagi sama dia." Rajas tersenyum miris saat mengingat adik perempuannya. Adiknya masih sangat kecil untuk menghadapi masalah yang menimpa keluarganya.

"Karena adik lo nggak akan kuat Jas, biar lo aja ya." Guyonan Delpinus mendapat sorakan dari temannya.

"Balik sekolah yok." Suara Garuda secara telak membuat teman-temannya mengerutkan dahi.

"Tumben?" tanya Awan tak kalah heran. Tidak biasanya Garuda ingin cepat-cepat ke sekolah, biasanya ia malah menghabiskan dua jam pelajaran di warung. Namun dalam hati, diam-diam Awan bersyukur.

"Lagi males diomelin Kare," jawabnya dan bangkit berdiri. "Lo pada nggak mau balik? Gue duluan." Ia memasukkan hp ke saku hoodie army-nya dan mulai beranjak pergi.

"Eh, cabut juga lah." Gino beranjak diikuti kedua temannya. "Sekolah dulu, Bang." Pamitnya dan dibalas Awan dengan anggukan.

Tbc

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 04, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Perfect Choice Where stories live. Discover now