ASKA- PROLOG

349 14 5
                                        

Happy Reading

_______________

Di sebuah ruangan megah, terlihat sepasang pria berbeda usia sedang membisu dengan posisi berhadapan. Kedua pria tersebut tak lain adalah Aska dan sang ayah.

Keduanya sama-sama bungkam, suara dentingan jarum jam terdengar mengisi kebungkaman tersebut. Jengah dengan situasi ini, akhirnya Steven--ayah Aska membuka suara.

"Ayah sudah lelah dengan semua tingkah kamu Aska. Sudah Ayah ingatkan berkali-kali, tolong tingkatkan nilai kamu. Ayah malu melihat calon penerus perusahaan Ayah mempunyai sifat seperti kamu," Steven memandang tajam anak semata wayangnya itu.

Belum ada balasan dari Aska, lelaki itu hanya bungkam tapi, terlihat seringai tipis di wajah tampannya.

Aska terkekeh sinis, "Apa hak anda mengatur hidup saya. Saya tekankan sekali lagi, saya tidak ingin meneruskan perusahaan milik anda," Aska memberi penekanan dalam setiap katanya. Ia tetap berekspresi datar, tak dipungkiri hatinya kecewa melihat sang ayah yang lebih mementingkan perusahaan dibanding cita-cita anaknya.

Steven berdiri menggebrak meja didepannya, ia memandang anaknya dengan tatapan membunuh.

"Bicaralah yang sopan, aku ini ayahmu. Apa ini balasan yang kamu berikan atas segala kemewahan dan fasilitas yang ayah berikan selama ini ha?" Steven berujar penuh emosi, ia mencengkeram kerah pakaian yang Aska pakai, bahkan Aska sampai ikut berdiri karena cengkraman tersebut.

Aska menepis tangan Steven dari kerah pakaiannya, "Lepaskan tangan anda. Saya tidak pernah meminta semua kemewahan yang Anda berikan selama ini. Jika boleh memilih, saya lebih memilih tinggal di kontrakan kecil tapi saya bahagia daripada hidup mewah tapi menderita."

Tanpa aba-aba Steven melayangkan tangannya ke arah Aska. Bunyi tamparan menggema di ruangan sunyi tersebut, Aska memegang pipinya yang berdenyut. Untuk kesekian kalinya Steven melakukan tindakan kekerasan padanya.

"Jaga bicaramu. Ayah tak pernah mengajarimu untuk tidak sopan kepada yang lebih tua Aska," Steven berucap dingin dengan wajah murka.

Aska masih bergeming, tangannya mengusap kasar pipi yang memerah karena bekas tamparan sang ayah. Ia membuang muka ke samping, tak mau jika Steven melihat raut kecewa yang terpatri di wajahnya.

"Ayah sudah memutuskan, mulai besok, kamu akan ayah carikan guru les privat untuk mengajarimu. Dan satu lagi, ayah tak menerima penolakan," keputusan Steven telah mutlak, ia sudah cukup malu dengan tingkah Aska selama ini.

_______________

Hai semuanya!

Lexi ada cerita baru nih.

Jangan lupa buat vote dan komen ya!

Psst, siders jauh-jauh

See you

Tbc.

ASKAWo Geschichten leben. Entdecke jetzt