Hujan Terakhir

23 1 0
                                        

 Hujan memang tak selalu tentang kenangan tapi siapapun tidak akan bisa menafikkannya bahwa; nuansa ketika hujan selalu membawa fikiran ke ingatan masa lalu. Begitu pun aku. Kini aku tengah duduk di sofa sambil melihat ke jendela yang sedang menampilkan rintik rintik hujan, sebuah puzzle-puzzle ingatan masa lalu berceceran di kepalaku seakan memintaku untuk menyusunnya, namun terlalu sedih bila ku petakan semua susunannya, kenangan indah, rasa sakit dan kehilangan bergerombol menyerbu hatiku.

*** 
      
      Ketika itu kami sedang bermain bersama dirumahnya sambil mengobrol, tiba-tiba kami mendengar rintik hujan mulai berjatuhan di atas genting. Semula kami ketawa ketiwi mengobrol kan ini itu, tapi ketika hujan turun, disaat dinginnya pelan-pelan merambat kedalam tubuh, tiba-tiba Ray terdiam, begitu juga dengan aku, tak ada satupun kata yang kami ucapkan. Hening.
"Aku suka hujan."katanya lirih.
Aku hanya tersenyum kecil menanggapi perkataannya sambil menatap matanya yang menerawang jauh ke luar sana.
"Hujan-hujanan yuk?"ia langsung menarik tanganku menuju keluar rumah. Aku menurut saja.

"Seru yaa?" Tanyanya.

Aku tanggapi dengan senyum kecil dan anggukan.

Aku hanya tersenyum melihat ia menari sambil tertawa dibawah rintik hujan sore ini. Rayyana Marissa atau sering kupanggil Ray, terinspirasi dari pemain WWE Smackdown Ray Misterio, hahaha. Dia adalah sahabat baikku sejak kami Sekolah Dasar, selain kami se-frequensi, jarak rumah kami pun sangat mendukung agar kami terus bermain bersama, ya, meskipun seringkali niat kami untuk berjumpa baik dirumahku atau dirumahnya pasti selalu dengan niat mengerjakan tugas. Ya, kalian mungkin tahu nasib tugas itu ketika kami bertemu, kalin juga pernah kan?

Kini  ia membentangkan tangannya seakan menikmati setiap tetes yang mengenai tubuhnya, kemudian kami berlari lari, meski sesekai terjatuh, namun kami tetap terus tertawa dengan riang hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aku benci relativitas ini, kenapa ketika dengannya hari selalu cepat usai, atau Tuhan sengaja agar kami bisa bersyukur atas kerinduan di malam dingin dan penuh sepi?

 Acara hujan-hujanan pun selesai,karena matahari telah hampir sepenuhnya pamit pada keromantisan susana sore yang agak mendung berwarna jingga, meski awan gelap telah sepenuhnua pergi, namun keadaan langit juga sudah mulai gelap karna jadwal semesta. Setelah berpamitan kepada Ray dan Mamanya aku langsung beranjak pulang. Ibuku jelas marah-marah sambil mengelap rambut basahku dengan handuk. Ya, begitulah, marahnya seorang Ibu adalah kasih sayang yang menyamar.

 
Pagi datang terasa lebih cepat menggeser malam yang suram . Tubuhku terasa pegal, malam kemarin terlalu menyiksaku dengan teror mimpi yang meresahkan, Aku sempat terbangun beberapa kali karena mimpi buruk itu, entah kenapa pagi ini pun keresahan itu masih menyelimuti, begitu juga dengan langit yang lagi-lagi menampilkan mendungnya. Padahal, ini adalah Bulan Juni. Aku melihat jam di dinding kamarku, kaget, ini sudah puku 06.55 yang berarti waktu masuk sekolah 5 menit lagi, bagaimana in? pasti Ibu marah, apalagi wali kelasku, Ahhh, ngeriii. 

Aku langsung ke kamar mandi dan sebisa mungkin mencoba mempersingkat waktu mandiku yang biasanya cukup lama, ehehehe. Setelah itu, aku bergegas menuju sekolah, hingga lupa tidak mengajak Ray untuk berangkat bareng, tapi mungkin dia sudah di depan gerbang menungguku, karena biasanya dia akan mengorbankan dirinya untuk telat masuk bila aku telat dan kami akan dihukum bersama.
         
 Ternyata Ray tidak ada disana, pakah kali dia sedang jahil, mungkin dia ingin menertawakanku ketika nanti jam istirahat aku berdiri di lorong sekolah sambil berkalungkan tulisan "Aku Telat"? Aku sudah gemas sendiri membayangkan ekspresi ray ketika menertawaknaku, awas saja kau. 

akhirnya setelah aku masuk kelas dan dapat info bahwa Ray sakit, semua perasaan gemas dan ekspektasi kesenanganku untuk hari ini hilang. Aku jadi bertanya-tanya, sakit apakah dia? apa karena kemarin main hujan-hujanan? Namun serahuku biasanya dia paling kebal, biasanya akulah yang lemah kalau sudah badanku kecapean atau kedinginan, Aku akan langsung demam.

Sekolah hari ini terasa kurang seru, padahal ada pelajaran kesukaanku, mungkin karena Ray tidak hadir. Menurut surat yang sampai pada wali kelas ia akan izin sampai 3 hari, Aku harus menjenguknya sambil berfikir membeli sebuah barang kecil untuk dibawa kerumahnya agar ia bisa langsung membaik.Sepulang sekolah Aku berhenti di kedai cokelat pinggir jalan untuk membeli coklat hangat kesukaannya, lalu aku berjalan dengan penuh percaya diri bahwa; ketika ia melihat ini pasti langsung senyumnya melebar. jarak sekolah lumayan agak jauh sekitar 3 kilo, jadi aku selalu naik angkutan umum dan selalu turun di depan rumah Ray karena rumahnya pinggir jalan dan rumahku hanya terhalang 2 rumah lagi dibelakangnya.

Hey! Kenapa di rumahnya begitu ramai? Ada Ibuku juga,ia masih mengenakan seragam kerjanya, Ia terduduk sedih di kursi depan rumah Ray, Aku bingung, haruskah menangis atau mencoba memahami situasi? ini terIalu tiba-tiba. Ibu langsung menghampiriku sambil memelukku erat dan mengusap punggungku, seolah menyuruhku untuk tabah. Ini seperti di film-film, beberapa detik, tubuhku tak bergerak dan otak seakan tak bisa mencerna.

"Sabar ya, Nak. "sambil berurai air mata.

Aku semakin bingung,Ada apa ini? Ibu menuntunku masuk kedalam rumah Nia,ada kerumunan orang disana lengkap dengan uraian air mata diwajah mereka,aku yakin ini pasti moment yang sangat menyedihkan bagi mereka,tapi sampai disini aku belum tahu dimana titik kesedihannya Akhirnya ku putuskan untuk melangkah pelan-pelan masuk ke dalam. Aku melihat tubuh kaku terbaring dengan senyum manis yang membeku,gurat wajahnya sangat kukenali

"AHHH...HEU..HEU". Tangis Ibu Ray menjadi-jadi ketika melihatku.

Aku duduk di sebelahnya, Ibunya memelukku persis seperti tadi ibuku, akhirnya air mataku keluar, jantung berdetak semakin cepat dan tanagnku gemetar. Aku seakan tak pernah membaca KBBI, tak ada kata yang bisa kuucap, aku hanya menangis.

"Ren.Nia pergi, do'ain Dia, yaa!". Bisik Ibunya pelan sekali, namun begitu memekik di telingaku.

Seketika butir air mengalir hangat dari mata kemudian mengering dipipi.Aku tak sadarkan diri, tiba tiba saja aku terbangun diatas ranjang kamarku, terbungkus selimut hangat, padahal aku tidak merasa sakit.Ahh,mungkin tadi aku pingsan, tapi Aku masih tak menyangka sahabat terbaikku akan pergi begitu cepat dan tak pernah terbayang di benakku bahwa hujan kemarin akan menjadi hujan terakhir baginya.Semoga Ia tenang di alam sana dan diberi tempat terbaik disisi-Nya. Aku menangis lagi.

***
 Tak terasa mengingat kisah itu membuat mataku terasa panas,terasa bulir bulir air mata sudah meronta ingin menetes, aku segera keluar kemudian membentangkan tangan agar merasakan setiap bening tetesnya. Aku tersenyum.
__:)---

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 20, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Hujan Terakhir (Kumpulan Cerpen)Stories to obsess over. Discover now