Prolog

7 0 0
                                        

"Tarik napas, hembuskan.."

Untaian rambut milik sosok mungil yang bergulung mengadu pada sudut ranjang dalam bilik tidur tersebut diantar menyusup ke sisi belakang telinga oleh sebuah telunjuk kokoh dengan pahatan menyerupai ranting yang tak lagi terhitung jumlah luka gores di permukaannya. Namun bak dibantu oleh lembut kelopak bunga yang menumbuhi sisi penghujungnya ia menunjukkan betapa tak ingin memberi luka dalam tiap sentuhan.

"Benar, kau dapat memahaminya dengan baik. Masih seperti itu dan lepas pelan-pelan.."

Masih sama, benar-benar persis tingkat gemetar itu sejak pertama telapak tangan yang lain datang menyapa kulit. Hanya usap diberi untuk surai makin sering, hilangnya tanda napas tersentak di bahu karena isak bersedia musnah berganti peluh, bujukan dengan jumlah yang sama dengan angguk tiap kali kata membujuk lewat rayu terhadap sang telinga.

"Sempurna. Kau sangat hebat."

Mata dari pria yang selanjutnya terpejam rupanya punya kuasa besar terhadap pikiran si tubuh mungil yang masih gemetaran.

Karena begitu wajah sang gadis yang beberapa menit lalu jeritannya bagai parade kota dalam kamar mandi datang bergaung menyapu sunyi dari setiap inci lorong mansion itu merangkak naik pada lipatan kerut tanda lelah dari pria yang tak putus mendekapnya, tulang bahu seolah diperintah luluh dan terjatuh, turut mengajak cetakan urat sekitaran tengkuk hilang begitu saja.

Tetes keringat meluncur turun dengan mudah dari pelipis hingga ke tengkuk dan menghilang di balik pakaian yang melapis kulit punggung. Semua getar yang menggertak rasa tenang dalam diri terasa pergi dalam penuh sesal karena sekejap kemudian tatap bola mata sang gadis yang besarnya menyerupai kelereng hitam di atas pasir sontak terasa perih dan memerintah kelopaknya mengerjap-ngerjap sering.

"Aku masih saja seorang brengsek ya?"

Suara tersebut datang untuk meyakinkan dirinya agar melepas pelukan bagi si perempuan mungil. Merah permukaan bibirnya berhenti merapal penenang karena berganti tersenyum pada si gadis mungil yang kini memantulkan remang cahaya bulan kepada pria tersebut lewat tatapan mata.

"Untuk berakhir dengan bajingan sepertiku, kesalahan hina apa yang pernah kau lakukan di masa lalu?"

Tubuh mereka basah oleh peluh tapi tidak ada benang yang sanggup mengeringkannya karena semua itu bergumul tak berbentuk di atas lantai sebelum semuanya bermula. Sesudah jemari sang pria dapat membujuk pakaian si gadis hingga terlepas juga lalu datang dan disapanya kedua sisi lengan polos bermandikan cahaya malam itu.

Dia tahu gadisnya terkejut, dia memahaminya dari cara tulang-belulang di balik sana menegur dirinya atas sentuhan tak berizin tersebut. Namun sudah ditentukan bahwa malam ini mereka akan membuat diri satu sama lain tak lagi merasa asing, apa yang sama sekali tak terpikirkan olehnya dari awal sampai pada titik puncak ketika degub jantung pria itu lantang menyatakan ingin bertahan hanya karena ingin menanti dan melalui beberapa hela napas lagi bersama gadis tersebut. Hanya untuknya, hanya memberi diri kepada gadis itu pula.

Termasuk membuat sang gadis mengenal setiap sudut dari dirinya. Atas tubuhnya yang tidak tersamarkan apapun, atas setiap luka di kulit putih pucat bersama urat pelindung aliran darah yang sesekali nampak di permukaan dan mewarnainya. Juga tanpa melewatkan keterbatasan secara fisik yang bahkan tidak lebih indah dari bangkai burung gagak di atas gurun pasir. Seperti apa bekas dan noda jahitan tersemat menggantikan sepasang betis yang tak lagi sanggup dipakai berjalan sejak saat itu.

Gadisnya harus melihat semua, dan ia akan membuat keadaan mereka malam ini baik-baik saja.

Akan tetapi pengendalian diri sang pria justru bagai dimuntahi liur saat jemarinya bertegur sapa dengan sesuatu di sisi atas lengan gadis itu. Sesuatu yang panjang, kasar dan melintang lebih mirip kawat pagar benar adanya di sana, pada tubuh gadisnya yang sama sekali tidak ia ketahui kapan tercipta.

Dan apa yang kemudian membakar sumbu kewarasan pria tersebut adalah desis menahan erangan datang menyentuh gendang telinga begitu disentuhnya sobekan itu sekali lagi dengan telunjuk.

Itu adalah sebuah luka baru yang masih basah.

"Kau..berdarah,"

Sebuah alarm. Wajah sang gadis pergi tertunduk.

"Dan aku tidak tahu apa-apa."

Rambut panjangnya jelas menyuarakan tanda penolakan lewat geleng kuat namun beku ekspresi pria itu terus menggelap.

"Aku benci permainan. Mereka adalah omong kosong." Ia bisa menemukan perubahan gadis itu sementara hatinya didesak dengan menggebu-gebu akan cengkraman dominasi yang telah meronta dari jerat kendali.

"Tetapi saat ini gadisku terlihat sangat ingin melakukannya. Maka jika gadisku telah meminta.."

Napas tersendat, hujan keringat, gemetar.

"...tak akan ada yang dapat kusukai di dunia ini selain dari permintaannya."

.
.
.

To be available

HEYY, we meet again! Can i get any comments ?

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 29, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

A Devil With His AngelStories to obsess over. Discover now