BAB 1

52 3 0
                                        

Pertandingan persahabatan bola basket antara SMA Nusa dan SMA Garuda semakin memanas saat para penonton berteriak menyerukan keunggulan sekolahnya masing-masing.

Pertandingan yang diselenggarakam di SMA Garuda ini mendatangkan banyak penonton dari luar sekolah selain SMA Nusa dan SMA Garuda karena pertandingannya dibuka untuk umum.

Clevvi tetap tak berhenti menatap sosok pria yang selalu ia kagumi, sosok itu sekarang tengah berada di tengah lapangan berusaha untuk mengambil alih bola yang sedang dipegang oleh lawan.

Mata Clevvi melebar saat sosok pria yang dikaguminya itu berhasil mengambil kembali bola, lalu menggiringnya menghindari lawan dan memasukannya ke dalam ring dengan lincah sehingga kali ini sekolahnya unggul dengan poin yang terpaut jauh dari SMA Nusa.

"HUUUUU, SMA GARUDA!! SMA GARUDAA!!" Teriak Clevvi sambil bertepuk tangan, Tania yang berada disebelahnya menutup telinga karena khawatir bila suara Clevvi bisa membuat gendang telinganya pecah.

"Ck, CLEVVIIIII!! Diem bisa gak sih? Berisik mulu, diliatin tuh sama yang lain, malu tau!" Ucap Tania dengan tatapan kesalnya.

Clevvi melirik ke arah Tania, "Apaan sih Tania! Udah biarin aja, urat malu gua udah putus kok, jadi gak bakalan malu" Clevvi kembali menghadap ke arah lapangan dan berteriak lagi, "SMA GARUDAAA!! SEMANGAAT!!"

"Aduh Clev! Ini udah mau udahan tandingnya, udah deh jangan teriak lagi." Nadya ikut terganggu dengan suara Clevvi yang memang berada di sebelahnya.

"Bodo amat." Jawab Clevvi sambil terus menatap ke arah depan.

Sekarang para pemain basket SMA Garuda tengah bersalaman dengan pemain basket SMA Nusa saat wasit sudah menyatakan bahwa pertandingan telah selesai dan dinyatakan bahwa yang unggul adalah SMA Garuda.

"Makanya Clev, kalau suka tuh deketin, jangan cuma teriak teriak kaya orang gila." Sahut Tania setelah mereka mulai berjalan menjauhi lapangan diikuti dengan siswa siswi lain, Nadya hanya mengangguk mendengar pernyataan Tania, tanda bahwa ia setuju dengan Tania.

"Males desak-desakan, ntar gua jadi ga lucu lagi." Jawab Clevvi santai.

Tadinya Clevvi ingin menghampiri Reyvin, sosok pria yang sedari tadi ia amati, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Reyvin dan teman-temannya sudah di kerumuni para perempuan di sekolahnya dan juga dari sekolah lain.

"Najis, pedenya keterlaluan." Ucap Nadya sambil membenarkan rambut panjangnya yang terkena angin.

Clevvi mendahului sahabatnya dan duduk di salah satu bangku yang ada di dekat lapangan, kedua sahabatnya pun mengikutinya dan ikut duduk di bangku yang sama dengan Clevvi.

Clevvi memfokuskan arah pandangannya ke depan, melihat sosok pria yang tengah tersenyum ke arah para siswi yang sedari tadi mengerumuninya sambil melambaikan tangan dan pergi dari lapangan.

"Iya sih Clev, Ka Reyvin emang ganteng, gua akuin dah." Ucap Nadya tiba-tiba sambil mengunyah permen karetnya yang ia makan tadi sebelum duduk di bangku yang sama dengan Clevvi dan Tania.

"Ga usah diakuin juga emang udah ganteng Ka Reyvin mah," Clevvi mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sambil menarik nafas panjang, "IIH, GIMANA SIH BIAR BISA DEKET SAMA DIA? AYO KASIH TAU DONG."

Nadya dan Tania diam saat Clevvi mendorong-dorong bahu mereka berdua.

"Tuhkan diem aja! Ngeselin!!" Clevvi memcondongkan mulutnya tanda bahwa ia kesal dengan kedua sahabatnya itu.

"Kan tadi lu bilang kalau lu ga punya urat malu, ya udah, tinggal deketin aja apa susahnya? Ga malu kan?" Tanya Tania sambil melirik ke arah Clevvi.

CLEVVINStories to obsess over. Discover now