Wajah dengan tatapan yang datar ini masih berselimut tebal menyembunyikan wajah damainya dibalik selimut itu. Sinar matahari memasuki kamarnya namun dia masih tetap bertahan dibalik selimut hangatnya
Drittt drittt drittt
Suara ponsel itu menganggu tidur paginya dia mengeser ikon warna hijau ketika ponsel sudah ada digenggaman laki laki ini.
"woy sekolah nggk lo?" Teriak orang disebrang sana, kuping laki laki itu seketika memerah sakit akibat teriakan itu "buruan udah bel"
Namun laki laki ini masih memejamkan matanya memegang kuping merah itu tanpa menyahuti temannya
"Aksa... Lo dimana tai" geram orang itu lagi
"bacot" ucap laki laki ini yang dipanggil aksa
"najis" umat orang itu bernama Arya dengan merendahkan suaranya "buruan lo dimana sih udah jam pelajan nih, lo sakit?"
Mendengar kata jam pelajaran dimulai dia langsung terbangun, melihat jam dimejanya
"Sialan" ucap aksa meremas rambutnya
"kenapa sa..? Lo dimana sih cepat buruan" sambungan ponsel itu masih aktif
"rumah. Ntar Gue mandi"
Tutt sambungan telpon terputus oleh aksa, dia langsung berlari menuju kamar mandi dan langsung mengenakan seragam sekolah menuju sekolahnya mengendarai montor besarnya dengan kecepatan diatas rata rata.
Sesampai didepan gerbang sekolah dengan tulisan megah tertulis 'SMA Saraswati' dia mematikan mesin montornya, turun menuju pos satpam didekat gerbang
"Pak" ucap aksa melambaikan tangannya
"ehh kamu..., Tumben telat, nak aksara?" tanya pak satpam itu dari dalam gerbang
"buka" aksa memegang gembok gerbang sekolah itu dengan tatapan seperti biasa 'Datar'
Mengerti dengan ucapan aksara pak satpam itu berkata "aduh maaf ya, Bapak nggk bisa bukain gerbang seenaknya. Toh kalau bapak buka juga kamu bakalan tetap dihukum." pak satpam itu menjeda melihat ekspersi anak didepannya, lalu menunjuk kearah seorang guru tengah berdiri membelakangi mereka
"noh ada Pak wahyu didepan, kamu bakalan dihukum dan saya juga kena" ucap pak satpam terpotong oleh tatapan datar milik aksara "nih anak mukanya biasa aja heran dah saya" ucap satpam dalam hati sambil mengelus elus dadanya 'sabar'
"bapak saranin kamu lewat belakang aja bi-" ucapan pak satpam kembali terhenti karena aksara sudah tidak ada didepannya dia berjalan kebelakang sekolah dan menoleh kebelakang
"titip montor saya pak rahmat, makasi" aksara berjalan lagi kedepan setelah mengatakan itu untuk pak rahmat 'nama satpam itu'
Aksara memanjat dinding itu dengan susah payah, tinggi, untung sedikit berlubang, setelah sampai diatas ia melihat lihat ada orang tidak dan ternyata tidak dia meloncat dan berjalan dengan santainya memasang earphone ke telinganya
"settss" aksara mengaduh kesakitan ketika sebuah batu mengenai kepalanya. Dia menoleh dan menatap tajam gadis yang melemparinya batu namun gadis itu membalas dengan tatapan tak kalah tajam dengan sorot kebencian
"apa lo" aksara mendekati gadis itu dengan masih memasang tatapan tajam siap menikam
"lo" ucap gadis itu tak kalah menikam dengan jari telunjuknya mengarah ke aksara
Aksara menaikan sebelah alisnya bertanya tanya
Gadis itu melemparkan sebuah pengepelan kerah aksara "Pel!" ucap gadis itu memaksa, aksara tambah tidak mengerti "lo jalan se enaknya gua capek bersihsin ini tapi lo begitu saja ngotorin!" gadis itu berlalu meninggalkan aksara dengan pengepelannya
"aww" aksara melemparkan batu kecil kearah gadis itu dengan memperlihatkan senyum miringnya gadis itu melangkah mendekati aksara dengan memasang wajah datarnya langsung mengambil pengepelan dan mengepel kearah aksara. Aksara membalasnya dengan menyemprotkan air dan tanah dipinggir koridor (ada tanaman hias disetiap bagunan) kearah gadis itu sampai lantai kini menjadi sangat kotor dan berair
Tak disangka guru berbadan besar 'gendut'menjewer telingat mereka dan menyeret sampai dilapangan basket
"kalian lari 15 kali dan berdiri menghadap tiang bendera sampai istirahat!" ucap guru berbadan gendut itu
"Bu dia duluan" gadis itu membela diri
"Dia" ucap aksara dengan tatapan tajam kearah gadis itu
"ditambah ngepel di setiap wc" ucap Bu Ais lagi 'guru gendut'
Aksara dan gadis itu diam "kamu kalana udah ibu hukum tadi, malah nambah lagi, mau kamu apa kalana!" bu ais menatap gadis bernama kalana ini dengan senyum kaku
"maaf" ucap kalana lalu berlari mengelilingi lapangan
Aksara yang ingin kabur, dicekal bu ais dan menuntut agar aksara mengerjakan hukumannya itu.
Aksara dan Kalana mengerjakan hukuman itu bersama dengan tatapan masih seperti tadi
"musuhan" ucap keduanya.
_______###_________
Buleleng, Bali. 13 Juni 2019
ESTÁS LEYENDO
Aksara Darma
Novela Juvenillemah lembut seperti namanya adalah sebuah kemustahilan, namanya Aksara Darma nama yang bagus seperti wajahnya namun tidak dengan sifatnya, Bad Boy? oh tidakk dia tidak seburuk itu pintar ya jangan diragukan apalagi kedinginan dan kecuekkannya. goo...
