1. Hari Biasa

57 8 2
                                        

Cinta melirik monitor yang terpasang di halte busway, 3 menit lagi bus nya datang. Sedangkan 5 menit lagi bel masuk sekolahnya berbunyi, sekarang apa yang harus dilakukan cinta?

Tidak ada.

Cinta hanya berdiri menunggu bus nya datang. Ternyata busnya datang lebih cepat dari perkiraan.

'Untung banget. Rejeki anak shaleh. Hehe.'

Segera Cinta naik dengan terburu, dalam hati terus merapal,

'Ayo ayoo, jangan macet plis, mao nangis kalo sampe macet.'

Sikap berdirinya tenang, ekspresinya pun biasa tidak mencerminkan sama sekali kekhawatiran terkena point karena telat.

Cinta dengan segera keluar halte, melirik jam sekilas dipergelangan tangannya,

'BISA KOO BISAAA AYOOO!!'

Segera Cinta berlari secepat kilat menuju sekolahnya.

'PAS YA ALLAH PAAS.'

Cinta membungkuk dengan kedua tangan memegang lutut, mengatur deru napasnya. Pas. Pas sekali Cinta masuk gerbang saat gerbang belum tertutup sempurna. Dengan begini Cinta tidak kena point.

Segera Cinta berjalan kekelas sambil mengatur deru napasnya yang masih belum stabil.

"CINTAAAA!! Tumben telat. Liat pr dong, bloman nii. Keburu bu Sondang masuk ayooo sini sini." Teriak Siska dari bangkunya sambil menepuk-nepuk bangku disampingnya yang merupakan tempat duduk Cinta.

"Iya iya sori banget tadi telat keluar rumah. Biasaa." Jawab Cinta sambil mengibas-ngibaskan sebelah tangannya diudara.

"Nih." Cinta mengulurkan bukunya ke Siska.

"TENGKYUU OMEGOT!" Segera Siska merampas buku dari tangan Cinta lalu mendekapnya. Segera disalinnya semua yang tertulis dibuku Cinta. Maklum, disekolahnya saat tadarus pagi selalu ada guru yang mendampingi.

"Ka buruan Ka, bentar lagi bu Sondang masuk kek nya." Senggol Cinta ke pundak Siska memberitahu.

"Iya iya satu lagi. Aduuuhh." Jawabnya saat tangannya berbelit karena menulis dengan cepat.

"Selamat pagi Ipa 3."

"Pagi buuuuu!!" Pas sekali, Siska menjawab salam bu Sondang seraya menutup bukunya.

Tadarus dimulai, Cinta selalu ikut mendengarkan sambil melihat Al-Qur'an tapi dengan Al-Qur'an dipegang Siska. Katanya sedang halangan.

Saat istirahat, Cinta memakan bekalnya, walau hanya nasi dan nugget bikinan sendiri itu terasa lebih nikmat bagi Cinta.

"Cin, temenin kantin ya." Siska menyenggol lengan Cinta.

"Hmmm." Cinta hanya menjawab sekadarnya karena memang mulutnya sedang penuh.

"Deh ayo." Ajak Cinta seraya membereskan kotak bekalnya.

"Cintaaaaa,"

"Ka Cintaa,"

"Halo Cintaa,"

Semua sapaan yang didapat Cinta saat berjalan dikoridor hanya dibalas senyuman dan gumaman kecil dari Cinta.

"Lo makan dikantin apa dikelas?" Cinta bertanya saat sudah sampai dikantin.

"Dimanayaaa," Jawab Siska sedang berpikir.

"Dikelas aja disini penuh." Cinta memberi saran.

"Iyadeh." Jawab Siska seraya melenggang untuk segera membeli makanan.

JalanWo Geschichten leben. Entdecke jetzt