-

1.2K 47 4
                                        

Waktu itu aku masih kukuh dengan pendirianku.
Waktu itu dinding es ku masih kuat untuk dihancurkan.
Namun, pertahanan hatiku goyah.

Aku sendiri bingung ingin menuliskan apa.
Ketika aku ingin mengatakan secara langsung, hatiku masih belum siap. Hatiku belum kembali utuh, untuk dihancurkan lagi. Seranganmu terlalu mengejutkan. Aku hanya bisa menulisnya disini. Dengan menulisnya pun, aku masih tidak berani menyampaikan padamu. Terserah ingin kau sebut aku apa, pengecut? Mungkin tak apa.

Apa yang akan ku keluhkan, karena pada akhirnya kalaupun aku mengeluh kamu tak akan tahu. Jika ditanya menyesal atau tidak jawabanku tidak. Yahhh... sama seperti lainnya, aku tidak menyesal. Hanya kecewa saja, kenapa? Entahlah. Aku terlalu pengecut untuk menuliskannya.

Kamu mau tahu, memang tidak setiap menit aku mengingatmu, karena sebucin-bucinnya aku, aku masih ingat lainnya. Untuk makan, minum, dan tidur. Aku tidak alay seperti remaja yang baru mengenal cinta. Aku juga masih bisa hidup tanpa kamu kok, karena kamu bukan separuh jantungku. Semua masih berjalan normal, seperti aku dulu yang belum mengenalmu. Tapi rasanya kosong...
Apa yang kosong? Bagaimana bisa? Kenapa begitu?

Sudahlah, jangan terlalu kamu pikirkan tulisanku. Mungkin ini hanya sebagian rinduku. Hehehe maaf aku rindu. Lagi. Yang kesekian kali. Tenang saja kamu tak perlu membalas, aku hanya memberi tahu, tidak meminta balasan.

Sudah ya, aku sudah tidak tahan untuk tidur lagi. Sekarang jelas kan? Aku masih mengantuk dan masih bisa tidur. Tapi entah 9 menit lagi mungkin akan mengingatmu. Lagi.

Ahhh apa-apaan ini, kenapa aku menulis sepanjang ini hanya karena rindu tapi tak kuberikan padamu?
Lagi - lagi jawabanku. Entahlah.

Yang tak kan sampai,
Suratku untukmu

Apa-apaan ini? Selarut ini dan aku masih membuat surat abal-abal ini untuk dia? Dia saja entahlah. Terlalu banyak entahlah malam ini. Terlalu banyak keluhan malam ini. Terlalu banyak rindu yang kusimpan. Astaga sejak kapan aku begini, ah memang sudah dari dulu sejak dia.....


Gadis itu lagi lagi dan lagi mengeluh atas tindakan yang dia ambil. Bagaimana tidak mengeluh, hampir setiap hari dia selalu menulis surat tapi selalu sama saja nasib dari surat itu. Terbuang di malam harinya, esoknya dia ambil dari tempat sampah, disimpan di rak buku ditumpuk dengan surat yang lainnya.

Hei jangan salahkan kelabilannya, dia hanya remaja SMA yang mengalami patah hati. Apalagi hatinya masih rapuh dan belum melupakan seseorang yang pernah mengisi hatinya. Seseorang itu pergi, meninggalkan luka dan juga kenangan. Bila diputar kembali dia tidak ingin patah. Dia juga tidak ingin kecewa.

Beruntungnya dia bukan gadis SMA yang terkena virus separuh jiwaku, jadi hidupnya masih bisa berjalan normal seperti saat dia belum mengenal sosoknya.

Nyatanya, dia masih bisa makan dengan lahap, tidur dengan nyenyak, tidak menjadi alay dengan memosting kegalauan hatinya, masih bisa tertawa dengan humor yahh bisa dikatakan receh.

Dia gadis SMA yang tidak mencolok, tidak terlalu pandai karena dia tidak masuk kelas unggulan, bukan gadis yang sering jadi buah bibir guru karena kecerdasannya, bukan gadis yang terlalu cantik seperti standar masyarakat yang sampai sekarang masih menjadi patokan, dia juga bukan anak dari konglomerat. Dia hanya gadis SMA dengan semua apa adanya. Gadis kebanyakan namun tanpa kealay-an remaja patah hati, hanya remaja yang tidak neko-neko.













NiatNiatNiat kalo ga Niat kudu Niat.
#littlebees #littlebeeschallenge #littlebees1

Yang Tak TersampaikanBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin