Cewek itu mengerutkan keningnya, tubuhnya seolah terpaku pada bumi, beberapa detik yang lalu cowok di hadapannya itu baru mengungkapkan kata-kata yang membuat hatinya begitu hancur, membuat perasaan berkecamuk tak jelas.
“Maksud kamu apa Ham?”
"Ya aku mau kita putus."
"Alasannya?"
Cowok bertubuh jangkung itu menggedikan bahunya, "gue udah gak ada perasaan apapun ke lo, jadi ya maaf aja, gue udah gak bisa lanjutin hubungan ini."
Tiba-tiba saja mata gadis itu berkaca-kaca, hatinya begitu sakit seperti di remas, kakinya lemas seperti tak mampu menopang anggota tubuhnya. Namun sekuat tenaga gadis itu menahan air tersebut agar tidak menetes, sebaliknya ia justru tersenyum tipis di hadapan lelaki itu.
"Makasih atas semuanya, termasuk makasih juga karena Lo udah kasih tau siapa diri Lo yang sebenernya!" Setelah mengucapkan kalimat tersebut, gadis itu membalikan badan lalu berjalan menjauh dari posisi cowok tersebut, bersamaan dengan air mata yang mengalir di pipi.
Sementara cowok itu menggedikan bahunya seolah tak merasa berbuat kesalahan apapun.
***
Gadis bernama Elina itu berlari ke kelasnya, berniat ingin mencari Nisa barangkali ia ada di sana. Namun nihil, di tempat duduk Nisa, hanya ada tas berwarna pink disana, namun si pemilik entah ada dimana.
Padahal Elina sedang butuh teman curhat untuk menceritakan kisah cintanya dengan Ilham yang sudah kandas. Namun entah kemana sahabatnya itu malah menghilang.
Elina jadi keki sendiri.
Beberapa detik ia mendapat ide ingin ke kantin atau ke perpustakaan untuk mencari Nisa, namun tiba-tiba saja suara bel tanda masuk sekolah sudah berdering. Membuat Elina mengurungkan niatnya untuk mencari Nisa.
***
Jam pelajaran Bu Nunu terasa begitu membosankan, Elina bosan sekali, padahal Bu Nunu menyuruh muridnya untuk mencatat materi yang sudah di jelaskan di papan tulis, namun gadis itu dari tadi hanya mencoret-coret atau menggambar abstrak di buku tulisnya.
Elina mendesah pelan, sebelum tiba-tiba ada ide melesat di pikirannya. Gadis itu bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan ke depan kelas.
"Bu, saya pamit ke toilet ya Bu."
"Silahkan, tapi segera balik, jangan kaya yang kemarin-kemarin!"
"Siap Bu." Jawab Elina dengan tangan yang di letakan di dahi seperti sedang menghormati bendera merah putih. Sedangkan Bu Nunu memutar bola matanya jengah.
Tanpa memperdulikan reaksi guru killer tersebut, Elina langsung nyelonong saja keluar kelas.
Padahal sebenarya tujuan gadis itu bukan untuk ke toilet, melainkan ke basemen. Tempat favorit semua siswa yang suka bolos sekolah saat jam pelajaran, sebab di sana tidak ada CCTV yang mengintai gerak-gerik mereka. Demi mensejahterakan otaknya, gadis itu memutuskan untuk menenangkan diri disana.
Sebenarnya Elina bukan tipe siswi yang suka bolos, namun hari ini entah kenapa gara-gara putusnya hubungan Elina dengan Ilham, membuat gadis itu jadi sinting dan munculah ide gila tersebut.
Elina duduk selonjoran di basemen, pikirannya melayang kemana-mana, hubungannya dengan Ilham sudah kandas di tambah Nisa yang tiba-tiba menghilang, membuat Elina semakin sakit jiwa.
"Sialan, sialan, sialan!" Umpat gadis itu. "Kenapa sih gue harus pacaran sama cowok brengsek kaya dia sih!"
Ia membayangkan kehidupan kedepannya, entah bagaimana Elina bisa menjalani kehidupannya kedepan. Jika sedang dalam situasi seperti ini, rasanya tak ada lagi di dunia ini akan jauh lebih baik ketimbang menjalani kehidupan yang membuatnya menderita.
Namun, mati tak semudah itu brother!
Elina menarik napasnya panjang-panjang, kemudian menghembuskan kasar.
Cewek berkuncir kuda itu berniat ke warung yang terletak di belakang sekolah, namanya warung Pak Eko, disana biasanya tempat tongkrongan anak cowok-cowok, bahkan sama sekali tidak ada anak cewek yang berani kesana. Dan jika saja ada siswi yang berani kesana, mereka harus siap-siap saja merelakan uang sebesar seribu sampai dua ribu untuk di sedekahkan kepada anak-anak cowok tukang palak.
Karena di warung Pak Eko tidak hanya siswa dari SMA Stern Nation saja, namun juga dari beberapa sekolah lain yang juga bolos sekolah demi nongkrong di warung.
Namun sebelum gadis itu melangkah jauh, matanya melihat ada bayangan dua orang dari balik lemari tinggi. Bisa Elina pastikan, mereka adalah siswa yang juga bolos sekolah saat jam pelajaran.
Ide jahil tiba-tiba melesat dalam pikiran Elina, ia harus akting dan memperagakan gaya Bu Nunu, Elina menegapkan badannya lalu berdehem.
"Hayo ketahuan!" Seru cewek itu dengan tawa yang pecah, sebelum akhirnya tawa itu terhenti bersamaan dengan matanya membulat sempurna kala tiga pasang mata mereka bertemu, dua orang yang tak asing lagi dalam kehidupan Elina.
Pasangan itu saling berpegangan tangan, seolah tak akan ada yang bisa memisahkan mereka berdua.
Otak cewek itu masih berusaha mencerna hal yang terjadi di hadapannya, keningnya bertautan, sementara dua sejoli di hadapannya nampak kikuk satu sama lain.
"Ka--kalian," ucap Elina terbata-bata, bibir gadis itu terasa kelu mengucapkan kata-kata yang sudah di rancang oleh otaknya.
"Ngapain Lo disini?" Kali ini suara itu muncul dari bibir Ilham, cewek di sebelahnya itu memundurkan langkahnya dan berdiri di belakang tubuh jangkung Ilham.
"Seharusnya gue yang nanya, ngapain kalian disini?"
Cowok itu memutar bola matanya sebelum kembali berucap, "ya terserah kita lah mau ngapain!"
"Dan lo---" kali ini Elina beralih pada Nisa yang berdiri di belakang Ilham seolah meminta perlindungan dari cowok itu.
"Gue---" Nisa nampak bingung ingin menjawab.
"Dia sekarang cewek gue," sahut Ilham yang membuat tubuh Elina sontan membeku. Mata gadis itu kembali berkaca-kaca, namun sesegera mungkin ia menetralkan mimik wajahnya.
"Oh, selamat ya," ucap Elina sembari memasang senyum tipis yang di buat-buat. Sementara Nisa masih tetap berdiri di belakang tubuh Ilham, tak berani mengucapkan sepatah katapun.
"Dan lo, yang katanya sahabat terbaik gue," cewek itu menunjuk Nisa, "gue gak nyangka Nis, kalo Lo bakal sebrengsek ini."
Nada suara Elina biasa saja, bahkan nyaris halus, namun entah kenapa kata-kata itu sanggup membuat Nisa terpaku. Ada perasaan bersalah, namun rasa sukanya terhadap Ilham jauh lebih besar ketimbang perasaan bersalahnya.
Dulu, Nisa adalah tempat Elina curhat tentang apapun, termasuk tentang hubungannya dengan Ilham, Elina mempercayakan semua rahasianya pada Nisa, namun hari ini, cewek itu justru mengkhianati kepercayaan yang sudah Elina berikan.
Dengan gamblangnya, mereka berani mengakui kalau mereka telah berpacaran di belakang Elina, mereka sudah mengkhianati perasaan Elina, rasa sakit setelah diputuskan oleh Ilham rasanya tidak jauh lebih sakit ketimbang di khianati oleh Nisa, sahabatnya sendiri.
Rasanya Elina akan jauh lebih baik jika hanya di tinggal Ilham, namun sekarang ia juga harus menerima kenyataan bahwa sahabat yang sangat ia percaya ternyata justru mengkhianatinya dan memilih pergi meninggalkannya demi seorang cowok.
Susah payah Elina melengkungkan bibirnya menciptakan senyum, gadis itu menatap keduanya dengan tatapan bersahabat, lalu ia menepuk bahu Nisa pelan.
"Sebagai sahabat lo, gue turut bahagia, gue juga gak nyesel kok udah menyedekahkan seorang brengsek untuk seorang pengkhianat kaya lo."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut sembari tersenyum miring, Elina berjalan menjauh dari mereka, meninggalkan Nisa dan Ilham yang masih berdiri kaku seperti patung.
YOU ARE READING
Pelangi Di Kegelapan
Teen Fiction© copyright 2019 Untuk pertama kalinya hati yang dijaga sejak lama untuk tidak terluka harus hancur begitu saja oleh rasa kecewa. Hubungan yang tak bisa dilanjutkan karena perasaan yang sudah hilang adalah alasan mutlak untuk seorang Elina. Belum ke...
