Mata Monik terbuka, setelah semalaman ia tertidur lelap bersama setumpuk kertas not balok di atas ranjangnya. Sayup-sayup terdengar sebuah lagu yang tak lagi asing baginya, tanpa ia sadari bibirnya yang mungil bersenandung ria, “We wish you Merry Christmas, we wish you Merry Christmas, we wish you Merry Christmas and Happy New Year!” Suaranya cukup merdu, namun terasa berat karena baru bangun tidur. Sejak kecil Monik menyukai musik. Ayah selalu menyanyikannya lagu-lagu daerah dan lagu-lagu wajib nasional untuk menidurkan Monik. Oleh karena itu, telinganya yang mungil sangat akrab dengan lantunan nada-nada. Kecintaannya terhadap musik kian memuncak setelah ia masuk SMA. Ia bertemu dengan seorang guru musik, yaitu Pak Dian yang mengajarinya bermain biola.
***
Gubraaaaak! Tiba-tiba pintu terbuka membuat jantung Monik berpacu sangat cepat. Dari balik pintu dilihatnya sesosok pria tampan dengan tawa menghiasi wajahnya. “Kaget ya????? Makanya bangun, udah siang nih,” kata laki-laki itu kepada Monik. “Ah! Mas Yohan nyebelin! Kan Monik jadi kaget, nanti kalau Monik is dead karena jantungan Mas Yohan gak punya adik cantik lagi lho…,” balas Monik kepada laki-laki yang menjadi cinta keduanya setelah Ayah. Monik memang sangat manja dengan Mas Yohan, sebagai seorang kakak, Mas Yohan sangat menyayangi Monik. Pagi itu, seketika rumah sederhana yang ia tinggali bersama kakak dan kedua orang tuanya menjadi ramai dengan gelak tawa mereka berdua.
***
“Yohan, ajak adikmu turun. Sarapannya sudah siap,” teriak ibu dari lantai bawah. Pagi itu ibu memasak sup kacang merah kesukaan Monik dan Mas Yohan. Cuaca di luar sedang mendung, belakangan ini hujan sering turun membasahi kota Yogyakarta. Maklum saja, sekarang sudah memasuki bulan Desember, saatnya musim hujan datang. Hari itu adalah hari Minggu, kendati demikian, ayah Monik tetap tidak libur bekerja. Profesi sebagai pemadam kebakaran membuatnya harus siap siaga di kantor.
***
“Bu, sebentar lagi kan hari Natal…,” ucap Monik membuka pembicaraan di meja makan. “Iya…,” jawab ibu singkat sembari menuangkan sup ke dalam mangkuk. Ibu sering memasak sup kacang merah ketika musim hujan, masakan ibu tiada duanya di dunia ini, begitulah Monik sering menggoda ibu. “Terus kenapa???” tanya ibu lagi kepada anak gadisnya yang tak lekas menjawab pertanyaannya. “Ummmm…, Ayah udah gajian belum? Ayah nanti dapat THR nggak ya?” katanya sembari melirik Mas Yohan yang cuek saja karena asyik menikmati sarapan. “Ibu nggak tahu…, memang ada apa sayang?? Monik minta baju Natal??” sahut ibu sembari tersenyum. “Nia, Manda, dan Gisel sudah punya biola lho Bu…, tahun depan kami akan mengadakan konser musik bersama Pak Dian.” Monik menjelaskan dengan ragu-ragu. “Hmm…, kalau boleh, hadiah Natal tahun ini aku minta dibelikan biola ya Bu!” Akhirnya Monik menyampaikan apa yang menjadi maksud hatinya sebulan belakangan ini. Seketika suasana di sekitar meja makan menjadi hening. Mas Yohan tidak bergeming dari sup kacang merah buatan ibu. Begitupun dengan ibu, ibu mengangkat cangkir yang berisi teh panas kesukaannya, kemudian ia berkata, “Nanti Ibu bicarakan dengan Ayah ya sayang….”
***
Hujan deras kembali mengguyur kota itu, senada dengan air mata yang mengalir di pipi ibu. Di dalam kamar terdengar suara ayah dan ibu berbincang-bincang dengan nada agak keras. “Iya aku tahu, tapi biola itu tidak murah harganya! Uang tabungan kita untuk membayar uang kuliah Yohan semester depan bukan?” seru ayah dengan nada agak tinggi. “Iya Mas, tapi Monik sudah lama menginginkan biola, teman-temannya sudah punya semua… aku kasihan melihat anak kita selalu tertinggal dengan teman-temannya…,” balas ibu dengan sedikit isakan tangis yang terdengar di telinga Mas Yohan. “Sudahlah, besok kita pikirkan lagi bagaimana caranya…, nanti anak-anak terbangun,” terdegar suara ayah mengakhiri percakapan.
***
Malam itu suara petir membuat Mas Yohan terbangun dan tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan ayah dan ibu. Keluarga Monik memang keluarga yang cukup sederhana. Ibu harus pintar-pintar mengelola gaji ayah agar mencukupi kebutuhan rumah tangga dan membiayai sekolah kedua anaknya. “Halo, gimana Bro?” terdengar suara dari telepon genggam Mas Yohan. “Halo, Bro…, gue jadi terima tawaran loe yang tempo hari ya…,” balas Mas Yohan dengan suara lirih, ia tak ingin seisi rumah terbangun. Malam itu, ia memutuskan untuk melakukan sesuatu.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Biola Tanda Cinta
ContoMalam itu suara petir membuat Mas Yohan terbangun dan tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan ayah dan ibu. Keluarga Monik memang keluarga yang cukup sederhana. Ibu harus pintar-pintar mengelola gaji ayah agar mencukupi kebutuhan rumah tangga dan mem...
