Part 24

6.6K 208 2
                                    

Saat aku bertemu denganmu, rasanya mulut ini tak sanggup mengeluarkan kata kata.
Rosyputri4





Eccha langsung menangis sejadi jadinya. Ia tak menyangka bahwa ini akhir dari hubungannya. Walaupun Ilham tak pernah memutuskannya, tapi apa arti tulisan di surat itu?,  Bukankah itu sama saja Ilham memang memutus hubungan dengan Eccha secara halus?.

Bang Reza yg melihat adeknya nangis pun sedikit bingung. Pasalnya ia tak tahu apa yg membuatnya menangis. Namun, ia sedikit menebak bahwa itu semua dari Ilham. Ia pun langsung merebut surat yg berada di genggaman Eccha.

Dibacanya dengan  seksama, sampai ia tahu apa arti dari kata kata Ilham sebelum berangkat ke London.

"Sudahlah, buat apa nangis?!" ucap Reza menenangkan. Bukannya berhenti menangis, Eccha makin keras dalam menangis.

"A a aku sa yang ka Ilham bang hiks hiks" jawabnya masih dalam tangisan.

"Ilham kan pergi buat belajar. Apa yg harus disedihkan. Lagian lo sendirikan yg gak mau LDR? "

Eccha pun berhenti menangis "iya bang"

"Ya itu resikonya. Lagian nanti juga Ilham bakal balik" bijak

"Tapi aku sayang ka Ilham bang!" ia pun menangis lagi.

"Dah deh. Lo belajar yg rajin biar bisa ketemu sama Ilham! " oke,  apa maksud dari perkataan tersebut?

Eccha pun langsung lari ke kamarnya dan masih menangis. Membuka dan menutup pintu kamar dengan kasar. Langsung naik ke atas kasur dan menutup semua bagian tubuhnya selimut tebal berwarna biru muda.

Ia masih menangis. Seakan akan sekarang ia menjadi seorang peramal. Meramal semua kejadian yg akan terjadi pada dirinya. Padahal belum tentu akan terjadi.

Suara pintu terbuka pun terdengar. Namun, Eccha masih enggan membuka selimutnya.

"Dek, ini hadiahnya gue taroh mana?" tanya Reza pada Eccha.

"Taroh meja belajar aja bang" jawab Eccha dengan suara sendunya.

Reza pun langsung meletakannya disana dan langsung keluar kamar.

Makasih ham, lo udah bikin adek gue jadi wanita yg kuat batin Reza seraya meninggalkan kamar Eccha.

*
Liburan kenaikan kelas hanya berjalan dua minggu. Selama itu pun Eccha bolak balik rumah sakit karena jantungnya kembali melemah. Namun, kini telah membaik.

Selama liburan pula, waktu itu dihabiskan Eccha hanya untuk membaca. Membaca semua jenis buku termasuk buku pelajaran dan novel pastinya.

Apakan Eccha telah melupakan Ilham? Ah bodoh.
Hubungan selama dua tahun akan lebih sulit dilupakan jika dengan waktu dua minggu. Lo pikir itu hubungan dua hari yg bisa dilupakan dalam dua jam!.

Jika Eccha sedang mengingat Ilham, ia hanya memutar lagu Perfect -One Direction yg pernah dinyanyikan Ilham untuknya. Diselingi dengan membaca novel.

Sesekali dadanya terasa sesak dan nafasnya berat ketika ia mengingat semua perjalanan hidupnya dengan Ilham. Dari ia ditembak Ilham sampai ia menerima surat dari Ilham. Semua berjalan segitu saja seperti penayangan film di bioskop. Sayangnya ia tak tahu judul apa yg pantas ia berikan untuk perjalanan hidupnya ini.

Hari ini hari pertamanya masuk sekolah lagi dan resmi menjadi anak kelas XII atau lebih sering  dikenal sebagai kaka kelas. Lagi lagi ia sekelas dengan Vina. Dan sialnya, ia pun sekelas lagi dengan Alvin. Ah sialan! Tapi tenang saja, karena semenjak menerima surat Eccha menjadi cewe yg sangat jutek dan irit bicara. Bukannya itu dari dulu ya?

"Hay Cha, gimana kabar lo? Gue duduk bareng lo lagi ya?" sapa Vina dengan semangat paginya!

Eccha yg sedang membaca buku pelajaran pun hanya menatap Vina sekilas tanpa berkata kata. Lalu ia kembali fokus pada buku dan pulpennya. Apakah Vina tahu kisahnya? Tak. Kali ini ia tak mau memberi tahu kepada siapa pun. Yg tahu hanyalah keluarganya. Entah opini apa yg akan mereka keluarkan tentangnya dan Ilham.

"Sialan gue dicuekin! Lo ngerjain apa si? Perasaan baru pertama masuk. Tapi lo udah kek murid berbulan bulan masuk sekolah dan dapet tugas setumpuk" celoteh Vina tanpa henti.

"Diem!!" sentak Eccha dengan nada tegas dan menatap Vina tajam.

"Eits galak amat. Lo kesambet apa jadi kek gini? Selama liburan lo mainnya ke kuburan yak?" tanyanya kembali.

Tanpa basa basi Eccha pun menutup bukunya dengan kasar. Pagi ini sangatlah sial baginya. Vina baru saja berhasil membuat mood nya memburuk.

Eccha langsung berjalan dengan kesalnya meninggalkan Vina dengan segudang pertanyaannya. Kini ia bukanlah tipe anak yg suka bercanda atau membicarakan sesuatu yg unfaedah.

Kakinya mengarahkannya pada taman belakang sekolah. Taman yg masih seperti dulu. Hanya saja sekarang tanamannya makin banyak. Ia menjatuhkan dirinya pada salah satu kursi. Menikmati betapa indah dan sejuknya pagi ini. Embun pun masih bisa dirasakan. Perlahan ia mengalir dari pucuk daun dan akhirnya jatuh ke tanah.

Berhasil!  Bayang itu kembali datang. Dikala hatinya ingin tenang, namun kembali gagal. Entah mengapa bayangan itu selalu saja menghantuinya. Bayangan dimana ia selalu merasa nyaman bersama Ilham.

Lolos! Air matanya pun lolos dari pelupuk matanya. Namun, bibirnya masih setia ia tutup. Ia tak mau ada orang yg tau akan isakan tangisnya. Baginya untuk pagi ini, biarkan rindunya mengalir bersama embun pagi. Dadanya pun terasa sesak kembali. Namun, ia berusaha mengatur nafasnya.

"Hay, apa kabar Cha? "  suara itu. Suara yg selama ini Eccha hindari. Bukannya ia takut, hanya saja ia malas menghadapi makhluk yg satu ini.




:-:-:-:-:

Woee. Comeback nya kecepetennya. Mumpung lagi mood.

Happy Reading
Thanks for readers
Next part

Love You KETOS  [Completed] ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang