Suara dentingan sendok mendominasi ruang makan panti asuhan Mentari. Tak ada yang berbicara sama sekali, mereka sama-sama hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, wanita paruh baya itu membuka pembicaraan.
"Bagaimana sekolahmu Nak ?" Ucapnya. Tanpa menyebutkan nama seseorang yang ia panggil.
Gadis yang merasa dipanggil menatap kepada Ibunya. Tapi ia tak langsung menjawab, ia melihat sekilas saudara perempuannya yang masih menunduk dan hanya memainkan sendok.
" Bagaimana sekolahmu Shey ?" Tanya perempuan itu lagi. Gadis yang bernama Sheyra itu menoleh kepada ibunya.
" Baik bun "
" Kalau Keyza bagaimana ? " Wanita paruh baya itu bertanya kepada anak perempuan yang sedang memainkan sendoknya.
" Baik " Jawabnya. Tangannya masih saja memainkan sendok, bahkan makanannya baru ia makan beberapa suap saja.
"Makanannya jangan buat mainan,dimakan !" Tegur Bunda. Keyza meletakkan sendoknya sedikit kasar, hingga menimbulkan suara aneh. Ia menggeser tempat duduknya dan berdiri. Wajahnya masam, tak ada sedikit keceriaan yang terpancar dari wajahnya.
"Udah kenyang" Ucapnya lantas pergi meninggalkan kerutan di dahi bunda dan saudara-saudaranya.
" Keyza kenapa ?" Tanya Bunda kepada Sheyra. Yang ditanya hanya menggeleng, merasa tak pernah mengetahui masalah saudara perempuannya.
"Ada yang tau masalah Kak Keyza nak ?" Bunda bertanya kepada adik-adik yang juga sedang menyantap makanannya. Mereka semua menggeleng.
" Gak papa bun, biar aku aja yang tanya nanti."
🌻🌻🌻
" Kenapa sih gue gak diadopsi aja sama orang kaya, kan gue jadi gak malu lagi sama temen-temen gue" Dengan gampangnya gadis itu berucap. Ia tak mengetahui bagaimana perasaan Bunda jika mendengar ucapan anak angkatnya ini. Jangan sampai itu terjadi.
" Lo seharusnya bersikap dewasa Key. Jangan buat adik-adik jadi meniru sikap lo nanti" Bentak Sheyra di depan gadis yang sedang duduk di atas tempat tidur itu.
" Apa peduli gue, disini gue cuma anak angkat doang " Bentaknya. Sesekali ia mengusap cairan bening yang menetes dari pelupuk matanya.
"Gue juga, semua yang ada disini juga sama derajatnya dengan lo Key" Nada suara Sheyra agak ia tinggikan lagi. Walaupun, usianya masih lebih muda dibanding Keyza, tapi ia tak pernah takut memarahi bahkan membentaknya. Itu sudah menjadi haknya sebagai saudara dalam menghadapi kakaknya yang bersikap kekanak-kanakan ini.
" Gue bosen, kapan orang-orang berhenti merendahkan kita ? " Tubuhnya merosot ke lantai. Ia memeluk lututnya dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Sheyra ikut duduk di samping Keyza. Ia memeluk gadis itu seperti kakaknya sendiri.
" Lo anak tertua kedua di panti setelah Kak Fany, jadi lo harus lebih bersikap dewasa. " Ucap Sheyra seraya mengelus rambut hitam legam milik Keyza.
" Thanks, lo selalu ada buat gue Shey" Kedua gadis itu berpelukan hangat, menyalurkan rasa kasih sayangnya layaknya adik kakak.
Kehangatan itu bercampur hawa senja, mengantarkan mentari untuk kembali ke peraduannya. Sheyra, tak pernah dendam dan marah terhadap kehidupan yang ia jalani. Bunda, memperlakukannya selayaknya anaknya sendiri. Bahkan, semua kebutuhan mereka sudah terpenuhi. Sangat terpenuhi. Tetapi, kenapa masih saja Keyza mengeluhkan hal tersebut, seharusnya ia bisa menghadapi perbedaan derajat itu.
🌻🌻🌻
Matahari telah menyambut ramah Panti Asuhan Mentari. Sama seperti namanya, panti asuhan itu selalu terlihat cerah dan tak pernah ada masalah di dalamnya.
YOU ARE READING
Sun Flowers
Teen Fiction" I love you Shey" Sheyra terdiam seribu bahasa, lututnya lemas, dadanya sesak, seakan tidak ada pasokan oksigen di sini. Walaupun hanya sebuah bisikan, namun kalimat itu terdengar jelas di telinganya. Jangan lupa vote yha:D And follow Happy reading...
