H - 1

23 1 0
                                        

"Jika menjadi diri sendiri kurang nyaman mengapa lebih memilih menjadi orang lain? daripada mencari posisi nyaman pada diri sendiri?"


Rabu, 29 Agustus 2018

Suara alarm pembising telinga berdering, berkolaborasi dengan mama Siben membangunkan dari lelap tidurnya.

"Bangun! udah siang, baru jadi mahasiswa berangkatnya udah telat!". Mama Siben dengan nada tinggi.

"Hoaaammmm, iya mah lima menit lagi". Penguapan setengah sadar.

"Nggak ada lima menit lima menitan, kamar mandinya mau dipake!" mama perempuan cantik, paruh baya, galak, sering marah, tapi lebih sering memaafkan. tujuan sering memarahi Siben karena beliau sayang dengan anak pertamanya yang sedikit bandel.

"Iyaa ini otw". Siben beranjak dari Medan gravitasi terbesar, bergegas meninggalkan kemageran, berjalan tidak stabil mengambil handuk sambil merem.

Seperti mahasiswa pada umumnya, kemeja, celana dan sepatunya bebas berwarna. balas dendam pada waktu sekolah SMK dituntut guru BK untuk berpakaian rapih, baju dimasukan, paling ngeselin sepatu wajib hitam.

---

Terbakar panas terik, Siben tak gentar untuk melangkah dari warung bu Surr, tempat favorit tongkrongan anak komunikasi, tidak salah lagi jurusan Siben beserta temanya yaitu Ibad, Ewel, Boni, Somad, Arya, Aldi, Redy dan Luki.
menuju kosan Desi yang berjarak 200 meter.

Karena pagi tadi mendapat pesan whatsapp beserta foto dari Naya, teman baik Siben dan peduli yang mau mengenalkan dengan temannya.

Sesampainya gerbang depan kos, Siben langsung bertemu dengan Naya sedang duduk santai sembari meniup bakso yang panas dalam mangkok bergambar ayam, di latar kos sebagai tepat berteduh dari panasnya dunia dan merasakan angin sepoi-sepoi seusai mata kuliah.

"Ben, nanti kamu kalau pulang sekalian nganter Gina pulang ya!". Celetuk Naya secara tiba-tiba tanpa basa basi kepada Siben dikeramaian latar kos.

"Gamau, belum juga liat, nomer whatsapp nya aja belum sampai". Siben gerogi.

"Gitu aja gerogi, gimana mau ngajak kenalan? Orangnya udah mau kesini nih". Naila ragu namun memaksakan pertemuan Gina dengan Siben.

Bergegas cabut dari kosan menghindari Gina yang akan datang tak lama lagi, memakai sepatu dan kembali ke warung tongkrongan semula karena panas dingin belum siap bertemu.

Menjelang sore nampak matahari merosot kearah barat tak terasa senja mulai packing untuk menampakan keindahannya.

Notif hp nampak muncul nama Naya mengirim kontak seseorang dengan pesan.

"langsung kamu chat bilang aja temennya Naya".

Betapa kagetnya Siben membaca nama kontak tersebut. "Gina" tertera dengan jelas lengkap dengan foto profil, foto yang sama dikirim Naya pagi tadi.

Tanpa pikir panjang Siben nekat mengirim pesan sekaligus memanggil untuk pertamanya.

"Gina".

"Iya, ini siapa?".

"Ini temennya Naya".

"Oh iya, Siben kan?".

"Iya ini Siben".

"Naya udah cerita tentang kamu tadi pas di kosan Desi, kata dia kamu langsung cabut pas aku udah mau sampai kos, padahal aku disuruh Naya pulang sama kamu".

"Hehe maaf tadi udah ditunggu temen-temen di warung".

"Iya gapapa, lagian juga belum kenalan udah disuruh-suruh pulang bareng, dasar Naya hehe".

Chatingan ringan basa-basi dan ambisi Siben baru dimulai. Tak ada balasan chat untuk Gina, dalam hati Siben menggerutu

"Sia-sia jika bahan obrolanku habis tanpa bertemu dan tidak secara langsung".

---

Basa-basi online selanjutnya jam 7 malam, sehabis makan Siben bermodus menanyakan perihal acara seminar yang akan diadakan besok hari di kampusnya.

"Gina".

"Iya, gimana ben?".

"Besok seminar berangkat jam berapa?".

"Jam 7, tapi biasa lah bakalan jam karet hehe".

"Hehe rada telat gapapa kan?".

"Jangan dong, jadi orang harus disiplin tau".

"Hehe iya deh iya, Ngomong-ngomong kamu kalo berangkat sama siapa na?".

"Gatau nih besok mau berangkat sama siapa? sama kamu ya?".

Terheran-heran tak percaya Siben langsung diajak berangkat bareng sama Gina, yang ada di fikiran Siben saat itu dirinya harus keren padahal tampang Siben ya biasa-biasa saja, wangi, jangan garing, dan yang pasti optimis akan menjadi pilihan yang terakhir Siben, maklum udah kelamaan menyandang gelar jomblo.

Terakhir Siben suka sama cewek waktu kelas 3 SMK, beda jurusan, berkulit putih, sipit nggak sipit-sipit amat dan yang paling disukai Siben adalah selalu menyapa diiringi senyum manis ketika bertemu, walau singkat. kisahnya nahas kedahuluan cowok yang tak tau darimana datangnya tiba-tiba jadi pacar doi, sampai akhirnya terperangkap friendzone.

Belajar dari kisah terakhirnya sebelum menjadi mahasiswa baru Siben berambisi ingin dikenalkan temannya saja, karena jika berkenalan sendiri secara langsung bakal kedahuluan seperti yang sudah-sudah.
Momen berpihak dengan yang Siben ambisikan, seusai menjalani ospek bertemu dengan teman-teman yang peduli akan kejombloan Siben dan akhirnya menjodohkan.

Cuma Satu SemesterOpowieści tętniące życiem. Odkryj je teraz