Hei.
Pernahkah kalian mendengar permainan piano? Alunan nada yang indah, membentuk sebuah harmoni yang saling melengkapi. Harmoni itu sendiri merupakan ekspresi hati dari sang pianis. Membuat para pendengar terbuai harmoni yang menenangkan tersebut. Terkadang, harmoni itu membawa kebahagiaan, membuat orang yang mendengarnya bergembira, bersuka cita, tertawa riang, memberikan sensasi hangat yang sangat nyaman. Terkadang juga membawa kegelisahan, membuat semua orang yang mendengarnya khawatir, takut, merasa depresi, memberikan sensasi dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Tapi. Tahukah kalian? Ada seseorang, yang permainannya tidak pernah dapat ditebak. Tidak memberikan kebahagiaan atau kegelisahan. Tidak membuat tertawa atau depresi. Tidak memberi sensasi sehangat mentari atau sedingin es. Namun, tunggu sampai kalian melihat langsung penampilannya. Kalian tidak akan merasakan apa-apa.
Pandangan kalian hanya tertuju pada dirinya. Kalian tidak akan dapat mengucapkan sepatah katapun. Sosoknya yang elok, kepiawaiannya dalam bermain, jemarinya yang menari dengan anggun di tuts piano, rambut bergelombangnya yang berwarna keemasan berkibar di punggungnya, sungguh pemandangan yang tidak akan kulupakan seumur hidupku.
Keanggunannya, keelokannya, diiringi alunan nada yang tak dapat kalian dengarkan di pelosok negeri manapun. Sungguh, bila aku dapat memilih, aku ingin tetap berada di sana. Terus menerus melihatnya bermain, melihat keelokannya, mendengar permainannya, setiap hari. Seakan aku dilahirkan untuk melihatnya bermain. Namun sayang sekali.
Waktuku bukanlah disana.
&&&
"Mamaaaa!!".
Terbuyarkan dari lamunanku, aku menoleh ke arah datangnya suara. Seorang gadis kecil dengan rambut merah gelap menghampiriku. Tubuhnya yang mungil sedikit kesulitan ketika ia hendak menaiki sofa tempatku duduk. Namun tidak masalah, ia akhirnya dapat naik daan duduk di sampingku. Mau bagaimanapun juga ia tetaplah putriku.
"Mama, mama! Fyra menemukan ini di ruangan Papa!" ia menunjukkan tumpukan kertas yang sedari tadi ia bawa. Kertas-kertas tersebut di jepit pada bagian pinggirnya, tersusun rapi, dan lembaran kertas yang bersih itu menunjukkan kalau itu merupakan dokumen penting.
"Sayang, kamu mengambil ini di ruangan Papa?" aku bertanya sambil mengelus rambutnya yang dikuncir dua.
"Iyaa! Di atas mejanya!" mendengarnya menjawab dengan riang, aku tidak dapat menhan senyumku.
"Apakah kamu sudah meminta izin pada Papa, Fyra?"
"Belum..." ia menundukkan kepalanya.
"itu artinya...?"
"Fyra harus meminta maaf pada Papa..." ekspresi wajahnya yang terlihat menyesal membuatku menghela napas. Fyra baru berumur 5 tahun, tapi dia menunjukkan bahwa ia sudah memiliki perasaan bertanggung jawab. Tidak kupungkiri ada perasaan bangga di dadaku.
"Baiklah, nanti kita akan bersama-sama minta maaf pada Papa. Jadi, apa yang membuat Fyra tertarik pada kertas ini?" aku bertanya sedari menunjuk kertas yang masih dipegang Fyra.
"Judulnya terdengar seperti dongeng! Fyra ingin Mama membacakannya untuk Fyra. Mama selalu pandai mendongeng" ia menyodorkan kertas tersebut sambil tersenyum lebar. Sementara aku sedikit heran, kenapa Papa menaruh naskah dongeng di atas meja kerjanya.
Aku menerima kertas yang diberikan Fyra kemudian membaca judulnya. Hanya dengan melihat judulnya saja aku tertegun. Tulisan tersebut seketika membuat dadaku terasa sesak. Seakan rasa sedih, bahagia, rindu, dan nostalgia tercampur aduk. Perasaan yang tidak dapat kudeskripsikan dengan kata-kata. Untuk beberapa saat, aku hanya berdiam menatap kertas-kertas di tanganku.
"Mama?" Fyra memiringkan kepalanya, berusaha melihat wajahku di balik tumpukan kertas. Aku hanya dapat tersenyum sambil mengelus kepalanya. Fyra sangat suka ketika kepalanya di elus. Ia menyandarkan kepalanya pada tangan kananku yang mengelus kepalanya. Begitu aku berhenti mengelusnya, ia langsung menatapku seakan membujukku untuk segera membacakan isi kertas tersebut.
"Baiklah, Mama akan membacakan isinya".
Fyra segera duduk dengan posisi siap. Menandakan ia sudah siap untuk mendengarku bercerita. Aku berdehem pelan, menyiapkan suaraku.
"Ini adalah sebuah kisah yang melegenda. Berbeda dengan legenda lain yang pada umumnya menceritakan sebuah kisah lampau beratus-ratus tahun yang lalu. Kisah ini baru saja terjadi, dan aku sendiri yang menyaksikannya. Kisah yang bahkan tidak diketahui orang lain. Tidak ada yang pernah tahu, kenyataan bahkan eksistensinya sendiri tidak diketahui orang banyak. Namun, bila ada orang yang mengetahuinya, maka berarti orang itu sendiri telah menyaksikan kisah tentang petualangan, perjuangan, persaingan, pertarungan, dan persahabatan itu, dengan mata kepalanya sendiri. Benar, ini adalah kisah yang melegenda, dan kisah ini berjudul Over Influence".
YOU ARE READING
Over Influence
Fantasy[Action, Mystery, & Adventure] Over Influence, sebuah kisah melegenda yang tidak dikenal banyak orang. Kisah yang kenyataan bahkan eksistensinya pun diragukan. Arya, seorang remaja berusia lima belas tahun, yang diasuh oleh pamannya. Kehidupannya de...
