Buang jauh-jauh pikiran kalian mengenai cinta yang membahagiakan. Bagi Rembulan Randu, cintanya itu omong kosong. Semua kebahagiaan yang ia rasakan itu palsu. Jujur, Randu benci Aksa Negara. Benci semua hal tentang cowok itu. Tapi untuk membenci, Ra...
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
Gadis dengan rambut panjang digelung membentuk gumpalan seperti sanggul itu sedari tadi terus berkutat dengan laptopnya. Matanya fokus menghadap layar yang penuh dengan rangkaian cerita yang ia tulis sendiri. Sesekali, gadis itu mengucek-ngucek kedua matanya yang terasa berat.
Malam ini, gadis yang kerap kali disapa Randu atau lebih tepatnya RembulanRanduitu berniat untuk maraton menulis cerita miliknya di salah satu aplikasi buku gratis mumpung besok hari minggu, katanya.
Gadis itu memang mempunyai tekad untuk menjadi seorang penulis. Padahal, sebelum ada niat seperti itu, dirinya sama sekali tidak ada hobi membaca cerita-cerita fiksi, apalagi buku ilmiah. Namun, semenjak ia mengenal aplikasi tersebut, ia menjadi sangat suka membaca beberapa genre cerita, misalnya romance, teenlit, atau beberapa puisi serta sajak-sajak lainnya. Bahkan, gadis itu mengoleksi puluhan novel dikamarnya. Yang paling ia suka yaitu novel bergenre teenlit.
Randu berdiri dari duduknya yang selama hampir lima jam itu. Kemudian berjalan menghampiri nakas, dan berniat mengambil segelas air mineral untuk ia minum. Namun, saat ia ingin membuka tutup gelas berbahan alumunium itu, tak sengaja benda itu terpeleset dari tangannya dan menciptakan suara dentingan yang membuat seseorang membuka knop pintu kamarnya.
Randu memekik kaget saat mendapati seorang laki-laki yang usianya lebih tua dari gadis itu masuk kedalam kamarnya.
"Kebiasaan lo! Kalau mau masuk kamar calon pacar Manu Rios, tuh, harus sopan! Ketuk pintu dulu kek!" ketus Randu makin tidak suka dengan kebiasaan Kakak laki-lakinya yang selalu bersikap semaunya.
"Gue nanya, kenapa lo belum tidur, bukan apa yang harus gue lakukan sebelum masuk ke kamar lo, wahai ratu halu!" ulang Rion dengan balasan ketus seperti adiknya tadi.
"Ya lo liatnya gue udah tidur apa belum?! Sana, ah! Ganggu konsentrasi gue aja lo!"
"Galak amat si cewek-cewek? Pantas aja nggak ada yang mau sama lo."
"Mending gue ngejomblo dari lahir, daripada yang bentukan kayak lo! Ganteng nggak, tapi sok-sokan jadi playboy. Rabun mata kali ya cewek yang mau jadi pacar lo itu,"
"Lo tuh yang rabun! Punya abang yang tampannya jelas melampaui batas kewajaran gini, malah selalu dinistain."
Randu melipat kedua tangannya di depan dada. Menampakan senyum smirk-Nya.
"Kalau nggak ada yang penting-penting amat, mending lo keluar. Gue mau lanjut maraton nulis cerita. Gara-gara liat muka lo, semua ide cemerlang gue ilang seketika. Sana-sana!" usir Randu mendorong tubuh atletis Kakaknya itu.
"Yakin, nih, seorang Orion Davanka yang tampannya melebihi kedalaman samudera Pasifik diusir sama adik laknat nya? Kapan lo berubah, sih, dek? Kali-kali baik kek sama gue, ajak tidur bareng lo gitu misalnya?"
Pikiran tidak waras Rion sepertinya mulai kumat. Membuat ekspresi Randu berubah dari marah menjadi ekspresi jijik.
"Demi si doi yang nggak peka-peka sama perasaan gue, kita udah bukan anak kecil lagi yang suka ditepok-tepok dulu bokongnya sebelum tidur sama Mama, Bang. Kita udah besar. Gila aja gue tidur bareng sama lo yang mata keranjang siapa ae doyan."
"Gue masih waras kali, Ndu. Ya kali gue nerkam adik gue sendiri."
Randu mendengus kesal. "Udahlah, Bang. Sana keluar! Gue mau lanjutin cer-"
"Tidur, Ndu, udah malam. Hari libur jangan lo jadikan alasan buat begadang. Masih ada waktu besok siang, kan? Sekarang istirahat!"
Abangnya itu memang menyebalkan, suka bertindak semaunya, dan cenderung pendiam saat ada masalah. Namun, semenyebalkan apapun Rion, bila sudah bersikap manis begini, Randu tidak bisa otak-atik lagi. Randu selalu luluh saat Kakaknya itu memperhatikannya. Disaat inilah Randu menyadari kenyataan bahwa memang sebenarnya Rion itu tampan. Namun, niat untuk memuji ketampanan abangnya itu selalu ia urungkan. Bisa kepedean tingkat dewa kalau abang laknat nya itu dipuji dirinya.
"Ya udah, iya." ucap Randu menurut dan segera menutup laptopnya. Kemudian cewek itu berbaring di ranjang dan segera menutup mata.
Rion keluar dari kamar adik perempuannya setelah mematikan lampu kamar tersebut. Rion kembali ke kamarnya dan ikut tidur karena hari semakin larut.
°°°
(Author's note) :
Hallo readers yang aku sayangi, cintai, dan dihormati! Selamatdatangdiceritakeduaku, ya! Semoga suka untukprolognya. Jangan lupa untuk Vote dan Comment, Terimakasih:)