I love my brother so much
Ira Pov
Gue dengan malas membuka kedua mata gue yang udah terpejam cukup lama. Jam alarm gue baru berdering lima menit yang lalu. Gue harus mulai terbiasa bangun pagi dan sholat subuh sendiri.
"Aaaaaaarrrhhhh......!! " keluh gue. Gue meraih ponsel gue diatas meja, percaya gak percaya hampir setiap orang kalo bangun tidur itu yang dicari adalah benda kotak dan pipih yang hampir setiap hari selalu di sentuh.
Gue beranjak dari kasur empuk gue yang menggoda gue untuk tidur lagi.
"Sholat ra.. Sholat! " kata gue sambil berjalan meninggalkan kamar.
Baru beberapa langkah dari kamar mata gue tertuju pada ruang keluarga nampak sebuah tv yang masih menyala dan sang penonton telah terlelap dan mimpi dicium bidadari mungkin.
Abang gue emang kerjaanya main tiap hari, katanya ketua genk perkumpulan pemuda yang suka ngaji dan setiap maljum di masjid baca Al-Quran. Pinter-pinternya bikin alasan yang gak mungkin gue percaya apalagi mama sama papa.
"Bangun! Woi! " Gue mengambil bantal di salahsatu sofa dan melemparnya pada Reon yang tengah terlelap.
"Lah malah pules nih orang, Bang Reon bangun! Subuh bang, katanya mau doa biar dapet pacar kayak Irene redvelvet."
"Udah subuh ya Ra? " tanya nya dengan mata masih terpejam.
"Udah buruan bangun aelah cepet, kita jamaah aja sholatnya! " gue menarik Reon hingga terjatuh dari sofa.
"Aduh kira-kira dong kalo mau narik gue, jadi remuk semua nih tulang gue! " protes Reon.
"Udah ayo wudhu! " sambungnya.
Gue menata sajadah di ruangan khusus untuk sholat. Sedangkan Reon yang baru selesai wudhu masih berdiri didepan pintu. Gue melempar sarung dan peci itu tepat mengenai mukanya.
"Bangooon!!! "
"IYAAA! Ini gue lagi pake sarung."
Gue tertawa menatap abang gue yang sudah hilang kesadaran itu.
"Sejak kapan sarung makenya dikepala? Mau jadi maling apa mau sholat subuh?"
"Lah iya bawel!" gerutu reon yang langsung membenarkan sarungnya.
"Bang, lo bisa kan? " tanya gue meragukan.
"Ya bisa lah cuma pake sarung doang masa minta tolong lo, gilak! "
"Hush, maksud gue lo bisa kan jadi imam sholat? "tanya gue yang sukses membuat dia melotot.
"Ngeremehin gue lo? Udah buruan sholat gue jadi imamya, gue udah belajar! "
***
Author POV
Reon dan Ira duduk di meja makan dengan lauk makanan seadanya memang sudah beberapa hari pembantu dirumahnya pulang kampung sehingga hanya mereka berdua yang tersisa dirumah ini.
Untungnya saat Reon sedang mandi, Ira sempat membeli nasi bungkus didekat rumahnya. Kalau tidak kakanya itu bisa nyerocos gak jelas.
"Wah.. Wah.. Besok gue mau jual ini meja makan! " celetuk Reon yang baru selesai mandi dan sudah duduk dihadapan Ira. Ira yang melotot mendengar ucapan kakaknya itu.
"Kenapa? "
"Gue ganti ama meja kantin sekolah gue. Buat apa meja gede panjang kek gini tapi yang makan disini cuma dua orang."
"Iya juga ya? Gak sekalian kompor gas, wajan, panci semua abang jual. Kan gak ada yang masak juga!" Reon menyipit kearah Ira yang masih dengan lahap menyantap makanan dihadapanya.
YOU ARE READING
GARDA
Teen FictionCERITA INI DI UP ULANG *UP setiap Jumat Kematian sahabatnya yang mendadak dan kasus yang sengaja ditutup menjadikan trauma besar bagi Garda. Selama dia belum menemukan titik terang, dia tidak akan bisa tidur tenang setiap malam. PLAGIAT DILARANG ME...
