1• Perjuangannya

94 24 46
                                        

Assalamualaikum, ini cerita kedua gue di Wattpad.. Cerita ini berbeda banget dengan cerita pertama gue.. Ok, Happy Reading :-)

-#-
Rumah sederhana berwarna hijau mudah dengan keramik berwarna orange.

"Bapak, Lili mau keluar dari sekolah." Dengan tubuh gemetar dan air mata yang membendung di matanya, gadis itu mengutarakan keinginan yang harus ia inginkan mau tidak mau.

Kamar tidur dengan satu lemari baju, meja belajar dan kasur yang tidak terlalu besar. Itu lah tempat dimana ia dan Bapak nya berdiri sekarang.

Gadis itu menunggu jawaban yang keluar dari Bapak dengan cemas, gelisah dan takut.

"Keluar? Kenapa emang nya, Li? Kalau kamu keluar dari sekolah, kamu mau jadi apa? Jangan kaya Bapak! Kamu harus jadi orang sukses."

Seketika air matanya yang sudah ia tahan, lolos begitu saja membasahi pipi nya. Ia tak bisa berbicara karena menahan isak tangisnya. Ia menunduk agar Bapak tidak melihat wajah nya yang menangis.

"Ke..kelas nya, Pak." Gadis itu bersuara dengan nada lemah.

"Kenapa kelasnya? Gak enak?! Li, kamu itu hidup pasti ada enak nya dan ada gak enaknya. Jalani aja!"

Lagi, air mata nya turun terus menerus membasahi pipi nya. Kepalanya pusing akibat terus menangis sejak kemarin. Tentang hari ini, ia sudah memikirkan nya dari jauh-jauh hari. Ia harus bilang kepada Bapak tentang masalahnya.

Setelah berkata tentang masalahnya, ia ingin menjelaskan penyebab nya. Namun, baru saja ia ingin menjelaskan alasan kenapa ia ingin keluar dari sekolah, perkataan Bapak mengurungkan niat nya.

Perkataan yang harus membuat ia menerima kenyataan mau tidak mau. Yang membuat ia harus tetap berada di tengah-tengah binatang singa. Yang membuat ia memupuskan harapannya.

"Kamu gak kasihan sama Bapak? Bapak capek kerja dari pagi sampai malam. Kalau kamu sayang sama Bapak, jangan keluar dari sekolah."

"Jangan keluar dari sekolah."

Dan, kejutan apa lagi yang ia akan hadapi?

-#-
Hari masih terlalu pagi, bukan. Mungkinkah hari masih tengah malam. Jam dinding di kamarnya baru menunjukan pukul tiga. Tetapi gadis itu sudah bangun tidur dan menyenderkan punggungnya di dinding yang tepat berada di belakang tubuhnya.

Pandangan nya kosong. Pikiran nya hancur. Tubuhnya gemetar. Air mata nya mulai terlihat memenuhi sepasang mata nya.

Perlahan air matanya turun membasahi pipi nya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia menggerakan telapak tangannya ke arah mulut nya untuk menahan isak tangisnya. Ia tak mau Bapak mengetahui ia menangis. Air mata terus membanjiri pipi tembem nya.

Lelah. Ia lelah dengan ini semua. Tapi, ia harus menjalani nya. Ia tak mau menyalahkan takdir. Ia harus kuat untuk menahan panahan yang akan menusuk hati nya. Kepala nya menggeleng keras. Ia tak mau kejadian buruk beberapa hari kemarin kembali terjadi...

"Ya Allah, mulia kan lah orang-orang yang akan bertemu Lili."

-#-
Cahaya matahari terlihat di balik jendela kamar Lili. Terlihat Lili membuka jendela kamar nya dan membiarkan cahaya matahari masuk ke kamar nya dengan bebas.

Seragam putih abu-abu. Name tag bertuliskan Lili Desiyapril. Kerudung putih. Itu lah penampilan Lili sekarang.

Ia mengambil tas nya. Lalu, berjalan kembali menutup jendela kamarnya. Ia tak membiarkan cahaya matahari masuk ke kamar nya dengan lama. Ia bergerak mematikan saklar lampu yang berada di samping kanan pintu kamarnya dan terakhir ia menutup pintu kamarnya.

If I CanWhere stories live. Discover now