Fina bangun dari tidurnya. Mimpi itu selalu mendatanginya lagi. Nafasnya masih tersengal-sengal, rambut berantakan, serta peluh keringat di dahinya.
Lalu segera menghapus keringat itu sembari menghela nafas panjang. Barbara masih tertidur di kamar sebelah. Fina melihat ke arah kamarnya.
Sangat sepi.
Dari dulu hingga sekarang, suasana di rumah selalu sepi. Entah sampai kapan Ayah dan Bunda-nya kembali seperti dulu. Sebelum semua itu terjadi.
Fina melirik arloji hitam yang berada di atas nakasnya. Tepat pukul empat pagi. Lalu segera beranjak untuk menunaikan ibadah Solat-nya.
Setelah selesai, Fina menyiapkan baju sesuai jadwalnya, lalu menaruhnya di atas kasur empuknya itu. Mengaca sebentar lalu bergumam, "Gue cantik ya."
Lalu senyam-senyum tidak jelas. Mengambil ponsel di sebelah lampu tidur, lalu segera Fina mengarahkan kedua kakinya yang terbungkus sandal rumahan bewarna hitam. Ah, ralat. Sepertinya ini tidak bisa dibilang rumah, melainkan penthouse. Kaki jenjangnya mengarah ke arah dapur. Bi Inah alias pelayan yang sudah Fina dan Barbara anngap seperti keluarga sendiri, mungkin masih tertidur.
Segera mengambil gelas, lalu mengisinya dengan susu coklat favoritnya itu. Mengotak-atik isi kulkas, dan menemukan satu kotak es krim varian coklat yang langsung membuat wajah riangnya muncul.
Dan duduk di atas meja bar membirkan kaki jenjangnya maju mundur layaknya anak kecil.
Diliat-liat, penthouse ini sangatlah besar untuk ukuran dua remaja yang hanya ditinggali-nya. Semuanya bewarna gelap, tapi kebanyakan hitam, abu-abu, dan putih. Warna kesukaan Fina dan Barbara.
Segera melahap es krim coklatnya sembari menyalakan ponsel yang ada di genggaman-nya. Langsung munculah notifikasi yang jebol. Lalu satu notifikasi muncul paling atas membuatnya tertarik. Ada pesan dari Alfi.
Si Mesum
Udh bngn kn lo?
Ingt gue jmpt lo jm 6.
Read.
Fina Cantiq
Iya iyaa.
Kangen ya sama gue?
Read.
Si Mesum
Y in biar fast.
Mndi bru udh jm set 5.
Read.
Fina Cantiq
Gak ah.
Mau main piano dulu.
Read.
Hanya di baca saja. Membuat mood Fina seketika turun drastis. Lalu memasukkan kembali es krim itu yang masih tersisa setengah. Mencuci tangannya lalu menyiapkan roti untuk sarapan dan untuk Barbara. Hanya lima menit. Berbeda selai, Fina menyukai coklat, Barbara menyukai vanila.
Keinginannya bermain piano tiba-tiba saja muncul. Dan lagi membuat Fina mau tak mau mendesah kecil mengingat kenangan itu lagi.
Baru saja ia duduk di hadapan pianonya, Ponsel Fina bergetar.
Si Mesum is calling
Clik.
"Halo?"
Fina mengernyitkan dahinya. Tidak ada balasan. Hanya suara nafas yang terdengar. Jadi, apakah tujuan Alfi melakukan panggilan hanya untuk mengetahui bernafas?
"Helooo Nafas orang is here! Kodenya apa mas?"
Fina terkekeh kecil dengan tingkah lakunya seperti mbak-mbak yang sering ia lihat di acara tv. Entah kenapa, saat bersama Alfi, ia bersifat kekanakan, manja, cerewet. Tak tahu kenapa. Fina akui, hati kecilnya berkata bahwa ia sedikit nyaman dengan Alfi.
YOU ARE READING
S E D U C E D
Romance[ Watty's Romance Category 2019] Ketika tidak bisa memilih dalam sebuah pilihan yang harus dipilih. ____________________________________________________ Seluruh hak cipta dilindungi oleh undang-undang. #12 in Lie 15 June 2019 #18 in Semesta 17 June...
