PROLOG
NORMAL POV
"ALDINO!" Suara bariton itu menguasai ruangan.
Hitungan detik, kursi dari meja makan dibanting oleh pemilik suara. Persetan dengan bentuk kursi yang telah patah, yang ia tahu sekarang hanya amarah. Meskipun terkadang amarah membawa masalah baru, tetapi pemilik suara tetap tak peduli.
BRAK
"APA?!" jawab si pemilik nama tak kalah kerasnya. Ia sedari tadi— telah bungkam seribu bahasa, giliran dirinya yang menyahut sekarang. Tak ada gunanya untuk berdiam diri, semakin ia diam semakin ia merasa tertekan.
Ingatkan dia untuk mengetuk kepala orang di depannya jika ia mampu!
"DASAR ANAK KURANG AJAR!"
PLAK
"BERANI SEKALI MENINGGIKAN SUARA KAMU HAH!"
Aldino menyeringai. Bibirnya berdarah akibat banyaknya tamparan dari pria di depannya, darah tadi ia gusak singkat. Tubuhnya memang rendah dari pemilik tangan, tapi bukan berarti dia harus seenaknya main tangan.
Aldino hendak berdiri, tetapi harus tertahan karena kekuatan tubuh yang tak mampu menopang tubuhnya.
Aldino adalah lelaki yang jarang mengekspresikan amarahnya, tetapi bukan berarti orang lain harus seenaknya padanya. Tapi masalahnya, orang ini bukanlah orang lain bagi Aldino, melainkan adalah ....
"SAYA INI BAPAK KAMU YA! DAN JUJUR, SAYA MALU PUNYA ANAK SEPERTI KAMU!" teriak pria itu lagi. "Gak punya sopan santun," sambungnya dengan nada geramnya.
Pria itu bernama Yudha Fernandez. Pria bergestur tubuh tinggi dan tegap itu terlihat sangat tegas. Saking tegasnya, ia sering berlaku kasar pada anak kandungnya sendiri. Entahlah, pria itu sangat jarang untuk pulang. Walaupun hanya sekadar menginjakkan kakinya di atas rumah yang besar ini. Tetapi sekalinya pulang, ada saja yang selalu ia ajak beradu jotos. Dan yang selalu menjadi korbannya adalah Aldino, ya anaknya sendiri. Entah letak salahnya dimana, ia selalu menjadi sasaran empuk Yudha.
Aldino menghela nafas lelah. "Saya gak punya sopan santun belajar dari Anda, Tuan Yudha!" gerutu Aldino dengan suara lirihnya, tetapi terdengar tegas. Wajahnya berubah pias, ia muak. Kenapa harus dia?
Entah dosa apa yang ia lakukan di masa lalu, hingga membawa karma buruk yang ia dapat di masa sekarang. Belum lagi, laki-laki itu harus menekan diri untuk tak terpengaruh oleh tubuhnya sendiri. Mungkin jika ia terpengaruh, dampaknya akan jauh lebih buruk lagi. Untuk menghindari itu, ia harus rela mengalihkan pikirannya ke hal tak berguna.
Dia rela melampiaskannya seluruh emosinya pada lintasan. Seolah dia senang membanting nyawa dan punya banyak simpanan nyawa. Dia tak memiliki niat untuk melampiaskan kemarahan pada orang lain. Namun, kenapa orang lain malah bertindak sebaliknya.
Masa mudanya ia gunakan untuk menyenangkan dirinya. Meskipun tak kenal kata bahagia, ia setidaknya dapat merasakan apa yang ia inginkan. Bukan mengikuti garis takdir pemberian orang tuanya.
Kerah jaket Aldino secara spontan di tarik oleh Yudha. Ia mencengkram erat kerah itu. Lambat laun tangannya mulai bergerak membelit leher Aldino secara cepat. Aldino tersentak, refleks ia bergerak tak tenang dan berusaha melepaskan cengkaram Yudha yang semakin kuat.
Tuhan, dia belum ingin menyentuh tanah.
"Arghh..." erang Aldino, sesekali mencakar lengan Yudha yang semakin mengencangkan genggaman tangannya.
Huh. "Le-lepas ... arghhh ... Al ... s-sakit arghhh ..." Aldino lagi-lagi meracau. Udara yang ia rasakan semakin lama semakin menjauh darinya.
Dadanya berubah sesak, paru-parunya berusaha memompa lebih cepat. Sedangkan jantungnya debar hebat, seolah hendak lepas dari posisinya. Kedua bola matanya memerah dan berair menandakan nafasnya yang habis.
Perlahan, rongga hidungnya mulai mengeluarkan cairan merah pekat dan kental. Kedua bola matanya semakin memanas. Air mata yang menumpuk pada keduanya, tak kunjung keluar.
Bugh
Bugh
Aldino menggebuk-gebuk apa saja yang ada pada Yudha di depannya ini. Persetan akan hal itu, ia tak mau mati konyol hanya karena cara nekat ayah kandungnya ini.
Ia belum siap untuk mati. Not yet!
Detik berganti, Yudha melepaskan tangannya. Dengan sigapnya Aldino meraup seluruh udara di sekitarnya. Tubuhnya lemas hingga jatuh menubruk ubin rumah.
Posisi Aldino yang tadinya dalam keadaan membungkuk, sangat mudah bagi Yudha untuk mencengkram lehernya. Aldino kehilangan akal, nafas di paru-parunya menipis.
Selagi ia mengatur nafasnya, derap langkah dari arah taman belakang terdengar masuk ke gendang telinganya. Ia tahu itu siapa. Wanita cantik yang bersedia melahirkannya. Sayangnya, wanita itu juga yang telah menyakiti hati kecilnya.
"Dia sudah gila! Kenapa kamu masih menahannya."
"Aku tau."
Hening.
"Kamu memang tidak gagal menjadi seorang suami Mas, tapi kamu gagal menjadi seorang Ayah."
* * *
TBC
Hai.
Azifah kembali. Maafkan aku, sepertinya cerita Aldino akan aku rombak acak, agar beberapa bagian yang banyak plot hole yang gak masuk diakal bisa aku musnahkan. Mungkin kalian bisa membacanya kembali.
Aku senang kalian masih mau membacanya dan aku harap kalian tenang dalam membaca.
Selamat datang dalam REVISI CERITA ALDINO.
DAN ENJOY!
Terima kasih.
Salam, azifah.
YOU ARE READING
Aldino
Teen Fiction[HIATUS] CERITA DIREVISI KESELURUHAN. DIANJURKAN UNTUK MEMBACA ULANG. Dia Aldino Yudha Fernandez. Lelaki sejuta pesona dan sejuta misteri. Lelaki si penguasa jalanan malam. Dia salah satu dari banyaknya orang yang benci kehidupan. Bukan apa-apa...
