16.Capcay & Dimsum

149 1 0

Esok harinya aku kembali berjalan ke arah kampus, kejadian kemarin masih terngiang-ngiang diotaku. Aku heran kenapa harus saat itu bertemu dengan Dhani kenapa bukan saat di kampus waktu merasa kehilangan sosok Dhani kemarin.

Sosok Dhani memang sempat hilang saat Rio datang, tapi kali ini kembali lagi. Padahal aku tak kenal dengan Dhani tapi masih berpikir kalau dia bisa melihat aku dengan Rio.

"Jadi lo kemarin ketemu sama Dhani lagi?" ucap Tantri sambil merangkul yang baru saja datang dari belakang.

Aku panik melihat ke kanan dan kiri takut ada orang yang melihat, lalu membekap mulut Tantri. Tantri berusaha melepaskan tanganku.

"Oke... Oke... Gue ngerti... Ayo masuk kelas" kata Tantri lalu kami pun berjalan masuk ke dalam kelas, menaiki lift.

Saat akan masuk dikagetkan dengan Dhani baru saja keluar dari lift. Senyuman Tantri terlihat seperti mengodaku, sementara aku tak bisa menahan rasa terkejut dan mencoba memperlihatkan "Poker Face"

Setelah pintu lift tertutup Tantri tak bisa menahan tawa, langsung tertawa terbahak-bahak. Ia seperti bahagia melihat wajahku yang dibuat seperti santai padahal sangat terkejut.

"Muka lo itu lucu banget" ejek Tantri. Aku membalas dengan pukulan di lengan temanku yang jahil.

"Nih makan permen karet biar ga tegang" Tantri menyodorkan permen ke arah wajahku.

"Kita ke kantin dulu yuk, gue mau beli sandwich buat cemilan"

Tantri memang sesuatu kalau masalah makanan, mau makan sebanyak apapun badanya tetap langsing.

Mungkin karena sering olahraga jadi ga banyak lemak dibanding denganku yang minum air putih aja bisa bikin nambah satu kilo.

***

Tantri membeli sandwich dan juga sekotak teh, lalu duduk didepanku, masih ada waktu lima menit sebelum masuk. Aku sibuk memainkan permen karet membuat balon.

"Lo kemarin dianter Rio jam berapa?" tanya Tantri. Aku mengingat-ingat

"Kayanya jam 10an deh, terus gue langsung tidur ga pake mandi. Kenapa?" Tantri hanya menjawab dengan gelengan.

"Eh... Sorry gue ga bisa gabung waktu Lando ngajak nonton jazz di kemang, soalnya gue juga cape banget. Pas nonton aja gue sampe ketiduran di bioskop" Tantri tertawa

"Gue juga tau dari Lando tadi malem, jadi kemarin Rio ketemuan sama Lando di Kemang kemarin"

"Loh.. katanya dia capek jadi nganterin gue pulang."

Tantri hanya diam lalu bel tanda masuk kelas terdengar.

***

Mata kuliah kali ini tak terlalu susah, hanya tinggal mencatat dan membuat tugas untuk akhir semester. Tantri mengajak untuk makan di restoran China yang baru buka. Aku pun tak menolak karena Tantri baru mendapatkan uang sebagai pengajar renang anak-anak.

Kali ini aku memesan Fuyunghai, Capcay plus Nasi, sengaja beli dua menu biar bisa dimakan bersama temanku ini. Tantri tumben tak memesan sesuai dengan keinginanya karena memperbolehkan aku memesan.

Saat makanan tiba, aku dan Tantri lahap memakan menu masakan China panas-panas. Yang paling unik dari restoran ini, biasanya nasi disajikan dengan piring, tapi di restoran ini mengunakan mangkuk.

Sendok yang disediakan ada sendok bebek dan juga sumpit, jadi aku dan Tantri sibuk makan mengunakan sendok dan sumpit. Walaupun banyak anak kampus yang tertawa melihat cara restoran yang tak biasa, tapi akhirnya mereka mulai terbiasa.

Just Waiting Where stories live. Discover now