17. Dreaming

258 1 0

Rio sudah tak ada lagi dalam pikiran, biasanya aku tak bisa melupakan pria yang sedang dekat dengaku.

Mungkin karena, Sebelumnya Rio sudah membuat aku kecewa dan juga aku baru tahu kemarin kalau ternyata Rio bukan mengantar kontrol ibunya tapi mengantar wanita itu.

Tantri datang ke kampus memberikan sebuah undangan dan melihat ada inisial "R&N" ditambah dengan nada mengoda "Cieee". Aku membuka amplop yang berisi undangan.

"Akan menikah Rio dan Nindya"

Aku hanya bisa tertawa, bukan hanya badan yang sama tapi nama juga hampir sama, Nina dan Nindya.

"Lo ga cemburu?" tanya Tantri. Aku mengeleng karena berpikir Rio memang bukan jodohku.

"Ga juga.. karena kemarin gue baru mimpi indah banget"

***
Flash Back

Aku sudah siap dengan dress hitam berjalan keluar kampus menuju cafe donut yang lagi happening didekat kampus.

Semakin kesini banyak sekali restoran, cafe, toko donut yang memang intinya untuk tempat nongkrong anak kuliah.

Dhani berjalan dengan setelah kemeja dengan sepatu hitam licin, ada kalung ID Card yang diselipkan di saku bajunya.

Aku tersenyum melihat Dhani sambil meminum es choco hazelnut, kesukaanku.

"Udah lama yah.." kata Dhani. Aku mengeleng dengan malu.

Dhani terlihat berbeda dengan setelan kemeja, celana bahan dan juga sepatu hitam mengkilat yang biasanya hanya dilihat ketika pergi ke undangan.

Dia memang sudah ditunjuk dari bagian salah tim kampus yang menangani design. Jadi tim promosi bergabung, memikirkan konsep dan dia yang mereleasikan menjadi sebuah pamflet atau poster untuk semua promosi kampus.

Walaupun kuliah di semester akhir, Dhani sudah menerima pekerjaan dari kampus sementara aku sibuk dengan mata kuliah akhirnya dan skripsi.

"Mau pesan Donut atau sandwich ga?" tanya Dhani. Aku mengeleng tapi Dhani sudah pergi lebih dulu ke meja kasir.

"Banyak banget.." komentarku saat melihat Dhani yang membawa dua buat Croisant berisi daging sapi asap dan plus juga keju.

"Gue udah lapar.. Ini Brunch" kata Dhani melihat jam yang sudah lewat jam sarapan dan juga belum masuk makan siang.

Aku mulai memotong-motong kecil Croisant agar mudah masuk ke mulut, sementara Dhani memilih untuk makan langsung dengan tangan seperti makan burger dan sesekali meminum es lemon teanya.

"Jadinya udah sampe makan skripsi lo? Bab berapa?" tanya Dhani

"Baru bab 2, lagi ngumpulin materi tentang pendapat-pendapat pakar komunikasi" jawabku

"Oh... Gue udah mulai bab empat jadi mulai penelitian. Pinginnya cepet selesai jadi ga kepikiran lagi kuliah, fokus kerja aja"

"Emang sibuk banget, gimana bagi tugas sama kuliah?" tanyaku polos

"Yang paling padet tuh pas lagi masuk kuliah gini, karena kampus gencar-gencarnya promosi dan pasti ada design baru untuk semuanya, jadi gue harus kerja keras bikin yang baru. Walaupun konsep untuk dibikin, tapi kalau belum approve dari atas... Yah diulang lagi"

Aku mengangguk tanda mengerti.

"Oh yah.. nanti jadi kita nonton Thearte di Hotel Rich , mereka bawa penari dari sana untuk misi kebudayaan. Gue dikasih dua tiket buat nonton, hampir semua yang ada dikampus sih"

"tentang apa cerita kali ini?" tanyaku seperti terbiasa dengan style Dhani yang lebih suka nonton Theater dibanding nonton film dibioskop.

"Robin Hood" jawab Dhani. Aku tak bisa menahan tawa, kayanya akan menemani anak-anak kecil.

Just Waiting Read this story for FREE!