10. Premier Movie

329 1 0


Jam tujuh malam, Aku dan Tantri sudah siap datang ke acara Premier film, kami sengaja memakai dress karena undangan menonton VIP, khusus untuk para artis dan kalangan penting dalam dunia perfilmaan.

Lando ikut datang dengan seorang pria dengan tinggi dengan setelah kemeja dan juga sepatu kets. Terlihat rapih tapi tetep sporty, Tantri sudah memberitahu sebelumnya.

"Nanti Rio dateng, gue ga enak bilang sama Lando kalo temanya ga perlu datang, soalnya dia yang udah prepare undangan buat empat orang"

"Yah... Memang itu salahku, karena sebelumnya aku hopeless meminta Tantri mencarikan cowo lain sebagai penganti Dhani yang akan menikah. Tapi setelah tahu Dhani yang ga akan nikah, sekarang gue ga butuh lagi cowo, cukup Dhani aja yang selama ini ada dihati."

***

"Hei Nin.... Kenalin ini Rio teman basket gue, temannya Tantri juga" kata Lando.

Kami pun berjabat tangan, tangan Rio terasa dingin sepertinya dia baru keluar dari lemari es. Aku tak bisa mengobrol lama dengan Rio karena Lando mengajak masuk ke ruang bioskop.

Di dalam bioskop, sudah diputar iklan jadi sebentar lagi film dimulai. Lando dengan cepat mengambil tempat duduk di samping Tantri. Sementara aku terpaksa untuk duduk disamping Rio yang baru aku kenal lima menit yang lalu.

Selama satu jam setengah lebih, aku tak banyak mengobrol dengan Rio, sedikit binggung juga memulai pembicaran dari mana. Hanya sesekali Rio menawarkan popcorn karena miliku sudah habis.

Film Indonesia sekarang, ternyata sudah semakin baik. Aku dibuat tertawa menonton Si Doel the Movie, tingkah Mandra selalu bikin ketawa, selama dalam bioskop aku tak bisa menahan tawa.

**

"Kita makan dulu yah, sebelum pulang" kata Tantri memang perutnya. Teman gue yang satu ini, mau makan berapa bakul pun tetap badanyak segitu aja.

"Makan burger aja yah, yang gampang soalnya besok gue ada latihan pagi" kata Rio. Aku seperti anak ayam menganguk setuju dan Lando tak banyak komentar masalah makanan.

Aku memesan Cheese burger, sementara Lando dan Rio double Cheese dan daging, awalnya Tantri ingin mengikuti pesanan dua pria jangkung, tapi karena jaim memesan burger tanpa keju.

"Lo satu kelas sama Tantri?" tanya Rio yang akhirnya mengeluarkan suara. Nada suaranya terdengar enak ditelinga seperti penyiar di Radio. Aku jawab hanya mengangguk.

"Lo rumahnya dimana?" ucap Rio. Aku tak bisa menjawab dengan anggukan.

"Dia tinggal di Pasar minggu, lo nanti anterin dia yah. Gue sama Lando mau ke Kemang dulu" kata Tantri menyela.

"Ga usah, masih ada busway kok gampang kan dari sini tinggal jalan ke arah ratu plaza"

"Udah lo nanti dianterian aja sama Rio, gue sama Tantri mau ke Kemang naik Grab, soalnya mau datang ke ulang tahun temen di Club sana" kata Lando mendukung.

Aku tak bisa menolak, rasanya tak enak juga kalau terus menolak karena memang lelah juga dari pagi sampai malam berkeliling disekitar Jakarta Pusat.

"Lo besok kan harus latihan pagi, nanti pulangnya jadi tambah malem" komentarku

"Ga apa-apa kok, lagi pula searah kok, gue tinggal di Cilandak belakang Kantor pajak" ucap Lando.

**

Aku menaiki mobil Sedan City Car milk Rio, wangi di dalam mobil memang mencerminkan orangnya, wanginya mobil Rio sangat seger.

"Sorry yah kalo berantakan" kata Rio duduk dibelakang kemudi sedikit memundurkan kursi agar nyaman untuk menyetir.

Aku melihat kebagian belakang saat Rio memasukan barang-barangnya ke Bagasi, tak ada yang berantakan hanya baju-baju selesai latihan dalam tas yang sedikit keluar dari dalam tas dan itu pun dipindahkan ke bagasi.

"Lo kenal Tantri dari pas kuliah yah?" kata Rio memulai pertanyaan. Aku mengangguk.

"Kalo gue kenal Tantri itu waktu SMA, trus kenal sama Lando lebih dulu sebelum mereka jadian. Beberapa bulan lalu gue ketemu mereka lagi nonton basket bareng, jadi akhirnya dekat lagi" cerita Rio. Aku hanya berkomentar Oh.

Suasana canggung terasa dalam mobil, ditambah lagi jalan Pancoran sedikit macet. Rio menyalakan radio, mengurangi rasa canggung. Terdengar lagu, Chirsye versi 80an "Aku Cinta Dia" entah kenapa Rio langsung menganti ke siaran radio lainya dan di putar lagu tentang cinta semua.

"Lagunya tentang cinta semua, mungkin karena hari ini malam minggu yah" komentar Rio akhirnya membiarkan lagu Bruno Mars – Just The Way You Are

"Tapi ini hari Jumat, malam sabtu" komentarku dengan menahan tawa.

"Ahh.. Iya maksud gue, malam sabtu. Kalo Lo suka lagu genre musik apa" tanya Rio memecahkan rasa canggung.

"Kenapa Rio menanyakan pertanyaan yang sama dengan Dhani saat dimimpiku, "Lo Suka musik apa"? Apa dia titisan dari Dhani atau yang lainya" gumam ku heran

"Gue suka R&B, intinya sih lebih suka yang bisa dibuat dance dan ga terlalu suka sama lagu mellow, bikin hari kayanya sendu" jawabku.

Rio mengaku sama denganku, lebih suka dengan musik R&B dan lagu yang dia suka lagu Bruno Mars. Pantas saja, waktu Lagu Bruno Mars di puter, pencarian di saluran Radionya berhenti. Aku pun sempat melihat jari tangan Rio diatas kemudi, bergerak naik turun mengikuti irama lagu.

"Besok lo kemana? Maksud gue ada acara atau emang mau jalan sama pacara lo?" tanya Rio.

"Haduhh... ini Cowo to the point banget" jeritku dalam hati, lalu aku menjawab dengan mengeleng.

"Kayanya besok gue mau istirahat dirumah, mau ngerapel jam tidur gue yang kepotong gara-gara minggu kemaren sibuk mengerjain tugas" jawabku santai. Dan Rio berkomentar "Oh" dengan anggukan.

"Gue boleh minta nomor telp lo ga? Kali aja nanti gue dapet tiket premier film lagu jadi bisa nonton, atau mungkin konser di Indonesia. Om gue kerja di salah satu Promotour jadi bisa dapet tiket gratis" kata Rio seperti hanya mencari alasan.

Aku tak bisa menolak, Aku pikir ini sebagai timbal balik Rio yang sudah mengantarku sampai pulang ke rumah. Aku mengetik nomor di ponsel Rio, dan sempat melihat gambar di balik layar, logo club Liverpool.

"Lo suka bola juga?" tanyaku. Rio menganguk, dengan menekankan suka nonton pertandingan sepak bola.

"Gue juga suka banget, walaupun banyak yang bilang kalau itu aneh karena satu bola direbut sama 24 orang. Bahkan mantan pacar gue dulu, ngomel cuma karena gue begadang demi nonton piala dunia" ceritaku yang tanpa sadar seperti sedikit curhat.

Rio sedikit menahan senyum saat mendengar ucapanku, mungkin dia baru sadar aku yang sedari tadi hanya menjawab singkat, tapi akhirnya mengoceh ketika membahas sepak bola.

"Ah... kalo kaya gitu kita bisa nonton bareng kaya gitu, Lo suka liga Inggris, Spanyol, Italia, German, Belanda?" tanya Rio.

"Gue suka Liga Inggris, Spanyol , Italia, Liga Champion juga"

Sepanjang perjalanan pulang, aku dan Rio sibuk ngomongin dengan masalah sepakbola, Entah kenapa aku sangat antusias bertemu dengan pria yang tahu sepakbola, mungkin karena mantan sebelumnya tak mendukung saat aku menonton sepakbola.

***

Aku rembahkan badan yang sudah lelah diatas tempat tidur setelah cuci kaki dan tangan, rasanya badan sedikit remuk karena dari pagi sampai malam ada diluar rumah. Bunyi pesan masuk.

"Gue baru sampe rumah, Lo udah tidur? Hari minggu ada nobar di warung up normal, mau ikut ga?"

Aku membaca pesan dari Rio, tiba-tiba aku terdiam. Biasanya setiap menjelang tidur aku memikirkan Dhani, tapi sedari tadi aku tak memikirkan sosok pria yang tak aku kenal. Sekarang ada Rio yang ada di depan mataku.

"Lalu aku harus bagimana sekarang? Haruskan aku berhenti menunggu dan membiarkan Rio mendekat atau tetap menunggu Dhani karena masih yakin suatu saat nanti aku bisa berkenalan dengan dia?"

Bersambung

Just Waiting Where stories live. Discover now