A - Mom

235 28 26
                                        

Bandung, 13 Mei 2018
07.06 A.M.

Seekor burung berbulu hitam berkilau hinggap di pagar rumah seseorang sembari berkicau. Tak lama kemudian, burung itu terbang lagi menuju ke arah cahaya mentari yang pagi itu sudah bersinar terang. Musim panas tahun ini datang lebih cepat dari perkiraan.

Di dalam rumah, seorang gadis menyadari kehadiran burung hitam tersebut dari balik jendela kaca rumah sebelum akhirnya unggas itu terbang entah kemana

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Di dalam rumah, seorang gadis menyadari kehadiran burung hitam tersebut dari balik jendela kaca rumah sebelum akhirnya unggas itu terbang entah kemana. Ia meneguk air minum ditangannya hingga tandas lalu berjalan menuju meja makan.

Gadis berambut panjang itu melirik kearah wanita paruh baya yang sedang sibuk memilah sayuran di dapur. Dari gelagatnya, ia seolah ingin mengatakan sesuatu.

"Ma, bolehkah seharian ini aku tidur?" cicit Sophie-nama gadis itu-tak lupa menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Melihat takut kearah ibunya dari balik sela-sela jari saat tak kunjung mendengar jawaban dari sang ratu rumah ini.

"Mama." Sophie kembali bersuara.

"Ada apa Sophie ku sayang?" jawab ibunya masih sibuk memilah sayuran.

Sophie mendengus, ia sudah menebak akan seperti ini respon awal ibunya. Ia yakin ibunya hanya berpura-pura tidak mendengar permintaannya karena meja makan dan dapur rumah ini berada di satu ruangan yang sama jadi suara apapun akan terdengar jelas.

"Ma, bolehkan aku tidur lagi? Badanku pegal semua." kali ini Sophie hanya beralasan. Dan rupanya wanita 48 tahun bernama Ana itu termakan omongan sang anak perempuan. Ia menghentikan aktivitasnya dan mendekati Sophie yang sudah memasang wajah meringis.

"Punggungku terasa pegal, disini juga." gadis itu memijat-mijat bahu sendiri guna meyakinkan sang ibu jika tubuh mungilnya benar-benar terasa pegal. Tapi bukan Sophie namanya jika tidak ada kepura-puraan. Karena sesungguhnya rasa pegal di badannya semalam sudah hilang saat ia bangun tidur.

"Sepertinya kau benar-benar kelelahan. Apa kau butuh obat? Mama akan mencarinya untukmu." dengan tatapan iba, Ana menawari obat pada anaknya.

Sophie menggeleng cepat, "Tidak perlu membuang uang hanya untuk membeli obat, ma. Dipakai tidur juga nanti sembuh kok."

Ana hanya mengangguk pelan namun detik kemudian sebelah tangannya sudah memukul pantat Sophie. Tak ayal gadis itu mengaduh kesakitan. Untung pukulan ibunya tidak terlalu keras jadi pantat seksinya tidak hancur.

"Sudahlah, nak. Aktingmu terlihat tidak natural sama sekali." ucapan Ana yang jujur itu seketika menepis rasa bahagia Sophie yang diam-diam mengira bahwa aktingnya kali ini berhasil.

Sophie tersenyum kikuk, dalam hati ia merutuki diri sendiri yang tidak becus dalam berbohong.

"Mama tahu kau itu hanya ingin bersantai di rumah. Betul bukan?" tebak Ana membuat Sophie mengerucutkan bibir. Tebakan ibunya selalu benar.

"Sehari ini aja, ma. Boleh ya, ya, ya?" pinta Sophie dengan ekspresi wajah memelas.

"Kau boleh bersantai jika sudah ada perusahaan yang mau merekrutmu." lanjut Ana tegas lalu kembali berkutat di dapur.
Ya seperti itulah Ana, satu contoh ibu yang tegas kepada anaknya.

Sophie akhirnya mau tak mau harus menuruti perintah sang ibu. Mempersiapkan segala macam dokumen penting sebagai syarat melamar pekerjaan.
Hari ini ia sudah membidik 5 perusahaan untuk dimasuki. Kebanyakan merupakan perusahaan jasa bimbingan belajar. Sebenarnya pekerjaan apapun akan Sophie lakukan, yang penting ia mendapat pekerjaan dan tidak nganggur lebih lama lagi.

Tiba-tiba Sophie teringat sesuatu, "Ma, semalam Naila menelponku. Dia menawariku pekerjaan sebagai manajer di perusahaannya dengan gaji yang cukup besar. Dia berencana menempatkanku di perusahaan barunya yang ada di Jakarta. Bagaimana menurutmu, ma? Tawaran yang menggiurkan bukan?" gadis manis yang mengenakan atasan blus berwarna soft pink dipadukan dengan celana panjang berwarna putih itu bercerita kepada ibunya dengan antusias.

"Jangan membual, Sophie. Cepat bereskan piring kotormu dan lekas pergilah mencari pekerjaan!" Ana menjawab dengan nada tidak santai. Dia sampai mengacungkan kain lap yang ia pegang kearah putrinya.

"Ma, aku sedang tidak membual. Aku benar-benar serius! Mama ingat tidak, awal Desember kemarin perusahaan Naila mulai tumbuh pesat setelah melakukan pengembangan beberapa produk untuk di ekspor. Bagiku, perusahaan ini lumayan bonafit." Sophie tidak menyerah meskipun ibunya terlihat tidak suka saat beliau mendengar kabar itu.

"Mama nggak peduli apakah perusahaan itu bonafit bagimu atau tidak. Kau harus ingat bahwa mama masih bisa mencukupi kebutuhanmu sampai sekarang. Jadi nggak perlu terlalu memikirkan soal gaji yang akan kau dapatkan. Cukup carilah pekerjaan ringan yang ada di Bandung."
Sophie mencebikan bibir tanda tak setuju dengan argumen ibunya.

"Masalah gaji nggak bisa dianggap sepele, ma. Gaji bisa menjadi pemantik semangat bagi para pekerja lulusan baru sepertiku. Lagipula jika aku dapat gaji yang besar, nggak perlu lagi buka warung makan."

"Kenapa mama selalu seperti ini? Melarang ini dan itu, mengatur hidupku seenaknya sendiri!" lanjut Sophie menyuarakan isi hatinya. Meluapkan segala bentuk kekecewaan.

Ia merasa dikurung oleh ibunya dan tidak bisa bergerak bebas menentukan arah hidupnya sendiri. Apalagi sekarang ia mulai beranjak dewasa dan harus siap menghadapi kerasnya dunia.

Bukankah hal yang lumrah jika seseorang yang telah lulus dari perguruan tinggi akan dituntut oleh orangtua mereka untuk mencari pekerjaan yang layak di kota besar dan mengembangkan karir disana? Atau jika tidak, ia akan didorong menjadi seorang birokrat yang ahli memecahkan masalah umat dengan ilmu yang dimiliki

Namun nyatanya tidak hanya ada satu jenis orangtua saja di muka bumi ini. Ada juga orangtua yang tidak berpikir sesimpel itu. Orangtua jenis ini cenderung banyak memikirkan hal lain diluar lingkup profesi atau pekerjaan. Tentu saja hanya orangtua dengan pengalaman hidup tertentu yang dapat memikirkan, merasakan dan memahami hal-hal tersebut.

Ana yang melihat kemarahan di wajah Sophie, kembali menghampirinya di meja makan.

"Sophie, putri kecil mama. Dengarkan mama."

"Sebenarnya begini, kalau kamu terima tawaran kerja dari Naila, bukankah itu berarti kamu harus pergi jauh dari Mama? Kamu akan tinggal di Jakarta dan mama akan menetap disini."

"Lantas apa masalahnya, ma? Aku sudah nggak semanja dulu lagi. Aku sudah besar dan bisa mengurus diri dengan baik. Nggak ada yang perlu mama khawatirkan dari aku."

"Sophie, mama nggak mau jauh-jauh dari kamu."

"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali? Suaranya sampai terdengar dari kamarku." Rangga, kakak laki-laki Sophie turun dari lantai atas dan menghampiri 2 orang perempuan yang sedang beradu argumen itu.

"Bukan masalah besar, nak. Duduklah dan sarapan dengan tenang. Mama siapkan bekal makan siangmu dulu." Ana dengan cekatan melayani keperluan putra pertamanya yang terlihat sudah rapi dengan setelan kemeja putih dan celana panjang berwarna hitam.

Rangga mengangguk sambil memilih menu sarapannya sendiri. Ia tampak tidak terganggu dengan gumaman Sophie yang ada disampingnya. Ia harus segera makan dan pergi bekerja.

Sophie beranjak dari meja makan sambil membawa piring kotornya. Sepanjang mencuci piring hingga memasang sepatu, Sophie terlihat tak hentinya menggerutu.

"Aku akan pergi sekarang!" seru gadis itu sebelum akhirnya meninggalkan rumah tanpa tanpa bersalaman pada ibu dan kakaknya terlebih dahulu. Ia masih kesal dengan ibunya.

Tbc~

Mr. RightStories to obsess over. Discover now