Menunggu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan tapi Nina tetap bertahan pada cinta pandangan pertamanya.. Walaupun belum bisa mengenal pria itu, tapi Ia yakin suatu saat orang itu akan jadi milikinya dan tugasnya dia adalah just waiting.
Jam 12 siang, matahari cukup terik di kawasan Jakarta,Khususnya daerah sabang dan sekitarnya tapi karena pohon rindang yang ada di area Kebon Sirih membuat nyaman untuk berjalan kaki dari stasiun Gondangdia.
Aku berjalan perlahan melewati pedagang gulali di dekat sekolah dasar, sempat bimbang melihat anak SD yang mengantri akhirnya aku memutuskan untuk ikut mengantri.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Kalian tahu kan permen gulali seperti apa? Kalau kata para ibu-ibu makanan yang bikin batuk dan kebanyakan mereka melarang anaknya. Tapi aku, sudah dewasa jadi tak peduli harus mengantri bersama anak- anak yang tingginya sebahuku.
Aku sudah melepaskan harga diri ku saat melihat penjual gulali, maklum waktu SD, ga pernah jajan. Aku masuk sekolah swasta yang mengharuskan membawa bekal makan siang, tapi sayang aku makan makanan tak sehat.
Setiap hari aku hanya dibekali Mie, sampai akhirnya di sekolah aku di ejek otak cacing oleh teman- temanku, hanya karena tak bisa menjawab pertanyaan dipapan tulis.
Makanya setiap ada jajanan sekolah SD, Aku selalu excited untuk mengantri tak peduli harus mengantri dengan anak SD sekalipun. 😆😆😆
Lima menit kemudian, 3 buah gulali ada ditanganku. Bentuk hati berwarna Pink, Pangeran berkuda dan bunga rose. Berharap aku akan bertemu dengan seorang pangeran berkuda membawa bunga dan memiliki hati yang lembut.
"Ahhhh.. itu hanya khayalan anak SD yang menginginkan menjadi Cinderella, tapi pada kenyataanya hidup itu pahit layaknya Putri Duyung yang akhirnya harus menghilang menjadi buih."
Aku berjalan kembali menuju kampus ku yang tak jauh dari gedung DPRD Jakarta. Lima menit sebelum ujian final fotography, pelajaran yang paling pusing.
Waktu ujian tengah semester, kerja kelompok untuk pengambilan foto dengan teknik-teknik dalam fotography. Dan itu harus berulang-ulang karena gambar yang diambil kurang memuaskan.
Akhirnya aku masuk ke lantai dua kelas paling ujung ruang ujian fotography. Tiga kelas dijadikan satu ruangan, lalu diubah jadi studio foto.
Studio pertama di atas meja ada makanan, buah, parfum, botol air, secangkir coffee. Sementara di studio kedua, Seorang berdiri layaknya model.
Tugas ujian kali ini adalah mengambil foto dari angel berbeda dan dari foto bisa menceritakan sesuatu. Kami dibagi jadi 5 orang/ kelompok. Untuk foto tak bergerak, tiap anggota harus memilih sementara foto model harus membedakan property dan style.
Beberapa orang masih berkumpul di depan studio, aku melihat dua temen kelompokku sudah datang. Ada Tantri, Olivia, sementara dua temanku belum datang seperti biasa mereka pasti datang pas masuk jam ujian.
Aku duduk dilantai disamping Tantri, sambil menikmati gulali lalu tiba-tiba pandanganku terhenti. Aku melihat sosok pria berkulit putih dengan rambut coklat, dengan poni belah pinggir.
Aku terdiam melihat sosok pria yang tiba-tiba membuat jantung bergetar, padahal sudah lama aku tak merasakan cinta setelah di tinggal pergi Rifano ke Yogya untuk kuliah.
Aku menatap dari sepatu kets berwarna hitam dengan garis-garis putih, celana jins dan kaos berwarna hijau. Baru pertama kali aku melihat sosok pria yang bisa mengubah hatiku yang beku kembali mencair.
"Eh... coba lo liat cowo di depan kita deh!!" Bisikku pada Tantri. Tantri pun langsung menatapnya.
"Kenapa?? Lo Suka?" Balas Tantri. Aku hanya bisa tersenyum sambil menganggu.
"Lucu... stylenya juga bagus.." komentar Tantri. Aku menganguk cepat.
"Mau kenalan ga?" Ujar Tantri, dengan cepat aku mengeleng.
Aku bukan tipikal wanita yang mengejar pria. Aku lebih suka menunggu inisiatif pria yang menghampiri lebih dulu.
Pria tanpa nama itu berdiri, Wajahku langsung menegang berharap dia tak pergi. Aku mencengkram tangga Tantri, "dia kayanya mau pergi" bisikku. Tantri terlihat binggung.
"Jadi yang lo suka itu cowo yang baju hijau bukan putih?" Kata Tantri setelah melihat ke arah dua pria yang masih terus mengobrol.
"Lah... lo kira cowo yang gue suka yang mana? Baju putih??" Ucapku. Tantri mengangguk sambil tertawa.
" Klo yang itu dia terlalu pendek" komentar Tantri. Aku hanya bisa merengut mendengarnya
"Uh... dasar lo.. tinggi kaya model tapi badan kaya satpam" ejekku pada Tantri yang tingginya 175, tapi karena mantan atlet renang badanya terlalu bidang.
Aku terus menatap si pria tanpa nama, memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum ujian dimulai. Sampai akhirnya bel berbunyi tanda ujian akan dimulai.
Dua temanku yang lain akhirnya datang sambil membawa kamera sempat berpapasan dengan si pria tanpa nama waktu keluar dari ruangan.
Aku perlahan berjalan keluar dan duduk di kursi lorong. Terus melihat si pria yang terus mengobrol sampai akhirnya menuruni tangga dan tak terlihat lagi.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Aku keluarkan ponselku, dan menandai tanggal 3 Februari adalah pertama kalinya aku jatuh cinta dengan pria tanpa nama.
Seorang pria tambun terlihat menaiki tangga, aku bergegas masuk. Dosenku Bapak Sembiring akan masuk kelas.