1

373 17 0
                                        

"Apa katamu? Menyesal? Gampang sekali mulut mu mengatakan itu. Tidakkah kamu berpikir apa yang telah kamu lakukan?" ucap gadis itu penuh amarah, terlihat dari raut wajah nya yang cantik itu

"Siapapun berhak mendapatkan kesempatan kedua, bukan? Lalu kenapa kamu tak memberikan kesempatan itu kepada ku?"

"Kesempatan? Setelah apa yang telah terjadi? Aku rasa pengkhianat sepertimu tak pantas diberi kesempatan. Oh apa kamu bermaksud untuk menyakitiku kembali?" gadis itu meninggikan nada suaranya, sangat ketus, beserta dengan rasa kecewa yang sangat terpancar jelas dari sorot matanya

"Apakah kamu bisa membenarkan pengakuan mu sendiri tanpa mendengarkan penjelasan orang lain? Apakah kamu merasa apa yang kamu lakukan adalah hal yang pantas? Apakah kamu tak sama sekali ingin mendengarkan penjelasan dari mulutku sendiri? Apakah ini adil? Apakah kamu tak membutuhkan itu semua, gadis egois?"

"Aku tidak perlu semua itu. Aku yakin dengan diri ku sendiri. Aku yakin dengan apa yang aku lihat dengan mata kepala ku sendiri. Dan aku yakin bahwa itu sudah lebih dari sebuah penjelasan mu yang tak berguna itu, tuan!"

"3 tahun sudah kita bersama. Kita pernah saling jatuh cinta bersama, sebelum akhirnya, kita saling jatuh kemudian memilih jalan untuk sendiri. Dan sekarang cinta itu hilang, entah kemana. Cinta yang dulu pernah kita punya bersama-sama. Apa yang telah kita bangun pada saat itu? Pada 3 tahun lalu? Apa itu kamu sia-sia kan begitu saja?" pria itu semakin mengintimidasi suasana dan seketika gadis itu tertawa hebat namun tetap dengan tatapan sinisnya

"Setelah kamu berselingkuh dengan gadis itu? Masihkah kamu ingat 3 tahun lalu yang terbuang sia-sia itu? Sungguh aku tak ingin benar-benar menjalin ini kalau pada akhirnya kamu mengkhianatiku seperti ini. Aku sudah tak mengingatnya lagi, tepat sejak kamu melakukan itu dibelakangku. Dan kamu yang menghancurkan ini semua, tapi akulah sosok yang kamu salahkan? Hebat! Hentikan semua leluconmu, tuan. Ini sungguh tak lucu!"

"Apa salahnya mendengar penjelasan ku? Toh setelah itu kamu pasti tak akan mengira-ngira lagi kejadian yang sebenarnya."

"Aku sudah mengubur dalam-dalam apapun itu tentang kamu. Kamu sudah tak ada lagi dihatiku, bahkan tak berbekas sedikit pun" ia pergi meninggalkan pria itu begitu saja, tak perduli dengan teriakan yang terus memanggilnya itu tanpa ada gerakan sama sekali untuk menahan ataupun mengejar, pria itu justru hanya diam terpaku menatap kepergian gadis itu

Mungkin memang benar, perasaan nya selama 3 tahun lalu tak benar-benar ada. Ia hanya bermain dengan hati. Yang sekarang sudah mati, karenanya. Batin gadis itu saat jaraknya sudah tak lagi dekat dengan pria itu. Ia segera menyeka airmatanya yang satu demi satu jatuh membasahi pipinya. Hatinya masih terasa sakit jika berurusan dengan pria itu, tepat seperti saat kejadian itu terjadi.

•••

Sungguh diluar dugaan, pria itu tiba-tiba datang menemuiku kembali dengan segenap perasaan menyesalnya itu. Basi. Aku benar-benar sudah tidak ingin ada dalam bayang-bayangnya lagi. Aku sudah pergi meninggalkan semua jejak yang ada selama 3 tahun itu dan menguburnya sedalam mungkin. Aku menjauh darinya. Apapun tentangnya.

Aku pikir, sudah bukan saatnya lagi untuk mendengarkan semua penjelasan tentang masa kelam itu. Aku pikir, ini sudah sangat terlambat untuk mendengar kalimat penyesalan itu. Bukankah itu yang ia mau? Pergi dengan wanita lain yang bahkan tak pernah terlintas di dalam benakku. Begitu pula dengan caranya memperlakukanku, seolah tidak pernah ada kata 'perpisahan' di antara kami. Namun, realitanya tak seperti ekspetasiku selama ini, teman.

Dengan cerdiknya, ia merancang segalanya dengan baik dan seindah mungkin, agar aku tidak akan mudah menebak arti dari perlakuan yang sebenarnya.

MISTAKETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang