Dia

260 36 23
                                        

"Sa itu Nanta Sa!" Bisik seorang teman yang langsung mengunci tatapan matanya pada seorang laki laki yang di maksud oleh temanya, yang sedang berlari melewati lapangan menuju kelasnya.

Gadis yang dimaksud Khanisa itu  langsung memfokuskan penglihatanya pada objek yang di maksud oleh temanya tadi, yang dimaksud oleh temanya yang tidak lain Nanta Aditya Dwi Putra, Senior yang disukai khanisa.

Khanisa sangat menyukai Nanta sejak pertemuan tanpa disengaja mereka di ruang perpustakaan, bahkan ia merekam dengan sangat detail setiap waktu yang ia habiskan bersama cowok itu, kapan lagi kesempatan bisa sedekat ini dengan Nanta, yang notabenenya adalah siswa yang sangat berprestasi di sekolahnya.

Meski keduanya tidak terlibat pembicaraan itu sudah lebih dari cukup, karna bisa sedekat itu dengan Nanta, bahkan Nanta tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedari tadi berusaha menahan jantungnya agar tidak meloncat keluar, ya. Nanta bahkan tidak tau bahwa ada seorang yang tengah memperhatikanya, sama sekali tidak tau.

Bagi Khanisa, Nanta itu hampir mendekati kata sempurna lihat saja bagaimana ia memiliki alis yang tebal, manik mata yang coklat gelap, ditambah dengan hidung yang tidak terlalu mancung tidak juga pesek, rambut yang sedikit berantakan  yang selalu disisirnya  dengan jari tangan, tingginya sekitar 170 Untuk warna kulit menurutnya Nanta punya warna kulit sawo matang sangat kontras saat ia tersenyum dan ia juga di karuniai otak yang cerdas dan selalu membawa nama sekolah, bahkan nanta selalu memborong piagam sains disetiap Tahunya, Hampir mendekati sempurna bukan?

"Khanisa lo ga lagi kesambet kan?."

Khanisa yang tersadar dari lamunanya. "Ha-apaan, Ya engga lah. apaan si kar."

"Kar kar kar,  Nama gue Karina bukan kar, kenapa si pada manggil kar semua, harusnya kan Rina."

Karina yang tidak terima dirinya dipanggil dengan sebutan kar oleh temanya itu, langsung memasang tampang betenya, sedangkan Khanisa yang mendapatkan ekspresi tersebut bahkan tidak merasa kasihan sama sekali yang ada malah semakin ingin mengejek melihat Karina seperti itu.

Khanisa tersenyum mengejek "Najis ih ga pantes masang muka sok bete gitu, masa iya tampang bar bar pasang wajah bete gitu"

"Shuck!"

Khanisa yang sudah tidak tahan lagi akhirnya tertawa cukup keras ketika mengucapkan kata-kata barusan yang langsung mendapat dijitakan oleh Karina bahkan mereka berdua menjadi pusat perhatian karena khanisa yang tertawa sedikit keras.

Keduanya sadar ternyata jam pelajaran baru saja dimulai dan mereka harus berhenti untuk berdiri diluar kelas masuk dan menerima pelajaran. lagi pula Khanisa sudah merasa puas, aktifitas yang ia lakukan  datang kesekolah pagi pagi berdiri di depan kelas hanya untuk melihat sosok yang dimaksudnya, mungkin bisa dibilang aktifitas yang selalu dilakukan khanisa setiap pagi sebelum dimulainya jam pelajaran terlebih dahulu. bahkan ia pernah mencari Nanta karena ia tidak menemukan orang yang dia maksud sampai harus memberanikan dirinya untuk bertanya kepada salah seorang teman yang sekelas dengan cowok itu,  untuk menanyakan kenapa seharian ini  tidak melihat Nanta yang ia maksud, ternyata Nanta memang sedang absen tidak masuk untuk hari itu karena ia sedang sakit alhasil Khanisa seharian moodnya disekolah tidak begitu baik.

                    🍂🍂🍂🍂🍂🍂

Khanisa kini sedang berkutat dengan buku paket matematika, Ia merasa bosan, jujur saja khanisa tidak terlalu  menyukai pelajaran itu, cuman bagaimana lagi cara agar nilai sikapnya bisa bagus baginya ia hanya perlu berpura-pura fokus pada pelajaran itu padahal fikiranya buyar kemana-mana ditambah lagi guru yang mengajarnya adalah Ibu Nuraini. guru yang memang terkenal tidak main-main soal sikap di dalam kelas maupun soal yang dikerjakan, tapi dibalik kejamnya semua guru sebnernya mereka cuman ingin yang terbaik.

sedangkan karina kini sedang asik bermain dengan handphonenya dibawah laci, khanisa sudah menebak temanya ini memang sejak kapan akan fokus menatap papan tulis saat pelajaran Matematika mungkin bisa dibilang hampir tidak pernah ia melihat karina fokus di pelajaran yang banyak rumus dan teka tekinya itu. Khanisa sendiri memang berencana dan lebih memilih untuk membolos saja sekalian ia mau mengajak karina temanya itu untuk bolos bersama. sedangkan karina yang merasa sedang ditatap itu langsung mengangkat kepalanya melihat kedepan ternyata khanisa yang sedang melihatnya dari tadi.

"sial, gue kirain tadi guru anjir yang ngeliat kesini, gataunya malah lo" cibir nya melihat khanisa dengan bingung bercampur panik.

"Kenapa, Mau ngajak bolos ye?"

Khanisa yang ditanya seperti itu langsung cengengesan. "Hehehe ko tau."

Ketika Khanisa dan Karina sedang berbicara ternyata ada seorang yang menyimak topik mereka sedari tadi.

"Parah dih bolos ga ngajak-ngajak, kuy lah bete anjir."

ternyata yang menyimak topik keduanya sedari tadi  adalah Rafi, musuh bebuyutan karina sejak pertama kali masuk SMA ini memang dan entah mengapa mereka bertiga memang selalu sekelas bagi Khanisa si bertiga sekelas tidak masalah tapi bagaimana dengan Karina yang memang baru pertama masuk tidak menyukai Rafi karena tingkahnya yang selalu sukses membuat Karina merasa sensitif bila Rafi ikut dalam pembicaraan atau cowok itu hanya sekedar lewat di depanya. yang jelas walaupun Rafi sedang tidak mencari Masalah dengannya tetap saja ia tiba-tiba menjadi sensitif seketika.

Khanisa yang melihat itu sedikit kebingungan bercampur geli tiap kali melihat Karina dan Rafi bertengkar layaknya anak kecil, bahkan di setiap harinya jika bertemu di kantin diantara keduanya pasti ada yang memancing keributan. entah Rafi atau Karina yang memulai, khanisa juga ingat ketika Karina dengan sengaja menyalakan korek macis lalu membakar rumah-rumahan kayu miliknya saat tugas kesenian tanpa ia sadar ternyata rumah rumahan yang ia bakar tadi adalah hasil kerajinanya sendiri yang ia titip di dalam laci Rafi. Sedangkan Rafi datang membawa hasil kerajinanya berupa gambaran dan pada akhirnya Rafi hanya melihat Karina yang tiba tiba panik dengan sendirinya.

"Khanisa,Rafi,Karina, kalian bertiga maju ke depan, kerjakan soal yang saya berikan jangan hanya cekikikan di belakang." tegur Bu Nur yang tanpa disadari ketiganya sedang memperhatikan mereka karena cuman mereka bertiga lah yang membuat suara keributan dan memancing ibu Nur. Sedangkan ketiga langsung diam masing masing membenarkan posisinya.

"Mampus kita!" umpat Rafi tiba-tiba panik

"Ya ini semua karna lo curut air yang mulai."

balas Karina tak mau kalah sedangkan Khanisa lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kedua tingkah temanya yang tidak pernah akur itu.

"Dih goblok, emang ada curut hidup di air?" balas Rafi lagi.

Karina baru saja akan membalas kalimat Rafi lagi dan langsung disambung dengan kalimat Ibu Nur yang masih memperhatikan mereka bertiga karena belum ada yang beranjak berdiri untuk mengerjakan soal yang diperintahkan tadi kepada ketiganya.

"Kalian bertiga maju kerjakan soal sekarang atau saya perberat hukumanya!" bantah Ibu Nur telak yang mau tidak mau mereka bertiga harus maju dengan terpaksa.

_______________





(A/N)

Ngehehehe akhirnya selesai juga, guys maaf kalo kurang bagus ngaco atau gimana. Maafkeun ini cerita pertama saya makanya gaje hehehehehe

happy reading

KHANISAStories to obsess over. Discover now