BAB.1: TOPI UPACARA

99 11 11
                                        

Pagi yang cerah untuk jiwa yang sengsara.

Cericit burung Emprit seperti sedang atraksi koor bersama di atas pohon mangga. Pohon itu bercokol dekat kamar tidurku. Alarmku pun ikut berteriak, berpacu dalam bunyi petok-petok ayam saat aksi "wake up call".

"UKHAS!!! WAKE UP, SAYANG! SUDAH JAM BERAPA INI...CEPAT MANDI!" Ibuku dengan suara halilintarnya juga tak kalah anarkis menyiksa kedua daun telingaku.

"Ahhrrgggg" seperti biasa, aku tenggelamkan tubuhku ke dalam selimut. Telingaku, aku sumpal dengan bantal agar tidak mendengar suara-suara mengerikan itu menjajah tidurku.

Tidak buang tempo, entah sejak kapan ibu sudah berdiri di samping tempat tidurku. Tangan wonder woman-nya sekonyong-konyong menarik paksa selimut itu dari tubuhku. Aku hanya menggeliat seperti ulet keket. Bermalas-malasan dengan penuh kemanjaan. Tapi siapa yang tidak tahu ibuku, selain jadi Superhero-ku dia juga bisa jadi perempuan antagonis yang menyiksaku. Ah, contohnya sekarang ini. Lihat ibuku mulai menarik lenganku. Alhasil aku terduduk meski dengan mata ngantuk. Ibuku mengomel lagi, tapi tak aku hiraukan. Aku tumbang lagi, rebah dengan loyo di atas kasur. Ibuku mulai mengutuk. Aku tetap tak bergeming.

Sejenak ibu terdiam, namun rupanya dia tak habis akal. Dia menarik celana kolorku dengan paksa. Sontak aku berteriak. Tapi ibu tak mau surut, dia justru menikmati sensasi membangunkan anaknya yang super kolot ini. Senyumnya menyeringai, tangannya semakin asik melucuti pakaianku.

"Iya Ibu, iya...aku bangun!"

Baru setelah mendengar jeritanku yang menderita, ibu mulai melunak. Dia melihatku gontai masuk kamar mandi. Entah bagaimana bentuk dan wujudku saat itu, yang jelas aku merasa yang menempel di badanku hanya tinggal sehelai celana dalam.

***

Awan-awan kapas berarak tertiup angin ke barat. Angin pagi menelisik di setiap celah rambutku yang masih basah. Jalanan menuju sekolah hampir terasa lengang oleh mahluk-mahluk berseragam putih abu-abu.

"Ini kalo gue telat lagi, Pak Purwo bisa mencak-mencak kayak jaran goyang. Gue harus ngebut!" umpatku dalam hati sambil menambah kecepatan laju Si kuda besiku.

Senin pagi tidak pernah terasa indah!

Ban motor berdecit saat mendadak rem aku injak. "Aduh! Gak timing banget ini Pak polisi udah beroprasi"

Tidak buang tempo segera aku putar balik lalu meluncur ke gang tikus agar tiba ke sekolah dengan aman. Bisa semakin telat kalau harus berurusan dengan polisi karena aku tidak membawa helm.

Jarak 10 meter aku sudah meneriaki Pak Sugeng, penjaga gerbang sekolah yang sebentar lagi hampir selesai menutup gerbang. Pak Sugeng adalah jenis manusia yang kalau tidak disogok dulu, tidak bakal friendly orangnya.

"Pak...Pak, wait a moment, please! Jangan tutup gerbangnya"

"Wet-wet opo toh kui maksudte? Wet Singkong? Opo Wet Salak?" Pak Sugeng meledek dengan gayanya yang mengesalkan, disusul senyumnya yang mencurigakan.

"Udah Pak buka aja buruan. Keburu upacara ini" aku mengerti maksud senyum Pak Sugeng yang luar biasa "ada maksud" itu. "Gampang deh Pak, nanti makan siang saya yang traktir di kantin" baru setelah itu Pak Sugeng yang mengesalkan itu membuka pintu gerbang lebar-lebar.

***

"Alhamdulillah, gue gak telat lagi kayak kemaren geng" aku bersua di samping Rei dan Tristan sambil bernapas lega.

Bel berbunyi. Tanda upacara segera dimulai.

"Terus lo nyogok apaan sama Si Sugeng itu?" tanya Tristan di samping kiriku.

"Hussst! Yang sopan kalau panggil yang lebih tua, Tri" sahut Rei.

"Udah gue bilang Rei, panggil nama gue yang bener. Panggil T-R-I-S-T-A-N yang lengkap, dong!" jawab Tristan kesal.

"Ini apa bet dah kalian! Ora penting tenan seng diomongke!" ucapku kesal.

"Lo ngomong apaan sih, Khas?" serempak Rei dan Tristan sangsi.

"Arghhh... Udah-udah. Tadi lo belom jawab, Khas. Lo nyogok apa sama Pak Sugeng?" lanjut Tristan. Rei hanya mengangguk sambil membenarkan kaca matanya.

"Gue cuman bilang makan siang dia, gue yang teraktir."

"Udah, gitu doang?" Tristan melotot ke wajahku, dekat sekali. Aku hampir bisa merasa hembusan udara yang keluar dari lubang hidungnya mendarat ke wajahku. Sial! "Enak bet dah lo, Khas. Nah gue pas telat itu, gue mau nyogok Ha-pe Iphone x dia malah gak mau. Dan gerbangnya gk dibuka coba. Parah, kan?

"Lagian lo strange! Orang kayak Pak Sugeng jelas gak mau dong lo sogok pake hape orang tajir. Bisa tamat dia kalo disidang sekolah" tukas Rei sok meluruskan.

"Yuk, ah gesit. Udah pada rapi noh padaan baris di lapangan" aku mencoba menggiring mereka untuk cepat menghambur ke lapangan upacara sambil kedua lenganku mencekik leher mereka di kanan dan kiriku.

"Sakit dodol. Gue gk bisa napas, Khas!" teriak Tristan.

"Eh, btw... Topi lo mana, Khas?" Rei melirik ke arah kepalaku yang polos tanpa mahkota: topi upacara.

Seketika aku panik sambil mencekram kepalaku. "Astafirullah, gue lupa bawa geng! Gimana bet dah ini"

Barisan putih abu-abu sudah sedemikian rapih. Suasana menjadi tenang dan khidmat. Tapi tidak denganku. Aku tidak tenang, hatiku gusar. "Sudah alamat bakal maju kedepan ini. Tamat gue. TAMAT!"

Tiba-tiba ada sesuatu yang diletakkan di atas kepalaku. Tanpa menoleh ke belakang, aku meraba benda apa itu. Topi! Ya, itu topi! "Akkkkk... Serius ini?" malaikat mana yang dikirim Tuhan buat nyelametin gue" pelan-pelan aku menoleh, dan malaikat itu adalah...

To be continue...

________________________________________
Hai hai salam dari aku ya si Thor alias Author dari cerita bersambung teenlit: UKHAS. Aku harap kalian demen dan penasaran baca ceritanya. Kira-kira siapa ya Si malaikat yang tiba-tiba datang di belakang Ukhas? Bakalan tetep kena hukum gak ya si Ukhas? Bakal seperti apa ya nasib si Ukhas... Nantikan di bab berikutnya. 😁
Salam pramuka! *Eh...
Salam setia! *Eh...salah lagi.

Salam-at membaca: next bab!! Haha
-ij

_________
Jangan lupa abis baca tinggalin jejak ya, kasih bintang dan komen. Hihihi.. Masukan ke draf bacaan kalian juga. Ciyu...

UKHASTahanan ng mga kuwento. Tumuklas ngayon