Semoga kalian suka sama ceritanya, dan mau baca sampai abis dan nggak berhenti di tengah jalan...
Ini cerita fiksi remaja yang pertama aku publish. Oh iya, sebelumnya, ini juga baru pertama kali aku publish cerita. Karena sebenernya ini akun kan yang pegang dua orang wkwk.
Kalo kalian merasa pernah message atau apa, itu bukan aku. Itu udah pasti temen aku, soalnya aku first. Hehehe.
Yaudahlah ya, hope you like it. Maaacih.
»»»«««
“Ngeliatin dia lagi?”
Zion menatap tajam Adlen lewat ekor matanya. Ia malas berbohong. Karena Adlen tak pernah bisa dibohongi. Apapun itu dan bagaimanapun halnya. Begitulah kalau kalian sudah menjalin pertemanan yang sudah sangat lama. Sudah pasti tahu luar dalam tingkah lakumu.
“Ini suka? Cinta? Apa sayang?” Adlen masih tetap berisik di samping Zion dan ikut memperhatikan apa yang di pandangi Zion.
“Berisik!”
“Berarti tiga-tiganya dong.” Adlen manggut-manggut membuat pernyataan sendiri.
Zion menghela napas kasar sebelum menghadap Adlen dan meninju bahu cowok itu lumayan keras. “Bangke. Lo diem bisa nggak, sih?”
“Lo demen mantannya Mars, nih?” Adlen terkekeh melihat tangan Zion mengepal.
“Lo nggak usah ngebacot yang nggak ngg—“
“Gue ketinggalan apaan, nih? Pada seru amat ngotot-ngototnya.”
Mars datang memotong perkataan Zion. Cowok itu duduk di tengah-tengah Zion dan Adlen. Menatap kedua temannya bergantian acuh tak acuh sambil membuka minuman kaleng bersoda yang barusan dibelinya dari kantin. Namun, belum sempat Mars minum, kaleng itu sudah direbut Zion dan diteguknya sampai habis setengah.
“Eh monyet, gue belom minum.” protes Mars dan Zion tak peduli sama sekali.
Mereka bertiga sedang duduk bersama di tempat paling bertahta di Garda Bangsa bagi para siswanya. Bangku paling pojok di sudut kantin. Tempat paling leluasa untuk mengamati seisi kantin. Tapi, bukan mereka bertiga namanya kalo suka keramaian. Mereka lebih suka basecamp yang mereka buat sendiri di luar sekolah. Namun, demi mengisi perut mereka yang konser keroncongan, jadilah mereka di sini.
“Dia itu merhatiin Altha… soalnya dia lagi temperamental mikirin cara bales dendam ke tuh cewek.” Mars cengengesan sambil berbicara pada Adlen yang masih belum mengerti.
Uhuk … huk
Zion terbatuk-batuk.
Tapi, sayangnya baik Mars maupun Adlen tampak tak peduli, dan justru Mars melanjutkan perkataannya masih dengan menatap Adlen. “Lo tau, Dlen, yang kemarin masukin pembalut ke tasnya Zion itu si Altha.”
Zion memutar matanya kesal saat melihat Adlen tertawa bahagia atas penderitaannya yang diceritakan Mars.
“Nggak usah ngakak lo berdua. Temen laknat.”
“Udah gitu, pas banget momennya, pas ada razia yang ngegeledah tasnya malah Pak Cipto. Akhirnya Pak Cipto yang ngambil pembalut itu sambil koar-koar marah sama pengen ketawa di kelas.” Mars berkata sambil memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa berlebihan dan hal itu tak berbeda jauh dengan Adlen yang masih tertawa puas.
“Kok lo nggak cerita dari kemarin, sih?” tanya Adlen disela-sela tawanya.
Adlen tak benar-benar tahu rincian cerita tentang pembalut itu yang terjadi sekitar tiga hari yang lalu, pasalnya ia berbeda kelas dengan kedua temannya itu. Ia hanya mendapat garis besar cerita dari hot trending news di social media sekolahnya. Apapun yang dilakukan mereka bertiga, entah mengapa selalu cepat tersebar ke seantero sekolah. Baik itu hal yang paling bagus atau memalukan.
“Emang apa bedanya kalo lo tau dari kemarin?” Zion melotot kesal ke arah Adlen.
“Eh selow mas, sewot amat.” Mars cekikan sambil merangkul kedua temannya.
“Hati-hati lo sama Altha.” Mars sok memperingatkan.
“Dia itu wondercat.” lanjut Mars.
Zion dan Adlen mengernyit heran, menoleh bersamaan pada Mars di sampingnya. “Eh bego. Maksud lo wonder woman?”
“Awww…” Mars mengelus kepalanya yang baru ditoyor Zion. “Yaelah, diamah wondercat, orang dia suka banget sama kucing. Waktu gue tembak dia, kan gue ngasih dia kucing Persia, of course Altha seneng banget. Tapi, lo berdua tau nggak, besoknya pas mutusin gue dia kerumah gue sambil bawa duit ratusan ribu. Abis mutusin gue dengan ngasih alasan yang ambigu di bilang ‘Milonya Mars… gue sayang Milo, gue beli boleh nggak?’ Waktu itu gue cuma bisa ngangguk syok apalagi gue dipeluk kegirangan pas gue suruh bawa aja si Milo nggak usah di bayar.”
“Milo?” Adlen membeo.
“Kucing Persia yang dia beli di petshop waktu kita balik dari rumah lo, Dlen.” jelas Zion.
“Ih, tambah sayang gue sama Altha. Mana dia namain si Milo biar huruf depannya sama kayak gue.” Mars nyengir bercanda.
“Najis.” Zion mendengus.
“Nggak usah ngebanci, Mars. Pacaran sehari doang aja bangga.” Adlen nyeletuk sadis.
“Sialan lo berdua.”
»»««
Di tunggu vote dan comment nya yaaa, gaess.
Ada typo, lapor ya bosquee :v
Minggu, 24 juni'18
ESTÁS LEYENDO
My Badboy
Novela JuvenilZion itu bego. Makanya Altha diminta Pak Faisal -salah satu guru Fisika yang paling Altha suka, untuk menjadi tutor sebaya Zion. "Zion bego." rutuk Altha. "Tapi lo lebih bego." Zion menyeringai saat ditatap tajam Altha. "Soalnya, lo pasti cuma teri...
