Ch 19: Ada Apa dengan Papah?

5.8K 547 39
                                    


"Kak, Papah!" seru Andre panik.

"Kenapa dengan Papah?" tanyaku, "ayo!" aku pun memutuskan untuk langsung kerumah Dimas, menembus hujan.

Hampir semua lampu di rumah Dimas di padamkan, hanya ada beberapa ruangan kamar saja yang dihidupkan. Hujan malam ini sungguh lebat. Sesekali terlihat cahaya kilat di jendela, disusul gemuruh petir yang memekakkan telinga.

Seperti di film harror saja. Batinku.

Aku melihat Alvin keluar dari sebuah ruangan, dan berlari menghampiriku. Ia menggunakan baju tidur bertema luar angkasa yang pernah aku belikan, dulu.

"Tante, tolong Papah!" pinta bocah empat tahun itu, menarikku masuk ke ruangan yang tadi ia keluar.

Ternyata itu adalah kamar Dimas. Aku lihat kamarnya begitu berantakan, berbanding terbalik dengan kamar si kembar dan Alvin yang pernah aku masuki. Baju berserakan dan di lantai aku melihat bercak muntahan yang ditutup kain asal, kacau. Penampilan Dimas juga tidak jauh beda. Ia terbaring diatas ranjangnya, meringkuk dibalik selimut tebal, wajahnya memerah dengan napas tak beraturan.

"Tante, Papah sakit." ujar Andrea yang sejak tadi duduk di sebelah Dimas, menunggui Papahnya.

Aku bergegas menghampiri Dimas, duduk di tepi ranjangnya. Menempelkan telapak tanganku ke dahinya, panas.

Dimas membuka matanya dan bergerak perlahan. Ia menutup mulut, mual. Belum sempat beranjak dari kasur, Dimas memuntahkan isi perutnya di selimutnya sendiri. Tapi yang keluar hanya lah air, mungkin karena isi perutnya kosong.

Aku memijat tengkuknya, yang ternyata tidak pakai baju. OMG, aku bisa melihat lekuk tubuh Dimas yang begitu menggoda, bagai model Trust me, it's work. Sayangnya ini bukan waktu yang tepat untuk, bla bla bla.

Aku menatap ketiga anak Dimas, "Sejak kapan?" tanyaku.

"Sejak magrib Kak."

"Kenapa kalian baru bilang sekarang." aku membantu Dimas berbaring kembali, "ayo kita ke rumah sakit."

Dimas menarik tanganku dan menatapku lemah, "Enggak.. anak-anak.. nanti juga mendingan.." tolaknya.

"Udah minum obat?" tanyaku pada ketiga bocah yang masih terjaga meski ini sudah memasuki jam mimpi indah.

"Obat?" beo mereka, "OBAT.. DIMANA OBAT?!" mereka berputar-putar, panik, mencari kesana kemari sambil mengucapkan kata 'obat'.

Dimas tertawa lemah melihat kelakuan absurd ketiga anaknya. "Tidak punya," katanya singkat, kembali meringkuk dengan selimut yang sudah ternodai.

"Bawakan air hangat dan handuk kecil!" perintahku pada mereka. Aku rasa mereka tidak tau cara merawat orang sakit. Mungkin ini pertama kalinya mereka melihat Papahnya sakit.

Mereka bergagas berlari menuju luar kamar. Aku kembali fokus kepada Dimas yang kembali memejamkan mata.

Aku beranjak ke lemari Dimas, mencari selimut baru. Tapi hasilnya nihil. Bahkan isi lemari pakaian nyaris kosong. Mungkin keranjang berisi tumpukan kain di sudut ruangan, bisa menjadi jawabannya.

"Aku pulang sebentar, mengambil obat." ujarku.

Tak lama kemudian..

Aku kembali dengan menenteng selimut, bubur instan dan obat dari rumah. Ketiga anak Dimas duduk berjejer di sebelah Papahnya, cemas.

"Mana air hangatnya?" tanyaku. Saat tidak melihat baskom berisi air yang aku perintahkan.

"Itu," mereka menunjuk gelas diatas meja berdampingan dengan handuk kecil.

Antara Duren dan Durjana©[TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang