• [0] • Prolog

453 42 3
                                        


///

"Hujan"

Kembali teringat.

Diri ini
terombang-ambing.

Tenggelam di dalam keraguan.

Mungkin juga, penyesalan.

Dengan sedikit keberanian.
Ku mulai memberanikan diri memajukan tanganku, merasakan setetes demi setetes air yang jatuh.

Bau tanah ini masih sama
Rasa dingin ini masih sama
Halte ini pun juga tidak begitu berubah.

Masih sama....

Bibirku memberikan sedikit
lengkungan kecil; miris.

Senyuman miris.

Diri ini begitu menyedihkan.

Takdir suka sekali mempermainkan diri ini.

Kumulai memenjamkan mata,
kemudian menarik nafas panjang.

Tenang, diri ini harus tenang.

Setenang hujan yang turun ini.

Tenang.

Ternyata tarikan nafas panjang tadi, tidak membuatku lebih baik. hal itu memperburuk keadaan.

Kembali terputar,
memori-memori masa lalu yang telah ku kunci.

Memori itu gembok, dan kuncinya adalah; hujan.

Hujan; sang pemicu.

Seketika badanku menjongkokan diri, berusaha memeluk kedua kakiku dengan erat.

Dia kembali muncul,
potong-potongan masa lalu itu,
muncul.

Badanku bergetar cukup hebat, aku mulai merasakan sesak yang amat sakit, dan air mata ini tidak bisa tertahan lagi.

Andai diri ini, tidak egois
Andai diri ini, tidak berkhianat
Dan, andai diri ini, bisa mengikhlaskan.

Hanya ada penyerahan
Hanya ada kesakitan
Mungkin, hanya ada penyesalan

"....Aratha" lirihku.

Potongan-potongan itu berotasi membuat suatu rangkaian.

Rangkaian itu berawal dari; hujan.

Iya, hujan.

Semuanya berawal dari situ.

Jadi, Ku persembahkan hujan
sebagai pengantar saksi bisuku dengannya yang tiada.

///

Hai finito le parti pubblicate.

⏰ Ultimo aggiornamento: May 31, 2019 ⏰

Aggiungi questa storia alla tua Biblioteca per ricevere una notifica quando verrà pubblicata la prossima parte!

Ebb.Dove le storie prendono vita. Scoprilo ora