Suasana yang mencekap dengan kegelapan dan kesunyian yang menyelimuti area ini membuat seorang gadis kecil bersemangat, lain hal dengan seorang gadis kecil lainnya yang nampak takut di dalam pangkuan sang ayah.
Suara tangisan gadis yang ada di pakuan itu terus terdengar, membuat saudaranya yang sedang menikmati boneka-boneka yang dipajang merasa terganggu.
Aruna memeluk sang ayah dengan sangat kuat, walaupun sang ayah berusaha melepaskannya Aruna pasti langsung mengencangkan pelukannya itu kembali.
Sebenarnya ia tidak takut dengan boneka, namun ia takut dengan suasana gelap seperti ini. Ia selalu membayangkan monster kegelapan yang akan memakannya dan membuat dirinya tidak bisa melihat keluarganya kembali.
Lain hal dengan Aluna Mahendra, dia gadis yang pemberani seakan tidak kenal takut. Jika anak kecil lainnya akan menjauhi serangga dan menangis, tapi tidak dengannya. Ia justru akan menghampiri serangga itu dan menangkapnya dengan tangan kosong, setelah itu dia pasti akan memberikan serangga yang sudah ia tangkap kepada ibunya yang memang sangat membenci serangga. Tingkah jahilnya kerapkali membuat rumah keluarga Mahendra selalu dalam keadaan berisik.
Kembali Ke Aruna yang sudah berada di gendongan sang ibu setelah wahana yang mereka tumpangi sampai tujuan dengan selamat, namun tentu dengan tangisan yang berubah lebih keras. Tangan lembut ibunya menenangkan Aruna dengan cara menepuk punggungnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Aluna yang selalu energik menarik tangan sang ayah untuk mengajak nya menaiki wahana Rollecoaster yang terlihat menyenangkan dimatanya. Tapi karena usia Aluna yang belum mencukupi minimum untuk menaikinya, sang ayah memberikan senyuman lembut dan perhatian kepadanya.
"Ayah Luna mau naik~"
Radit Mahendra, berjongkok di hadapannya memposisikan agar sejajar dengan putri cantiknya itu.
"Nanti kita kembali ke tempat ini lagi saat kau besar dan menaiki rollecoaster bersama ya~?" ucap lembut Radit dan ternyata hal ini berhasil membuat putrinya mengerti terlihat dari kepalanya yang mengangguk sambil tersenyum.
"Ini baru namanya Princess ayah yang paling cantik~"
"Aku bukan Princess ayahhh! Aku Queen sama seperti Queen Ellsa!"
"Iya-iya Queen Aluna yang cantik anaknya ayah"
Radit yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa gemasnya kepada putri kecilnya itu akhirnya ia mencubit kedua pipi Aluna dengan gemas.
,
,
,
"Aluna sayang jangan ganggu kakakmu!~" teriak lembut sang ibu yang tidak turut didengar.
Aruna yang kini mulai kesal karena terus saja dijahili oleh Aluna akhirnya menangis hingga membuat Sri Kartika menghampiri mereka berdua yang berada di ruang tv.
Walaupun Aruna sudah menangis dan Tika sudah melerai mereka tapi Aluna masih belum berhenti sampai disana, ia masih saja mencoba menjahilinya dengan memberikan kecoa yang sudah mati kepadanya.
Memang sejak mereka masih bayipun Aluna sudah terlihat sifat jahilnya kepada Aruna yang notabennya adalah kembarannya sendiri. Aruna yang lahir lebih dahulu 5 menit dari Aluna tidak lantas mendapat kehormatan dari sang adik, justru ia akan menjadi korban kejahilan Aluna. Walaupun mereka adalah anak kembar tetapi tidak ada satupun hal yang membuat mereka terlihat mirip kecuali umur mereka.
Perbedaan yang paling mencolok adalah sifat mereka yang bertolak belakang. Aluna Mahendra adalah gadis yang sangat ceria, positif dan hyper aktif. Sedangkan Aruna Mahendra adalah gadis yang pendiam dan sangat terlihat anggun saat ia diam atau berbicara.
