BAE 1 : Pacar Rasa Setan

33.3K 2.5K 99
                                        


Pernah punya pacar ketus tapi untungnya ganteng?

Della menghela nafasnya berat. Cewek itu menopang dagunya dengan satu tangannya. Dia sedang memikirkan betapa menyesalnya dia menerima saat Gibran menembaknya.

Harusnya dia tolak saja mentah mentah kalau taunya Gibran masih seketus dulu. Gibran Alvino Fidellio, cowok ganteng tapi ketus banget itu tinggal di depan rumahnya alias tetangga Della.

Dua minggu lalu dia dan Gibran resmi pacaran. Iya pacar rasa musuh. Tiap hari Della harus makan hati kalau dengar Gibran bicara. Ngomong sih irit. Tapi sekalinya ngomong malah nyelekit. Mending nggak usah ngomong saja kalau begitu dari pada bikin sakit hati.

Sudah pukul 12 siang tapi Gibran belum pulang juga. Niatnya sih mau meminjam buku Matematika milik pacarnya karena kebetulan mata kuliah Della ada pelajaran Statistika.

Della duduk di depan pagarnya sambil menunggu Gibran. Sudah mirip anak durhaka yang lagi di usir orang tuanya. Bener deh. Kalau bukan lagi butuh-butuhnya buku itu, dia nggak bakalan mau lah nungguin cowok bermulut cabe itu.

Tapi saat motor merah sport milik Gibran menepi di pinggir rumahnya. Della kontan melompat dari duduknya. Dia menghampiri Gibran yang baru akan turun dari sana.

"Gibran."

Gibran membuka helm full facenya dan membuat rambut cokelat gelapnya menjadi berantakan. Tapi entah kenapa itu malah memberikan kesan semakin ganteng. Della saja sampai menarik nafasnya deg-degan.

Setan. Makin ganteng aja pacar gue. Batinnya sebal.

"Gib, pinjam buku cetak Mtk lo dong. Gue udah chat lo materinya kan semalem?" Ucapnya. Tapi responnya hanya mengerutkan dahinya. "Yang Statistika itu loh. Yang kayak gambar semalem gue kasih."

"Oh." Jawabnya biasa saja padahal Della sudah ngomong panjang lebar pemirsahhh. Pajang dan lebar.

"Ada nggak?"

"Ada."

"Boleh pinjem?"

Gibran mengangguk lalu jalan menuju pintu rumahnya. "Buku SMA lo mana?"

Della terdiam."Gue loakin." Dia menyengir kuda. "Abisnya nyempitin bawah kasur gue."

Gibran memandang Della datar lalu berkata, "Makanya, kalo udah tau bego itu tau diri."

Jleb. Tsadesst

"Gue juga nggak tau kalo ujung-ujungnya ketemu Mtk juga pas kuliah." Ujar Della tak mau disalahkan.

Niatnya untuk menghindari soal berbau Mtk, eh Della malah bertemu dengan Statistika. Sial banget nggak sih.

Gibran masuk ke dalam rumahnya. Baru akan melangkah menuju tangga tiba-tiba seorang wanita paruh baya keluar dari dapur. Dia tak lain adalah Dian, Mamanya Gibran.

"Hey, udah pulang kamu?" Ucap Dian saat melihat anaknya di bawah tangga.

Gibran mengangguk.

"Eh Della. Pulang bareng Gibran ya?"

Hampir saja Della tertawa. Gibran? Menjemput Della tanpa diminta? Impohh-ssibleeh. Ya ampun. Itu kan nggak mungkin banget. Yang ada Gibran pasti mikirnya kalau menjemput Della adalah buang-buang waktu. Della menggeleng. "Nggak, Tante. Aku kesini cuma mau minjem buku Gibran."

"Oh gitu. Ya sudah, Tante lanjut masaknya ya." Tapi Dian teringat sesuatu, "Gib, jangan tutup pintu ya."

"Hm."




🌸🌸🌸



"Bener?" Gibran bertanya pada Della yang tengah meneliti isi buku cetak milik pacarnya.

"Bener."

"Ya udah." Ucap cowok itu.

"Oke. Gue pinjem ya. Emm, senin depan gue kembaliin."

"Nggak usah."

"Tapi nanti lo belajar pake apa?"

Gibran  memutar kedua matanya, "Gue beli lagi."

"Dih mubadzir gila."

"Buat lo aja."

"Nggak. Pokoknya gue kembaliin."

"Gue bisa beli lagi."

Della mendecak. "Ya udah deh gue balik dulu ya. Makasih udah pinjemin."

Tapi saat Della akan membalikkan tubuhnya tiba-tiba Gibran menarik tangan Della sampai membuat Della tidak jadi pergi.

"Kenapa?"

"Itu aja?"

"Apanya?"

"Gue kasih lo buku. Lo kasih gue apa?"

Duh. Jantung Della rasanya seperti berdisko. Jangan-jangan Gibran minta cium lagi. Kebanyakan cowok kan gitu, habis ngasih sesuatu terus minta ini itu.

Della belum siap Ya Allah kalo nyium ini cowok. Takutnya kalo dia nyium Gibran, besoknya Della nggak tega buat gosok gigi dan menghilangkan bekas Gibran di bibirnya. Della nggak tega.

"Pacar itu ngasih bunga, cokelat ato apa kek. Ini buku. Buku pelajaran pula."

"Buku pelajaran bagus buat lo yang bego."

Aishh sadis banget. Della sampai mengelus dadanya sambil istigfar.

"Mana?"

"Lo mau apa?"

Gibran mendekatinya. Wajahnya semakin dekat dengan Della sampai membuat cewek itu memerah karena malu. Asli, jantung Della deg-degan parah. Della belum siap Ya Allah. Tapi saat Gibran hampir menyentuh pipi kirinya. "Bilang, gue sayang lo, Gibran."

BRUKK

Dell Mendorong Gibran hingga menabrak lemari bukunya. "Be a en ge es a te. Punya pacar kayak setan. Udah ngarep juga."

"Ha?"

Aduh. Della menutup bibirnya rapat-rapat.

"Ngarep apa?"

"Gue balik dulu."

"Ngarep dicium kan lo?" Tebak Gibran dengan wajah yang super menyebalkan.

"Diem lo."

"Imut." Ucap Gibran dengan senyum tipisnya.

"Dieeeeeemmm!" Teriak Della sambil membanting pintu Gibran sebal. Kayaknya beberapa hari kedepan dia malu banget untuk bertemu Gibran.

Before Anyone ElseWhere stories live. Discover now