ALANA berlari kecil sambil menatap sekeliling lorong sepi pagi itu dengan harap-harap cemas. Hari ini dia memilih berjalan memutar dari lorong utama untuk sampai kekelas. Pasalnya ada seseorang yang belakangan ini selalu mengganggunya hingga membuat dirinya tidak nyaman berada satu gedung dengan orang itu.
Rey namanya, cowok yang namanya sering di bicarakan oleh teman-temannya. Bukan karena prestasi melainkan sensasi, tentu saja. Selain itu mereka juga mengatakan jika Rey punya wajah keren yang bisa membuat siapapun tidak dapat memalingkan wajah dan hanya terfokuskan padanya. Cowok itu disebut-sebut sering terlibat perkelahian dan suka membolos. Beberapa kali Alana juga pernah melihat cowok serba masalah itu dihukum beserta dengan anggota gengnya yang lain dilapangan.
Alana semakin mempercepat langkahnya, beberapa kali manik cokelat itu melirik jam yang melingkar ditangan kirinya sambil berharap bisa segera sampai di kelas. Ditatapnya kembali sekeliling lorong dengan perasaan cemas, dan takut.
"Buru-buru?" tanya suara bariton dari belakang Alana.
Alana membeku, gerakan kakinya seakan terhenti detik itu juga. Perlahan iamemejamkan matanya berharap jika suara itu hanyalah delusi akibat ketakutannya semata.
Ok, semoga saja itu hanya perasaan Alana saja!
Satu.
Dua.
Tiga.
Alana menghitung dalam hati ketika perlahan menoleh kebelakang.
"Lo gak takut lewat lorong sepi kaya gini?"
Sial! Bagaimana bisa Rey tahu dia memilih lorong ini?
Alana mendadak lemas, bahkan dirinya hanya bisa menghela napas berat dengan tubuh bergetar saat melihat seorang cowok itu sudah berdiri beberapa meter dibelakangnya.
Begitu mata mereka saling beradu, sebuah lengkungan muncul disudut bibir Rey, "Oh, iya. Kan ada gue." cengirnya.
Alana menunduk dalam begitu melihat Rey berjalan kearahnya dengan seringaian khas yang menurutnya menakutkan itu.
"Kenapa lo selalu menghindar?" kata Rey tepat dihadapan Alana sambil ikut menunduk mengintip gadis itu yang terlihat ketakutan.
Ya, Alana memang ingin menghindar, lebih tepatnya ia ingin menghindari sumber masalah seperti dia.
"Gue-"
Alis Rey bergelombang, merasa penasaran dengan semua alasan dari sikap acuh gadis itu. Bahkan sekali pun Alana takut, semua gadis di SMA ini tidak ada yang bisa menolaknya dengan alih-alih kepopuleran dan wajah tampannya, "kenapa?"
Bahkan Alana tidak lagi bisa menjawab, bibirnya terasa kelu. Haruskah dia mengucapkan secara gamblang ketidaksukaannya itu? Tapi bagaimana jika Rey marah? Tentu saja itu akan semakin mempersulit semuanya. Namun jika memungkinkan untuk Rey menjauh, ia akan mengungkapkannya.
"Gue gak suka sama lo. Jadi, jangan ganggu gue." ucap Alana melengos pergi tanpa mau memperpanjang urusannya dengan Rey.
Mendengar ungkapan jujur dari mulut Alana, justru membuat Rey terkekeh. Tidak tahu kenapa tapi hal itu terdengar lucu ditelinganya.
Melihat Alana yang tiba-tiba saja ingin pergi. Rey sontak berlari kecil, hingga tepat didepan gadis itu lagi ia langsung merentangkan tangan untuk memblokir jalan. Rey tidak ingin membiarkannya lolos begitu saja. Dan terlihat, sekarang Alana semakin menampakkan kekesalannya sambil menatap tajam dirinya.
"Coba jelasin ke gue alasan ketidaksukaan lo selama ini. Apa gue kurang ganteng? Kurang populer? Kurang keren? Kurang tajir? Atau kurang wangi?" setelah mengatakan itu, Rey mencium bau tubuhnya sendiri dan kembali berkata, "Tapi, tiap hari gue udah pake deodoran sama parfum. Wangi kok. Kata semua cewek di Cendrawasih gue itu pacarable, sempurna kalo kata bang Andra. Kayanya gada alasan buat lo nolak gue." cerocosnya panjang lebar.
YOU ARE READING
Perfect Bad Boy
Teen Fiction"Coba jelasin ke gue alasan ketidaksukaan lo selama ini. Apa gue kurang ganteng? Kurang populer? Kurang keren? Kurang tajir? Atau kurang wangi?" setelah mengatakan itu, Rey mencium bau tubuhnya sendiri dan kembali berkata, "Tapi, tiap hari gue udah...
