Seorang gadis berjalan ceria memasuki gerbang sekolah, sesekali ia menyapa siswa-siswa SMA Bangsa dan guru-guru yang berpapasan dengannya. Gadis itu menyebarkan senyum kepada semua orang, bahkan yang tidak dikenalnya sekalipun. Ia seperti penyebar keceriaan di pagi hari. Sambil terus berjalan menuju kelasnya, ia bersenandung kecil. Tiba-tiba saja senyum gadis itu melebar, ia kemudian mempercepat langkahnya, mengambil langkah panjang dan cepat.
"RAKA!" Panggilnya kencang, menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka. Sedangkan yang dipanggil tak menanggapi, bersikap seolah-olah tak mendengar apapun. Namun, sikap cowok membuat si gadis gemas, langkah kaki yang tadi dipercepatnya pun berubah menjadi larian kecil. Menghampiri cowok yang tidak menanggapinya.
"Aw! Aw! Sakit, sakit, ampun sumpah ampun, Ap!" Dengan satu kali cubitan, sukses membuat Raka mengaduh sambil memohon ampun sedangkan Aprillia si pencubit justru terkikik dan melepaskan cubitannya. Raka menatap Aprillia kesal, merasa sedikit menyesal mengenal Aprillia.
Setelah kejadian di warung Pak Tarno, kehidupan Raka yang awalnya tenang-tenang saja berubah. Renata, sahabat Aprillia yang merupakan sepupu dari Raka memutuskan mengenalkan Raka dan Aprillia lebih dekat. Ya, nggak gitu juga sih sebenarnya. Orang tua Renata sedang ada urusan pekerjaan di Papua dan memutuskan untuk menitipkan anak semata wayang mereka di rumah Raka selama seminggu, sampai mama Renata pulang. Tapi hari pertama tinggal serumah dengan Renata, hidup Raka nggak ada tenang-tenangnya.
Raka tahu kalau Renata itu anaknya emang nggak bisa diem dan ngeselin, tapi Raka nggak pernah tahu kalau Renata itu anaknya ternyata jorok dan SUPER DUPER TRIPLE NGESELIN. Kamar Renata tepat di sebelah kiri kamar mandi, lantai 3 di rumahnya. Di sebelah kanan kamar mandi adalah kamar Raka. Otomatis kamar mereka berdekatan dan mereka harus berbagi kamar mandi yang sama. Jadinya, selama Renata tinggal bersama Raka, Raka harus menahan diri. Bukan menahan apa, tapi menahan emosi batin, jiwa, raga. Ah ya, menahan diri untuk nyantet Renata juga.
Sumpah demi apapun, kalau Raka telat bangun dan Renata mandi duluan, itu anak mandinya lama banget saking lamanya bisa bikin Raka telat ke sekolah. Mereka pakai kendaraan sendiri-sendiri. Renata pakai motor dan Raka pakai mobil. Renata yang mau kok, bukan Raka yang nggak gentle. Udah gitu, kalau Renata selesai mandi nih ya, sabun mandi dan sabun untuk muka dan masker atau apapun itu milik Renata ditinggalkan berceceran begitu saja di wastafel. Ya, Raka kesel, lah.
Hari ketiga Renata tinggal di rumah Raka, dia bawa teman. Si Aprillia. Aprillia anaknya sopan. Pas nyampe, nyapa Mama dan Papa Raka dulu, setelah itu diajakin makan sama Mama Papa Raka, dan Aprillia berhasil 100% merebut hati dan jantung kedua orangtuanya. Sampai-sampai Aprillia disuruh datang lagi walaupun nanti Renata kembali ke rumahnya. Awalnya Aprillia kaget sih pas lihat Raka, namun ternyata anaknya pandai mengendalikan ekspresi dan emosinya. Dia tetap tenang sambil senyum dan menyapa Raka singkat.
Pas selesai makan, baru bencana dimulai. Ternyata Aprillia mulutnya sama gak nyantenya dengan Renata. Dia bawelnya luar biasa, pas masuk kamarnya Renata, tuh anak suaranya udah sampai keluar dan kedengarannya sih lagi ngomelin kejorokan Renata. Raka yang mendengar bacotan Aprillia ketika ngelewatin kamar Renata sampai ikut pusing, telinganya rasanya mau ikutan lepas. Gak kebayang deh rasanya jadi Renata saat itu. Tapi Raka juga senang sih, akhirnya ada juga yang bisa ngomelin Renata yang seenaknya. Habis, selama ini, Raka kesal tapi diam saja, males nanggepin.
Raka pikir ya okelah, Aprillia anaknya baek. Tapi yang terjadi berikutnya benar-benar nggak nyante. Kayaknya sih, Aprillia cerita tentang ketukarnya minuman mereka waktu di warung Pak Tarno ke Renata. Gila, Renata langsung keluar kamar dan menggedor-gedor kamar Raka, dan ketika Raka keluar, dengan tatapan takjub si Renata ngeguncang-guncang badan Raka dan bilang,
"Lo udah kenal lama sama Aprillia? Ish, kok bisa pertemuan kalian keren gitu? Mau dongg, kayak di drama-drama Korea!" Tatapan berbinar Renata berhasil membuat Raka risih, dalam pikiran Raka saat itu, lebay woi. Tapi, Raka nggak berani bilang, takut dibacok sama Renata. Lagian nih ya, Raka nggak pernah ngobrol lagi sama Aprillia setelah kejadian itu. Udah selesai. Gak ada lanjutan lagi.
YOU ARE READING
ADDICTED
Teen Fiction[UPDATE TIAP KAMIS & SABTU] "3 drinks, 2 choices, 1 love." Berawal dari segelas teh hangat bersanding dengan es teh manis dan secangkir kopi hitam, sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada malah menjadi serangkaian kisah yang memeras emosi ketiga...
