3. Berangkat bareng

1.7K 213 236
                                    

Hai, kasih tulisan aku ini komentar ya. Supaya tulisan ku lebih baik lagi, aku bakalan terima dengan senang hati setiap komentar kalian.🙏🏽💙

Ohya, jangan lupa kalian buat vote dan comment tulisan aku ini❣️
Thankyou,💝.

Pagi hari sekali Aresha berangkat sekolah karena kata Bundanya hari ini tidak ada yang bisa mengantarnya. Jadi, dia berangkat pagi untuk naik angkutan umum. Aresha berjalan keluar dari gerbang rumahnya untuk menuju halte yang berada di simpang rumahnya dan menunggu angkutan umum yang akan mengantarkannya ke sekolah nanti.

Sampai di halte dia duduk di kursi panjang terbuat dari besi yang disediakan oleh halte tersebut. Udara pagi masih sangat dingin dan Aresha lupa membawa jaketnya karena terburu-buru.

Aresha memeluk dirinya sendiri sembari menoleh ke kanan dan kiri siapa tau ada angkutan umum yang lewat. Tapi, sudah 10 menit dia menunggu dan angkutan umum belum lewat juga.

'Mungkin kepagian kali ya Bunda nyuruh aku nunggu di halte? Makanya belum ada angkot jam segini' batinnya berbicara.

Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan kaki lagi sampai ke depan dekat pangkalan ojek, dia memutuskan untuk naik ojek saja karena dia bosan memunggu angkutan yang belum lewat dari tadi.

"Neng?" panggil tukang ojek itu

"Neng? Sama abang aja yuk, abang anterin deh si neng cantik ke mana aja. Asal sama abang" sahut tukang ojek yang memakai bandana berwana merah

Aresha hanya memutar bola matanya malas mendengar rayuan-rayuan tukang ojek itu. Dia tidak menanggapi semua rayuan orang-orang itu.

'Idih. Najis amat tukang ojek aja banyak gaya banget!' batin Aresha kesal

Sampai salah satu diantara mereka menghampiri Aresha dan menarik tangannya untuk duduk di jok belakang motornya tapi Aresha berusaha melepaskan tarikan tangan orang itu.

"Eh apa-apaansihh?!?! Lepasin ga?!" ucap Aresha emosi dan terlihat ketahuan

"Lepasin!! Gue gajadi naik ojek! Mending lo lepasin atau—awww" Aresha meringis karena tarikan tangan itu semakin kuat membuat kulit putih Aresha menjadi berwarna merah

"Eh dek, masih kecil aja belagu amat sih!" jawab tukang ojek yang menarik tangan Aresha.

Tiba-tiba saat tukang ojek tersebut akan menjalankan motornya, ada yang menarik jaketnya dari samping hingga ia hampir terjungkal ke samping.

"Kurang aja banget lo bocah!" bentak tukang ojek itu

"Apa mau lo? Lepasin dia. Beraninya sama cewe mainnya maksa. Banci lo mas!" Lelaki yang kini berdiri di samping tukang ojek tersebut menampilkan kilatan kemarahan di matanya.

Aresha memperhatikan lelaki itu sangat dalam padahal sekarang mereka sedang dalam keadaan tidak bersahabat atau lain kata mereka sedang marahan. Ya. Lelaki itu Farrel yang malam tadi habis-habisan membuat amarahnya melonjak.

Aresha segera turun dari motor tersebut dan berjalan ke bawah pohon yang aman dari jangkauan para ojekers tadi. Dia memperhatikan lelaki yang sedang memberikan pukulan kepada ojekers tersebut.

Sekarang terlihat Farrel berjalan semakin dekat untuk menghampiri Aresha. Aresha masih bergeming di tempat menatap lurus ke depan memikirkan apa yang akan dibicarakan sama lelaki yang sedang menjadi musuhnya itu.

Sincerity of AreshaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang