Hari ini Nata benar benar dibuat gondok. Bagaimana tidak? Dia bangun kesiangan. Mesin mobilnya rusak sampe Pak Mantri nggak bisa nganter. Dan satu lagi! PR Matematika nya, tugas dari Bu Sri. Guru paling killer, bertanduk merah, dan bergigi taring---maaf nggak separah itu---belum selesai dikerjakan!
Nata tengah berdiri di sebuah bus sambil berdesakan dengan penumpang lain. Kalau nggak terpaksa, Nata nggak bakal mau naik bus. Berdiri didekat om dan mas mas yang mukanya mupeng semua. Bikin Nata eneg!
Berkali-kali dia mengipasi wajahnya dengan tangan kanannya. Dan tangan kiri berpegangan pada besi bus. Dilihat arlojinya. Pukul 06.50. Sontak Nata menganga. Wajahnya berubah cemas. Nata menggaruk kepalanya.
Gimana nih?!
Turun? Nggak mungkin. Kan nggak lucu pas bus jalan terus tiba tiba Nata loncat dan dari depan ada sebuah mobil beroda tiga, lebih tepatnya bajaj sedang melaju dengan kekuatan cepat dan ia tertabrak. Nggak lucu! Apa kata dunia? Seorang gadis remaja tewas tertabrak bajaj. Nggak pantes!
Terus? Apa dia harus menerebos ke depan, melewati sengatan sengatan keringat penumpang yang berdiri dan mengguncang kedua pundak supir itu sambil berkata, "Tolong Meydey! Gue telat sekolah! PR gue belum dikerjain! ". Dan seketika supir bus itu terharu dan membiarkan Nata yang membawa bis supaya mengebut. Ini lebih nggak mungkin.
Akhirnya Nata melemaskan tubuhnya dan pasrah.
⤵⤵⤵
Nadin menatap arlojinya. Dari sepuluh menit yang lalu dia berdiri di depan koridor utama sekolah dan keadaan sepi. Sebagian banyak murid sudah masuk ke dalam kelas.
Mau bilang apa? Murid masuk tepat waktu karena rajin? Bukan! PR yang belum di kerjain, piket karena terpaksa, dan satu lagi! Menjauhi serangan dari Bu Sri! Guru Matematika killer, sekaligus Guru BP yang menakutkan! Hih!
Nadin menunggu seseorang. Siapa yang ditunggu? Siapa lagi kalau bukan Rama. Ia menghembuskan nafasnya. Dimana Rama?
Hah! Tak lama senyum mengembang di bibirnya. Rama datang dan memarkirkan motornya.
⤵⤵⤵
Bus berhenti di depan halte sekolah Nata. Dengan mengerahkan seluruh tenaga, Nata mulai bersiap menerobos semua cobaan di depannya. Posisinya berada di tengah badan bus. Jadi susah banget buat keluar.
"Misi.."
Beberapa penumpang yang berdiri meminggirkan tubuhnya. Nata berjalan sedikit membungkuk.
"Misi.." Ucapnya sekali lagi. Namun seketika puluhan penumpang berdesakan untuk turun dan naik. Nata kembali terdorong ke belakang. Kericuhan mulai terjadi.
"Sini sini! Duduk disini!" Teriak penumpang yang baru naik, mengajak kerabatnya.
"Woi! Permisi mau turun!"
"Yang turun dulu dong!"
"Woy gantian!" Teriak penumpang bersahut sahutan.
Nata terdorong dan berhenti di tengah. Ia mengacak acak rambutnya yang sama sekali nggak disisir waktu berangkat.
"MISI!!" Ucap Nata agak kencang. Namun semua sibuk.
Bus masih berhenti dan menunggu di dalam benar benar dalam keadaan normal. Nata menganga seketika dan menunggu semua kembali tenang.
Tiga puluh detik kemudian, selesai. Bus telah aman kembali. Nata menghembuskan nafasnya. Akhirnyaaaa!
Baru satu langkah Nata berjalan menuju pintu depan, bus kembali berjalan. Nata panik. Kesal! Emosi!
"TOLONGGGG!!!" Teriak Nata kencang.
Seketika bus mengerem mendadak. Seluruh penumpang, kenek, dan supir bus menatap Nata dan menganga. Nata menatap ke semua arah.
"Kalian nggak tau gimana perasaan saya? Yang mau keluar dari tadi tapi..." Ucap Nata berakting menangis dan meletakkan tangannya di dahi.
"...lelah, penuh, dan sesak!"
Semua menatap Nata dan terdiam.
"Tapi apa? Kalian semua nggak melihat anak sesuci, secantik, dan selucu saya yang meminta untuk turun!"
Para penumpang menganga dan berkedip beberapa kali. Apa apaan ini? Drama!
Seketika jalan terbuka lebar. Semua penumpang tersenyum dan membuka jalan untuk Nata. Di depan sana terdapat cahaya yang terang. Semakin Nata melangkah maju, semakin jelas wajah itu. Wajah kenek bus di depan pintu sambil tersenyum dengan topi kainnya dan handuk kecil dilehernya sambil menggenggam sejumlah uang ditangan kirinya. Nata tersenyum menghampiri kenek.
Dan, padahal yang terjadi... semua penumpang menatapnya aneh.
"Apaan sih, neng? Turun dah gih turun!" Ucap supir bus.
Nata cengengesan. "Makasih!"
Nata menuju pintu dengan tatapan aneh dan menganga dari seluruh penumpang. Ia serahkan uangnya ke kenek bus, kemudian turun dan menjauh.
"Huh!"
Bus itu kemudian kembali melaju. Nata menatap ke arah bus. Penumpang itu masih menganga dan menatap Nata. Ia melambaikan tangannya sambil senyum bersahaja. Apa banget!
Kembali ditatapnya arlojinya. Pukul 06.59. Nata menganga. Itu berarti satu menit lagi! Satu menit lagiiii!!!
Nata mulai beraksi menatap jalan raya yang penuh kendaraan. Nata memundurkan langkahnya. Nggak bisa nyebrang! Tau sendiri kan jalanan Jakarta kayak apa. Apalagi jam kerja gini. Tapi kalau bukan sekarang, kapan lagi? Apa dia harus nunggu orang lain ikut menyebrang?
Seketika Nata menggeleng. Dulu, waktu Nata naik bus juga dan nunggu orang lain ikut nyebrang. Orang itu terlihat tampan, membawa tas, dan berdiri di samping Nata. Dia bernafas lega. Akhirnya ada teman. Dan tau apa yang terjadi?
"Aku tak mau kalau aku dimadu, ahh ahh!" Ucap pria itu sambil bergoyang dan menyodorkan botol aqua gelasnya pada Nata. Nata sontak menganga. Apa apaan!
Ujung ujungnya, ia menyebrang sendirian. Dan kali ini, harus ia lakukan sendiri!
Nata mulai bergerak. Jika ini slowmotion, Nata bergerak lincah melewati kendaraan. Merampingkan tubuhnya ketika dua mobil menghimpit, berlari dan berputar, menggeser tubuhnya kesana kemari dan sampai di depan gerbang sekolahnya dengan selamat tanpa ada gangguan.
Itu slowmotion. Jika asli? Suara klason motor dan mobil nyaring terdengar. Lemparan caci maki terdengar. Motor mengerem mendadak. Dan memang itulah yang terjadi.
Pagar sekolah mulai terdorong menutup. Nata melambaikan tangannya.
"STOPPPPP!"
Nata merampingkan tubuhnya melewati pagar yang menjulang tinggi dan nyaris tertutup itu. Nata sudah berada di dalam. Namun ia nyengir ke arah Pak Bahri, satpam sekolah. Tali sepatunya tersangkut. Pak Bahri menggelengkan kepalanya.
"Non Nata, Non Nata!" Ucapnya sambil mendorong pagar itu agar kembali terbuka supaya tali sepatu Nata bisa selamat. Nata tersenyum.
"Makasih, Pak!" Ucap Nata dan berlari.
~to be continue~
Hai, teman-teman! Kalian boleh banget mampir ke cerita aku yang lain loh! Ditunggu yaa di ceritaku yang lain^^
See you in next chapter!
KAMU SEDANG MEMBACA
Sinting Squad
HumorHello crazy people! Kenalin, nama gue Renata Dhevarolan, biasa dipanggil Nata imut. Ada yang kenal sama gue? Temen sekelas gue sih pada kenal, kalo yang lain gatau ya. Dan sesuai judul cerita ini, gue berperan sebagai orang sinting pake ban...
