We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Cahaya di Kelopak Mata Mu

125 14 4
                                        

"Allahu akbar, Allahu akbar.. Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah ...."

"Astagfirulloh, sudah iqomah" Khansa tersadar dari renungannya

Bergegaslah Khansa mengambil air wudhu dan melaksanakan Sholat Subuh.

Setelah menunaikan Sholat Subuh, Khansa kembali merenungkan kejadian kemarin di sekolah yang sangat membuat hatinya bingung.

"Hidawi menyukaiku? Ya Allah, lelaki seperti dia yang terkenal akan keshalehannya mengutarakan perasaannya kepadaku di depan orang banyak. Bagaimana bisa?"

Ibu Khansa memperhatikan anaknya dengan prihatin dan penh kasih sayang.

"Nak? Ibu lihat kamu daritadi malam merenung seperti sedang ada masalah. Masalah apa nak? Ceritakanlah" Ujar Ibu sambil mengusap kepala Khansa

"Ibu, ibu tau Hidawi kan?"

"Hm iya.. Ada apa dengan dia nak?"

"Ibu, dia mengatakan dia menyukai Khansa bu, di depan teman-teman dia dan teman-teman Khansa. Khansa malu bu, tidak habis pikir Hidawi yang katanya shaleh bisa berbuat seperti itu"

"Nak, perasaan suka itu wajar nak. Yang tidak wajar adalah apabila ditanggapinya terlalu berlebihan. Setelah kejadian ini, Khansa tidak boleh malu dan berubah, Khansa harus tetap jadi Khairunnisa Ibu yang Shalehah"

"Khansa tidak suka bu diperlakukan seperti itu oleh Hidawi, selama ini banyak teman yang menyukai Khansa namun tidak ada yang berani mengungkapkannya seperti Hidawi bu. Ibu, Khansa ingin di pasantren saja bu yang khusus perempuan saja bu. Boleh ya bu?"

"Tidak semudah itu sayang. Nanti siapa yang akan menemani ibu dan ayah"

"Bukankah ada ayah bu? Ibu menemani ayah dan ayah menemani ibu. Ya bu ya? Boleh ya bu?"

"Tidak semudah itu sayang. Kamu tau Dania kan? Dia masuk pondok pasantren yang khusus perempuan tetapi dia malahan dijadikan istri ke-6 Kyai di sana."

"Ibu, bukankah jodoh sudah ditentukan oleh Allah bu? Mengapa ibu berkata demikian? Khansa yakin itu hanyalah alasan ibu yang dibuat-buat."

"Iya nak, itu hanyalah alasan yang ibu buat-buat. Ada satu alasan yang ibu tidak mau kamu mengetahuinya"

"Apa bu?"

Ibu tidak menjawab pertanyaan Khansa dan langsung melangkah ke dapur dengan senyum kecil yang disunggingkan agak terpaksa, namun tetap saangat manis. Sementara, Khansa masih bingung dan penasaran alasan apakah yang membuatnya tidak bisa bersekolah di pasantren yang hanya berisi perempuan-perempuan. Setiap pernyataan yang dikeluarkan ibunya pasti menimbulkan pertanyaan dari Khansa. Ibu yang selalu bangga dengan sikap kritis Khansa selalu menjawab dengan penuh antusias, namun tidak dengan kali ini ada suatu rahasia yang susah diungkapkan.

Di lain sisi, Hidawi menyesal telah memberitahukan perasaannya di depan teman-teman. Setan apa yang menggoda ku sehingga aku tidak bisa menahan gejolak rasa yang terus menggebu-gebu? Oh Khansa, maafkan aku yang terlalu terburu-buru memberitahukan cahaya yang ku lihat di kelopak matamu. Cahaya yang membuat aku luluh dengan perempuan dan perempuan itu kamu Khan. Batin Hidawi. Mengapa ia harus terpengaruh dengan teman-teman yang mendesaknya mengungkapkan perasaannya ke Khansa.

Sejak kejadian dimana Hidawi mengungkapkan perasaannya kepada Khansa, Hidawi tidak ada keinginan untuk berteman dan berbagi cerita hidup bersama teman-temannya lagi. Ia lebih memilih untuk menyendiri dengan kitab-kitab haditsnya dan Al-Qur'an. Ia juga menulis surat berisi permintaan maaf untuk Khansa dan ditaruh di meja Khansa pada saat semua teman-teman sudah meninggalkan ruangan kelas.

Pagi hari, Khansa membuka surat tersebut dan termenung sejenak menghayati tiap kata yang tertulis di surat tersebut

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Pagi hari, Khansa membuka surat tersebut dan termenung sejenak menghayati tiap kata yang tertulis di surat tersebut. Begitu indahnya kata-kata yang dituliskan oleh Hidawi di atas selembar kertas ini. Apakah Khansa baru menyadari getaran di hatinya yang timbul saat terdengar suara Hidawi? Selama ini Khansa terlalu sibuk dengan urusan keimanannya sehingga tidak ada waktu untuk menyadari sebuah getaran hati yang wajar dirasakan oleh remaja. Namun entah mengapa kali ini bagi Khansa ia seperti ingin merasakan getaran itu terus-menerus. "Astagfirullohaladzim" Khansa berusaha mengembalikan dirinya kembali tanpa perasaan gejolak asmara. Setelah Khansa membaca surat tersebut, ia tidak pernah lagi menginginkan pasantren yang khusus perempuan, ia bersekolah seperti biasa dengan teman-teman perempuannya.

Dua tahun berlalu, tidak terasa sudah saatnya Khansa dan teman-temannya berpisah. Seluruh ujian telah berakhir. Saatnya hari yang sangat dinantikan, pengumuman kelulusan serta peraih nilai tertinggi. Khansa Sabila Anwar sebagai peraih nilai tertinggi di sekolahnya, sedangkan peringkat keduanya diraih oleh Hidawi Putra Abdul Salman. Benar-benar suatu kebetulan yang tidak terduga, mereka kembali berdekatan untuk menerima penghargaan dari pihak sekolah, setelah sekian lama tidak saling bertatap apalagi berdekatan seperti sekarang, tepat di samping Khansa adalah Hidawi. Muncul getaran yang sama di antara kedua insan muda ini. Namun, keduanya sangat mampu mengontrol dengan selalu mengingat Allah Swt.

Setelah hari kelulusan itu, Khansa tidak pernah lagi terdengar kabar tentamg Hidawi. Entah mengapa, album madrasahnya meminta untuk dibuka. Khansa pun membuka album kenangan sekolahnya dan kembali merasakan getaran yang sama ketika melihat foto Hidawi, Khansa menyadari bahwa ia masih merindukan Hidawi dan menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar angan yaitu bersama membangun sebuah keluarga. Khansa yang setiap hari mengajar di MTS dekat rumahnya sering dilamar oleh rekan-rekan kerja maupun atasannya, namun tidak ada satu pun yang ia terima karena ia masih menginginkan Hidawi.

Siapa menyangka bahwa pada sore hari itu juga Hidawi beserta keluarganya mengunjungi kediaman Khansa dengan menggunakan pakaian rapi dan senyum yang memikat hati.

"Assalamualaikum Khansa"

"Waalaikum salam. Hidawi? Ayo silahkan masuk"

"Iya, saya Hidawi. Terimakasih"

"Begini, kedatangan saya ke sini untuk memperistrikan anak ayah ibu sekalian. Saya siap untuk menjadi imam Khansa."

Betapa terkejutnya Khansa mendengar pernyataan Hidawi yang terkesan sangat frontal namun bijaksana. Melihat ekspresi Khansa yang tercengang sekaligus tidak percaya Hidawi melanjutkan pernyataannya.

"Ayah ibu, saya Hidawi yang tentu ayah dan ibu sudah mengetahui saya karena saya adalah seorang anak lelaki yang dulunya pernah membuat anak ayah ibu sekalian malu. Namun, untuk kali ini saya membawa keluarga saya ikut serta untuk mengungkapkan isi hati saya dan niat saya yang terpendam sejak lama. Saya mencintai Khansa karena Allah dan ijinkan saya mempersunting Khansa dengan petunjuk Allah. Apakah Khansa ingin menjadi bidadari surga saya? Saya melihat cahaya di kelopak mata anda dan cahaya itu menuntut saya untuk menjaga cahaya itu agar tidak redup, saya tidak ingin anda menangis karena apabila anda menangis, cahay itu akan redup. Sekali lagi, ijinkan saya memelihara cahaya itu"

"Nak Hidawi, sebuah keberuntungan yang harus ayah syukuri kepada Allah SWT yang telah memberikan calon menantu seperti kamu. Ayah sangat merestui apabila kalian berdua bersama membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Bagaimana dengan mu nak Khansa?"

"Iya ayah, ibu. Inilah lelaki yang Khansa tunggu dan sekarang Allah mengabulkan do'a Khansa"

"Alhamdulillah"

Sebulan setelah lamaran dilaksanakan, Khansa dan Hidawi melangsungkan ijab qabul serta perayaan sederhana atas pernikahan mereka. Mereka menjadi pasangan yang benar-benar mencintai tulus karena Allah Swt. Hanya akad ijab qabul lah pembuktian cinta yang sesungguhnya. 

Cahaya di Kelopak Mata MuStories to obsess over. Discover now