Pagi yang terasa sejuk dengan gerombolan kaum aves yang setia mendendangkan melodi harmonis, membuat siapa saja merasa tentram jika mendengarnya.
Terdengar derap langkah ringan seorang gadis dengan rambut panjangnya yang digerai rapi, menyeruak di lorong koridor kelas sebelas. Memecah keheningan di kala sang surya baru saja menampakkan wujudnya.
-SMA Cakrawala-
Banyak hal yang gadis itu rindukan setelah beberapa hari kemarin tidak masuk sekolah. Mulai dari tempat duduk, teman, guru, bahkan tak ada pengecualian untuk tugas-tugas pula. Ia terlalu merindukan itu semua sampai langkah kakinya tiba-tiba sudah berada di depan pintu masuk ruang kelasnya. Cukup cepat, sampai tak terasa.
Dengan langkah mantap ia memasuki ruang kelas itu. Persis seperti dugaannya. Sudah ada beberapa murid yang datang. Bahkan tak sedikit murid yang sudah membuka buku. Biasa, formalitas anak kelas sebelas-satu.
Gadis yang kerap disapa Rania ini meletakkan tas di atas meja kemudian duduk di bangku. Lantas menatap malas keadaan sekeliling. Sepertinya ia cukup bosan diberi suguhan pemandangan semacam ini setiap pagi.
Merupakan keberuntungan bisa berhasil membuat Rania bersekolah di salah satu SMA Negeri favorit. Dan jangan ditanya, bukan mutlak keinginannya untuk dapat masuk ke dalam kelas berlabel satu itu. Sudah dua tahun ini dia berada dalam kelas yang jadi kebanggan banyak guru. Terkadang rasa bosan menyerang karena anak kelas sebelas-satu itu rata-rata semuanya kutu buku. Kalau Rania pikir-pikir, akan lebih menyenangkan jika dia masuk ke dalam kelas sebelas-empat, yang tak usah dipertanyakan lagi bagaimana keseruan serta ketenaran akan kumpulan murid multitalent. Mulai dari kapten basket, anggota kebanggaan cheerleader, anak musik, siswa pintar, siswa ndablek, siswi cerewet, pun semua lengkap seperti paket komplit di kelas sebelas-empat.
Lamunan Rania terhenti ketika suara seseorang memecah dunia khayalannya, membuat gadis itu kembali ke dunia nyata, "Rania!"
Rania lantas menatap lesu ke arah cewek dengan rambut sepunggung itu. Suaranya nyaring melebihi toa. Oke anggap saja ini majas hiperbola. Tapi memang kenyataannya seperti itu kok.
"Lo udah sehat? Kok masuk?" tanya Lutfi sedikit berbasa-basi.
Rania lalu mengembuskan napas pelan. Sedetik setelah itu, raut wajahnya menampakkan sebuah senyuman paksa, setelah itu berkata, "Gue kangen banget sama sekolah ini, tau."
Awalnya Lutfi tertawa kecil lalu ia melontarkan sebuah ledekan, "Gaya banget lo!" Itu karena dia hafal bagaimana seorang Rania. Ia tahu kalau Rania berkata bohong. Semua itu hanya pencitraan saja.
"Yakin mau nyusul olahraga sekarang?" tanya Lutfi mengetahui rencana Rania yang akan menyusul tes olahraga hari ini, pasalnya Rania kemarin tidak masuk sekolah ketika pelajaran olahraga berlangsung.
"Enggak," jawab Rania spontan.
"Terus kapan?" Lutfi makin dibuat penasaran oleh Rania.
"Nanti, waktu jam olahraga," jawab Rania santai berhasil membuat Lutfi memutar bola matanya.
"Iya deh, terserah tuan putri aja." balas Lutfi asal, membuat Rania cengar-cengir sebentar.
Waktu terus berjalan hingga jam tes susulan olahraga dimulai. Baru saja sekitar 15 menit Rania melaksanakan tugas, namun ia rasa raga seperti tak mengizinkan dirinya untuk melanjutkan tes susulan itu. Rania merasakan pusing, badan lemas, langkah lunglai, serta pandangan yang kabur. Lalu dalam hitungan detik, badan itu ambruk. Pandangannya berubah menjadi gelap. Terik matahari pun tak lagi terlihat olehnya.
*
*
*
-Ruang Melati Lt 2-
Seorang wanita belum cukup paruh baya sedang sibuk melantunkan doa untuk seseorang yang masih terbaring dengan infus di tangan kiri. Sudah dua malam Rania dirawat inap. Dan hari ini adalah hari ketiga ia dirawat di rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Andra & Rania
Fiksi RemajaBerawal dari secarik kertas diary poetry yang berhasil menciptakan sebuah pertemuan, melibatkan Andra dan Rania di dalamnya. Pertemuan yang mengawali kisah mereka berdua. Kisah tentang keluarga, sahabat, teman, cinta, kasih sayang, dan masa lalu, ya...
