~ Part 1 - Blak ° Jarak Tanam~

30.5K 1K 32
                                    

She's tried on everything

Every little thing inside her closet

And she knows it's getting late

Knows that I been waiting and I'm starving

---

Kania mengemasi barang-barangnya ke ransel sekolahnya. Alhamdulillah sekolahnya di SMK Pertanian Kecamatan Kota sudah selesai dan tinggal menunggu pengumuman diterima tidaknya dia di salah satu perguruan tinggi yang dia pilih. Cita-citanya untuk menjadi ahli pertanian untuk kemajuan desanya sangat besar, Kania yakin dia akan mendapatkan beasiswa itu. Walapun ayahnya adalah kepala desa dan terhitung sangat kaya di desanya, seorang Land Lord atau tuan tanah, akan tetapi memasukkan putri tunggalnya ke sekolah modern atau Universitas masih menjadi perdebatan di keluarganya. Bahkan ayahnya sudah membicarakan tentang pernikahan!

Kania merasa sedih, jika beasiswa itu bisa diraihnya, makan dia akan memiliki senjata untuk mendebat ayahnya. Lurah Broto Suwiryo. Walaupun menurut ayahnya, pernikahannya dengan Baskoro, putra dari lurah di desa seberang akan menguntungkan kedua keluarga, Kania benar-benar tidak menginginkannya. Dia pernah bertemu Baskoro dan pemuda sombong yang selalu mengagungkan kekayaan bapaknya itu dianggapnya sama sekali tidak menarik, tidak terpelajar! Padahal pemuda itu bisa saja meneruskan sekolah terbaik di kota provinsi jika dia mau, tapi katanya sih Baskoro memang benar-benar bodoh, sewaktu SMA saja sudah dua kali tidak naik kelas. Bagaimana mungkin ayahnya mau menjodohkan dengan pemuda semacam itu?

"Mau kemana nduk?" Sundari memasuki kamar putrinya.

"Bermain di bendungan, ibunda, ini minggu terakhir liburan, sebentar lagi pengumuman diterimanya Kania di Universitas akan diumumkan, jika memang Kania diterima, maka kania hanya punya waktu seminggu ini di desa dan menikmati indahnya desa kita..." kata Kania.

"Kamu mau mandi di bendungan?" tanya Sundari sambil tertawa. "Nduk, kamu bukan bocah SD lagi, lihat tubuhmu....sudah tidak pantas bermandi ria di tempat terbuka..." Sundari menyadari, tubuh Kania yang tinggi bongsor membuatnya terlihat lebih dewasa dan sangat gawat kalau ada pemuda yang melihatnya, tapi Kania yang polos sepertinya tidak menyadarinya.

"Baiklah ibunda, Kania tidak mandi di bendungan deh..." Kania mencium punggung tangan ibunya dan melambai pergi.

"Hati-hati, jangan sampai siang, ibu sudah siapkan makan siang yang lezat....nanti juga ada tamu ayahmu yang harus kau temui..." kata Sundari.

Kania mendesah. Pasti Baskoro dan bapaknya. Haduh!

"Baiklah Ibunda..." Kania tidak akan mendebat ibunya. Sudah pukul setengah delapan, dia bisa terlambat menuju ke sana,

Dengan berlari kecil dia keluar melewati pendopo dan halaman depan rumahnya. Menyapa beberapa rewang (ART) nya yang sedang menjemur gabah dan jagung lalu melambai kepada Pak Kartono, pria bertubuh tinggi besar yang menjadi centeng (Pengawal) ayahnya, semacam satpam di rumah itu. Walaupun Pak Kartono terlihat besar dan menyeramkan, hatinya baik. Putrinya, Endang, adalah kawan baik Kania.

Kania menghirup udara segar di sepanjang pematang sawah yang dilewatinya lalu menuju ke hutan di perbatasan desa. Anak-anak desa sejak kecil sudah biasa bermain di kisaran hutan dan Kania beberapa bulan ini menemukan hal yang sangat menarik di hutan sana. Rahasia kecilnya yang tidak dia bagi kepada siapapun juga.

 Rahasia kecilnya yang tidak dia bagi kepada siapapun juga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
GADIS DESATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang