Di dunia ini, tidak ada satu pun manusia yang benar-benar murni atau tulus tanpa cela. Di balik kulit luar yang tampak bersih, setiap orang menyimpan sisi paling keji dan paling menjijikkan dalam diri mereka. Bedanya, sebagian besar dari mereka sangat lihai bertopeng. Mereka mampu menutup rapi busuknya niat dengan raut wajah santun, tatapan lembut, dan senyuman manis seolah-olah kebusukan yang menjijikkan itu tidak pernah bersemayam di dalam jiwa mereka.
Realitasnya memang pahit, di tengah lingkungan yang sudah telanjur busuk ini, bertahan hidup menuntut kita untuk ikut menjadi bagian dari kebusukan itu sendiri. Sebab jika kita menolak dan tetap memaksakan diri menjadi sosok yang naif, lantas bagaimana nasib kita nanti? Kita hanya akan menjadi mangsa yang diinjak-injak oleh orang lain.
Bentuk-bentuk kebusukan itu pun beraneka ragam. Ada orang yang mampu merubah ekspresi wajahnya dalam sekejap mata. Ada yang jiwanya begitu mati hingga tak lagi memiliki sejumput empati atas penderitaan sesama. Ada pula yang memandang manusia lain tak lebih dari sekadar alat atau pijakan untuk mencapai tujuan pribadinya. Tak ketinggalan, mereka yang gila validasi dan selalu haus untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat perhatian utama, tak peduli siapa yang harus dikorbankan.
Itulah deretan sifat-sifat manusia yang paling menjijikkan.
Namun, bagaimana jadinya jika seluruh sifat buruk itu tidak terbagi-bagi, melainkan menumpuk dan menyatu di dalam diri satu orang saja? Bagaimana rasanya ketika kelicikan mengubah raut muka, ketiadaan empati, ketegaan memanfaatkan orang lain, dan kehausan akan sorotan publik bersemayam di jiwa yang sama? Sosok seperti apa yang akan tercipta dari perpaduan seluruh kebusukan tersebut?
Brak!
Pintu kayu dari kamar yang kecil, berbau apak, dan sangat lembap itu terhempas terbuka dengan sangat kasar. Suara dentuman keras itu seketika mengejutkan seorang anak perempuan berusia sekitar sembilan tahun yang sedang berbaring. Ia tersentak bangun dari tidur lelapnya yang rapuh, lalu dengan refleks ketakutan berdiri mematung.
Kondisi anak itu sungguh mengenaskan. Tubuhnya yang kurus kering dibalut pakaian lusuh yang kotor, rambutnya kusut tak terawat, dan kulitnya pucat karena kurang nutrisi serta jarang tersentuh sinar matahari. Siapa pun yang melihat keadaannya saat itu pasti akan merasa iba dan tersayat hatinya.
"Jalang kecil! Berani-beraninya kau lalai dengan pekerjaanmu!"
Suara melengking berdering nyaring dari arah pintu. Sosok wanita paruh baya berdiri di sana dengan mata membelalak marah, menatap anak kecil itu seolah-olah ia adalah musuh yang dibenci.
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya pelan dengan tubuh gemetar hebat. Tangannya meremas jemarinya sendiri yang dingin untuk menahan rasa takut. "I-ibu, a-aku saki-"
Duk!
Belum sempat kata-katanya usai, tubuh kecil itu terdorong keras ke belakang saat sosok yang ia panggil ibu mendorong dadanya tanpa belas kasihan. Anak itu tersungkur ke lantai kamar yang dingin dan lembap.
"Aku tidak peduli! Aku tidak peduli jika kau sakit, lumpuh, bahkan mati pun aku benar-benar tidak peduli!" maki wanita paruh baya itu dengan napas memburu. "Lebih baik kau menyusul ayahmu yang tidak berguna itu!"
Dengan gerakan cepat dan penuh amarah, wanita paruh baya itu berbalik menghampiri sebuah lemari tua di sudut ruangan, lalu merogoh ke dalamnya untuk mengambil sesuatu.
Anak kecil itu membulatkan matanya yang membesar oleh ketakutan saat melihat sang ibu kembali sambil memegang erat sebuah pecut kulit hitam yang tebal. Dengan gemetar, ia merangkak mundur mendekati sudut dinding yang dingin, berusaha mencari perlindungan yang tidak ada.
"Tidak, Ibu! Tidak!" histeris anak kecil itu, menyatukan kedua tangannya untuk memohon.
Namun wanita paruh baya itu sama sekali tidak tersentuh. Ia mengangkat lengannya tinggi-tinggi ke udara, lalu mengayunkan pecut itu membelah udara dengan sekuat tenaga-
YOU ARE READING
LaboNi
ActionClaudia Esmeralda adalah seorang perempuan dengan hidup yang begitu menyedihkan di tengah hiruk-pikuk kota yang kejam. Berada di lingkungan yang dingin dan tanpa belas kasihan, ia hanya memiliki satu tujuan utama: tetap hidup tanpa halangan apa pun...
