1

13 2 0
                                        

Di bawah lengang malam, hanya bunyi jemari yang menari di atas papan ketik menemani sunyi

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Di bawah lengang malam, hanya bunyi jemari yang menari di atas papan ketik menemani sunyi. Tertanggal 6 Juli 2026, pukul 22.00. Barangkali malam memang diciptakan agar manusia tak lagi sibuk menyembunyikan dirinya sendiri.

Tubuh ini telah terlalu lama mengenakan senyum yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya. Dua puluh tiga tahun kulalui dengan wajah yang pandai berpura-pura, seolah tawa mampu menutupi segala yang remuk di balik dada.

Orang-orang berkata pahit tinggal di ujung lidah. Namun mereka tak pernah tahu, ada kepahitan yang memilih menetap di hati mengendap di setiap napas, merambat ke setiap ingatan, hingga tak lagi dapat dibedakan mana luka dan mana diri.

Malam ini aku bertanya kepada kesunyian: akankah aku memiliki keberanian untuk menuturkan kisah-kisah yang telah lama kukubur? Kisah tentang masa silam yang tak seindah wajah yang dipandang orang, tentang seorang anak yang belajar tersenyum sebelum sempat belajar bagaimana rasanya merasa aman.

Sebab barangkali, luka yang paling pandai bersembunyi bukanlah yang meninggalkan bekas di tubuh, melainkan yang menjadikan seseorang tampak baik-baik saja, sementara jiwanya telah lama kelelahan memikul dirinya sendiri.

Mari kubuka kembali lembar-lembar waktu yang selama ini kusimpan rapat di balik kesunyian. Dua puluh tiga tahun telah berlalu, namun kebahagiaan masih terasa seperti tamu yang hanya singgah sebentar, lalu pergi tanpa pernah benar-benar menetap.

Aku akan memulainya dari ingatan paling dini yang masih sanggup kuraih. Dari seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa rumah bisa terasa begitu asing, mengapa pelukan dapat terasa begitu jauh meski jaraknya hanya beberapa langkah.

Selebihnya... ingatan itu menjelma seperti kaset tua yang pitanya kusut dan terputus-putus. Gambarnya berpendar, suaranya pecah, lalu menghilang sedikit demi sedikit, seolah ada tangan tak kasatmata yang sengaja menghapusnya dari kepalaku. Entah sebagai belas kasihan agar aku tak kembali tenggelam, atau justru sebagai hukuman agar aku terus hidup dengan kehampaan yang tak pernah berhasil kujelaskan.

Yang tertinggal hanyalah serpihan-serpihan kenangan cukup jelas untuk melukai, tetapi terlalu kabur untuk kupahami sepenuhnya. Dan barangkali, begitulah cara masa lalu bertahan hidup: ia tak pernah benar-benar hilang, hanya memilih bersembunyi di sudut-sudut ingatan, menunggu saat paling sunyi untuk kembali mengetuk hati.

Ingatan pertamaku datang seperti kaset tua yang pitanya telah kusut. Gambar-gambarnya melompat, suaranya pecah, lalu menghilang sebelum sempat kupahami. Namun, ada satu kenangan yang hingga kini tak pernah benar-benar pudar.

Saat itu usiaku barangkali baru menginjak empat tahun.

Aku berdiri di bawah langit yang tak lagi kuingat warnanya. Yang kuingat hanyalah seorang perempuan, ibuku melangkah menaiki sebuah bus. Aku tak tahu ke mana kendaraan sebesar itu hendak membawanya. Yang kutahu, ia pergi. Dan aku tidak ingin ditinggalkan.

Aku meraung sejadi-jadinya.

Tangisku pecah, memanggil satu-satunya kata yang mampu diucapkan seorang anak yang takut kehilangan.

RETAK SEBELUM DEWASAStories to obsess over. Discover now