Halohaaaa
.
.
.
.
.
Bismillah
.
.
.
.
.
Happy Reading semua yeayyy
"Cerita ini adalah karya fiksi. Karakter, tempat, dan kejadian adalah hasil imajinasi penulis. Kesamaan nama atau kejadian hanyalah kebetulan semata"
Layar ponsel Nala selalu sunyi. Tidak ada baris notifikasi yang muncul menyapa, apalagi notifikasi WhatsApp yang menanyakan hal-hal basi seperti "Sudah makan belum?" atau "Kamu lagi apa?".
Nala melihat pantulan wajahnya sendiri di layar hitam itu, kusam dan datar. sebelum akhirnya melempar benda itu ke kasur.
Pintu kamar dia buka. Aroma sayur sop dan gurihnya ayam goreng langsung menyambut.
Di depan TV, Bapak sedang duduk santai.
"Wes mari tugasmu, Nduk?" tanya Bapak tanpa mengalihkan pandangan dari layar, tapi suaranya hangat.
"Sampun, Pak," jawabnya singkat.
"Nala, gek ndang mangan! Iki loh, Ibu masak sop karo ayam goreng senenganmu. Sambelnya juga sudah jadi," teriak Ibu dari dapur.
Nala berjalan ke arah dapur. Uap panas dari mangkuk sop dan warna keemasan ayam goreng di piring seolah-olah menjadi pelukan paling jujur yang bisa Ia dapatkan hari ini.
Di rumah ini, Nala tidak butuh pacar untuk merasa dicintai. Perhatian Bapak dan masakan Ibu sudah lebih dari cukup.
Nala membawa sepiring nasi ke depan TV, duduk di dekat Bapak.
"Es..enak e. Tak barengi mangan yo, Nduk?" Bapak beranjak, lalu melangkah ke dapur dengan langkah ringan.
"Masak apa hari ini, Buk?" suara Bapak terdengar manja.
Nala hampir tersedak. Sebutan "Pak" dan "Buk" di antara mereka selalu sukses membuatnya merinding sekaligus iri.
Di saat orang tua teman-teman Nala sudah terbiasa memanggil satu sama lain dengan sebutan 'Ibu Bapak', tetapi orang tuanya tetap terjebak di masa muda.
"Iki loh, Kak, delok dewe," sahut Ibu dari dapur, suaranya terdengar malu-malu tapi senang.
"Pacaran teroooos!" teriak Nala dari ruang tengah.
Bapak muncul dari balik pintu dapur sambil membawa piring, tertawa lebar. "Mangkane ndang golek pacar, Nduk, biar nggak iri terus sama Bapak Ibu, ya kan, Buk?"
Ibu menyusul, membawa sepiring nasi untuk ia makan. "Wis toh, Kak, jangan digodain terus anaknya. Ayo makan bareng-bareng."
Kami duduk bertiga, melingkar di depan TV. Suara tawa kami bersahutan dengan suara bising dari berita sore.
Rasanya hangat, sampai tiba-tiba pintu depan terbuka dengan bantingan keras.
Seorang Anak kecil dengan seragam SD yang acak-acakkan muncul dengan wajah memerah karena terlalu semangat.
"PAK! BUK! RAYA DAPAT PERINGKAT SATU!"
DEG!!
Bersambung.......
Jangan lupa follow,vote dan komennya ya teman teman makasiii muachhh xixixi
Sampai jumpa lagiiiii
YOU ARE READING
NAMAKU NALA
Teen FictionNala adalah gadis biasa yang merasa tidak punya apa-apa untuk dibanggakan. terkadang Nala berfikir, untuk apa sih dia lahir ke dunia,kalau tidak ada hal berguna atau hal yang buat dia bangga.
