Bab 78

266 31 6
                                        

Assalamualaikum, guys ....

Happy Eid Mubarak! Minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin, ya 🙏❤

Dunia Pelita sudah update ....

Bismillahirrahmanirrahim

"Makan! Jangan cuma diliatin aja! Bukannya bersyukur masih dikasih makan malah melototin yang ngasih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Makan! Jangan cuma diliatin aja! Bukannya bersyukur masih dikasih makan malah melototin yang ngasih .... Do you think I'm afraid of you? Of course ... no, Pelita! My beloved step sister yang bentar lagi akan kehilangan semuanya. Ha ha ha ha ha."

Pelita mengepalkan kedua tangannya yang kali ini sudah tidak diikat lagi di belakang tubuh, tetapi kini diborgol ke depan.

"Lepasin aku, Jes!" tukasnya menatap nyalang saudari tirinya yang duduk tepat di depan meja dan bangku yang diduduki oleh Pelita juga.

Jessica memasang senyum miring sembari mengedikkan bahunya. "Nggak akan. Sampai kakak kesayangan kita a.k.a. Leonard datang dan ngasih apa yang aku dan Mama mau." Ia tersenyum menjeda. "Baru, setelah itu kita bisa menegosiasikan lepasin kamu."

Kedua tangan Pelita semakin terkepal erat mendengar itu.

"Apa lagi yang kalian mau?" tanya Pelita. "Aku udah serahin apa yang kalian inginkan. Satu-satunya peninggalan berharga Mama yang sebelumnya masih kupunya. Kenapa kalian masih mau ketemu sama Kak Leon juga? Jangan ganggu dia!" risik Pelita.

"Heh. Ha ha ha." Jessica mendengkus kemudian kembali tertawa. "Kamu nggak tahu apa-apa, Pelita," desisnya. "Kamu masih naif seperti dulu. Liontin mamamu itu memang berharga, tapi nggak bener-bener ada harganya kalau Leon nggak ngasih satu lagi apa yang tersisa ke kami."

"Maksud kamu apa?"

Jessica menyandarkan badannya yang semula condong ke arah Pelita pada badan kursi sembari melipat kedua langannya angkuh di depan dada. "Kamu nggak usah tahu," jawabnya. "Baik-baiklah sama aku dan Mama selagi kami masih berbaik hati kalau kamu tetap mau hidup dan melahirkan anak harammu itu."

"Jaga bicaramu, Jes!" Suara Pelita bergetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang berusaha ia redam di balik dadanya yang sesak.

"Kenapa? Apa yang kubilang salah? Nggak, kan?!" Jessica tersenyum mengejek. "Siapa cowok psiko yang bantu kami nyulik kamu itu? Arga? Arka? Whatever siapapun namanya. Dia bilang sendiri kalau kamu pernah diperkosa sembilan bulan yang lalu, Pelita. Dan bayi yang kamu kandung itu ... tentu hasil perkosaan itu, kan? Itu berarti anak haram. Nggak usah kamu susah-susah menyangkal. Kamu itu perempuan jalang, Pelita. Heh, aku nggak ngerti. Apa yang dulu June lihat dari kamu sampai dia lebih milih perempuan murahan seperti kamu daripada aku?!"

Pelita memejamkan kedua matanya sejenak, berusaha meredam kemarahannya yang menggelegak.

"Kamu bisa menghinaku sesuka hatimu, Jes," katanya begitu membuka mata. Tak lagi melempar tatapan nyalang. Namun, kini dingin dan tajam. "Tapi jangan pernah menyebut anakku anak haram dengan mulut kotormu itu. Dan tahu apa yang membuat Kak June tidak pernah melihatmu atau bahkan melirikmu? Itu karena kamu nggak punya sesuatu yang lumrah dimiliki manusia lainnya. Sesuatu yang mungkin bahkan bisa hewan punya tapi nggak akan kamu punya seumur hidup: Hati nurani."

Senyum mengejek Jessica langsung luntur. Rahangnya mengeras, dan untuk sepersekian detik, ada kilatan amarah di kedua matanya yang lebih besar daripada sekadar rasa benci.

Brak!

"Tutup mulumu, Jalang!" teriak Jessica sembari melempar gelas air dan piring berisi makanan untuk Pelita yang ada di atas meja ke samping ruangan, terpelanting menumbuk dinding lalu hancur berkeping-keping.

Ia bangkit dari duduk lalu berjalan cepat ke arah Pelita dan berdiri di sisinya.

"Kalau aja aku udah nggak butuh kamu untuk membuat Leon kemari ... habis kamu, Pelita!"

Jessica mencengkeram kuat dagu Pelita penuh amarah hingga kuku-kuku panjang berkutek merahnya menggores kulit wajah Pelita, yang sayangnya, tampak tidak gentar sedikitpun.

"Hati nurani, ya?" ucap Jessica rendah, mirip seperti bisikan iblis. "Sesuatu yang bikin kamu berakhir di kursi ini dengan tangan terborgol dan perut buncit hasil pemerkosaan? Kalau itu yang kamu banggakan, aku memilih nggak punya itu seumur hidupku, Pelita."

Jessica melepas cengkeraman tangannya dari dagu Pelita kasar, membuat kepala saudari tirinya itu sedikit terlempar ke samping. Ia kemudian meraih beberapa lembar tisu yang ada di atas meja lalu mengelap jemarinya seolah baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan.

"Anak haram tetap anak haram. Kita lihat gimana reaksi Papa andai dia tahu putri kandungnya jadi pelacur kotor seperti kamu." Jessica membuang tisu yang baru dipakainya ke wajah Pelita. "Tapi itu pun nggak mungkin sih, kalian semua akan tamat, tanpa sempat ketemu lagi untuk yang terakhir kali."

Jessica kembali tertawa kemudian menyunggingkan senyum culasnya menatap Pelita. "Selamat tinggal untuk sekarang, Saudariku. Selamat kehausan dan kelaparan sampai entah kapan selama Leon belum juga datang." Ia kemudian bertolak ke arah pintu.

Jessica melangkah beberapa kali. Namun, ketika langkahnya sampai di ambang pintu yang terbuka, gadis itu menghentikan pergerakannya dan menoleh ke arah Pelita.

"Ah, ya," katanya. "Aku lupa bilang, aku melihatmu merintih beberapa kali dan tampak kesakitan lewat CCTV tersembunyi ruangan ini yang mungkin nggak kamu sadari, Pelita. Jangan bilang ... anak harammu itu sudah mau lahir, ya?! Jika itu terjadi, aku akan dengan senang hati membantumu melahirkannya. Setelah itu kita lihat, apa yang bisa aku lakukan pada kalian berdua. Ha ha ha ha ha."

Brak!

Pintu kembali tertutup rapat. Menyisakan Pelita kembali sendiri dalam gelap di ruangan yang pengap itu dengan suara detak jantungnya sendiri yang berpacu hebat.

"Ya Allah, tolong hamba ... lindungi anak hamba," doa Pelita diiringi cairan larikma yang jatuh satu demi satu dari sepasang netra hazelnya. []

Tbc.

Cuma mau bilang: see you when I see you. 🫢

Barakallahu fiik. 🤍

Jombang, 20 Maret 2026

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 22 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dunia PelitaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang