Matanya terbelalak, menyaksikan untaian gambar bergerak. Ia tak tahu apa itu, seperti rasa takut bercampur dengan dendam. Dua emosi yang berbanding terbalik, sangat tidak masuk akal. Ia tak mengerti, kapan dan bagaimana.
Mia sadar akan hal itu. Dia melihat sekeliling. Hanya dirinya seorang diri di sini. Duduk, menyaksikan sebuah film seram di bioskop gelap. Ia tak tahu bagaimana ia bisa berakhir di tempat dingin ini, tempat yang kini sangat ia takuti. Tempat ini dulunya adalah tempat favoritnya. Tetapi, semenjak kepergian sang ayah, semua itu sirna. Pergi ke bioskop terasa pahit, membawa semua kenangan akan sosoknya.
Judul filmnya? ia tidak ingat juga. Semua hal yang muncul dilayar nampak sangat mengerikan. Ia berusaha menutup mata, tapi bising jerit korban memberi ketakutan lain lewat indera pendengaran. Sejumlah pria meminta ampun di akhir hayat mereka seperti rekaman siksa kubur.
"DIAAAM!" Jerit Mia tak tahan.
Mia menutup mata dan telinganya, berusaha meredam ketakutan itu. Jeritan-jeritan itu kini hilang. Sepertinya semua korban tadi sudah ditebas mati. Mia tak tahu karena tak berani. Kini, ia melihat. Tak ada hantu dalam cerita tersebut, melainkan seorang wanita. Ia berlumuran darah, dengan sebilah pisau di genggaman. Berjalan pelan mengarungi ngarai setelah keluar dari hutan belantara. Wilayah yang tidak familiar juga.
Kini, kondisi yang sunyi justru membuat semuanya terasa lebih mencekam. Ia masih melihat sudut pandang orang pertama sang antagonis. Jarang sekali ada sudut pandang dari sang pembunuh. Sosok itu mengincar satu korban terakhir yang berhasil lolos.
Ia berlari, nafasnya ngos-ngosan penuh teror. Kamera bergerak kesana kemari semakin menunjukkan kualitasnya.
Sungguh film yang bagus, sangat realistis.bKini, Mia kagum, "Sepertinya kualitas produksi film ini tidak main-main."
Mia kini fokus, terpacu. Ia ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah korban berhasil selamat, atau akan mati di tangan sang pembunuh. Ia harap pemuda itu selamat. Pasalnya, pemuda itu memiliki paras yang baik. Jadi, Mia berdoa untuk keselamatannya.
Sudut pandangnya semakin tak karuan, sepertinya sedang berlari, menyusuri hutan yang gelap gulita sendirian. Targetnya menjerit saat terjatuh di lereng jurang, sebelum akhirnya berhasil meraih akar pohon. Pemuda itu membungkam mulutnya, berusaha mengatur napas. Bayangan sosok tadi tepat di atasnya. Ia tahu.
Mia ketakutan setengah mati. Ia tak tahu apa yang akan dilakukan jika berada diposisi serupa.
Setelah cukup lama, bayangan itu ahirnya bergerak menjauh. Sepertinya sangboembunuh menyadari posisi pemuda itu. Mia meghela napas lega. Ini saat yang tepat untuk melarikan diri.
Pemuda itu menoleh ke belakang, sebuah lajur terjal ke kegelapan. Ia menggeleng, menolak untuk mati. Tubuhnya ia paksa untuk merangkak naik. Satu tarikan, dua tarikan tak segan ia lakukan.
Sedikit lagi. Ini adalah yang terakhir. Ia hampir meraih ujungnya.
"HAPP!!" Tangannya berhasil keluar dari jurang, kini yang dibutuhkan adalah dorongan terakhir untuk mengangkat tubuhnya keluar.
Tapi ...
"STABB!!" Sebuah pisau ditusuk tepat di telapak tagannya, menembus hingga ke dasar.
"AAAAKH!!" Mia dan pemuda dilayar berteriak serempak, bersama-sama.
Sosok itu ternyata sudah memantaunya sedari tadi. Seperti seekor karnivor yang sabar menanti, menunggu mangsanya lengah. Mangsanya ini adalah seekor kancil, kecil dan lemah. Meski, cerdik tapi ia tak lebih cerdik darinya.
Mia ketakutan akan apa yang akan berlaku selanjutnya. Jantungnya berdegup kencang mengikuti musik latar film di momen kritis.
Sosok itu menjambak rambutnya, menarik pisau yang tadi menancap di tangan dan menghunuskannya kembali tepat di mata kanan pemuda itu.
"KYAAAA!" Pemuda itu berteriak minta ampun. Tapi tak ada siapapun yang bisa mengampuni. Tubuhnya langsung kaku, ia mati seketika. Darah merembes melalui celah pisau.
Mia merasa kasihan akannya. "Dosa apa yang kau lakukan hingga membuatmu bisa menjadi sengsara seperti ini."
Sosok itu menendangnya begitu saja, membuang korbannya ke kegelapan jurang yang tak berujung.
Mia termenung, akhir film itu tak seperti yang ia dambakan. Ia lelah, ingin kembali tidur saja. Tenggelam dalam gelap dan dingin. Berbeda dengan sebelumnya, ia menyukai hal itu. Tenang, damai, tanpa asa.
YOU ARE READING
Vile: Where the Devils Hide
Random🔞Angst-Thriller, Adult-Romance🔞 Mia dan Harda, Pasangan pengantin baru yang mencoba menjalani hidup sebagai suami istri demi move on dari masa lalu. Namun, trauma kekerasan hingga mantan sosiopat kembali hadir meneror dan akan melakukan apapun dem...
