Hujan malam itu turun dengan lebat. Tak terelakkan bagi mereka yang baru saja hendak pulang ke rumah. Orang-orang yang berjalan kaki mau tak mau menepi, bernaung dari derasnya air yang mengguyur dari langit.
Berbeda dengan seorang gadis bernama Eshania Galatri, yang baru saja tiba di Indonesia setelah penerbangan panjang hampir lima belas jam lamanya.
Begitu keluar dari gedung bandara, para rekrutan keluarga Galatri langsung menyambutnya. Tanpa basa-basi, Eshania melangkah masuk ke dalam mobil van hitam milik keluarganya.
“Jalan.”
Perintahnya singkat. Dingin.
Mobil itu pun segera melaju meninggalkan bandara.
—————
Di sepanjang perjalanan, Eshania hanya menatap datar jalanan malam dari balik kaca mobil. Lampu-lampu kota memantul di pupilnya, namun pikirannya jelas tidak berada di sana.
Gadis remaja itu kembali mengulang kejadian dua hari lalu—kejadian yang membuatnya meninggalkan sekolahnya di Italia dan pulang ke Indonesia.
“…Sial.”
Umpatnya dalam hati.
Kenangan itu terus berputar seperti kaset rusak.
“Dunia ini memang anjing.” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Benar, Bisa-bisanya takdir mempermainkannya sekejam itu.
“…Hah…”
Ia menghela napas kasar untuk kesekian kalinya.
Sopir yang sejak tadi mengamati dari kaca spion mulai merasa tidak enak sendiri. Aura nona bungsu keluarga Galatri malam ini terasa… berbeda. Tajam. Dingin. Nyaris identik dengan sang Tuan Besar.
“Ada yang salah, Nona?” tanya sang sopir hati-hati.
Eshania terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis.
“Ahaha, nggak apa-apa, Paman. Lagi bad mood aja. Tenang.”
Sopir itu hanya mengangguk saja pada ucapan sang nona, lebih aman baginya untuk tidak ikut campur.
——————
Eshania kembali menyusun ulang kepingan ingatan yang muncul dua hari lalu.
Saat pelajaran olahraga, ia tak sengaja terkena lemparan bola dengan kekuatan cukup keras tepat di kepala. Cukup untuk membuatnya pingsan.
Dan dalam pingsannya itu—alih-alih hanya gelap—ia justru mendapatkan kembali ingatan dari kehidupan pertamanya.
Plot twist yang sebenarnya tidak lucu sama sekali...
Ternyata dunia yang ia jalani sekarang bukan sekadar kehidupan biasa.
Ia berada di dalam sebuah novel romansa picisan yang pernah ia baca di kehidupan sebelumnya.
Dan lebih parahnya lagi— bukannya menjadi protagonis atau karakter penting, dia malah menjadi tokoh figuran yang muncul pun tidak, lebih parahnya dia menjadi adik dari tokoh antagonis!
.
.
.
.
.
Novel itu berjudul Before The Last Bell Rings.
Sebuah kisah romansa klasik tentang siswi beasiswa pindahan bernama Asalia Feranta yang berhasil menarik perhatian tokoh utama pria—Aryananta.
Dan seperti biasa, cerita tak akan lengkap tanpa antagonis.
Asmara Raden.
Tokoh yang paling dibenci para pembaca. Sosok antagonis yang terus-menerus mengganggu hubungan Asalia dan Aryananta.
Asmara bahkan tak segan melakukan tindakan kejam dan gila pada Asalia.
Dan pada akhirnya—seperti antagonis kebanyakan—Asmara akan kehilangan kewarasannya dan mati secara tragis akibat perbuatan sang tokoh utama pria.
Lalu?
Happy ending.
Protagonis hidup bahagia.
Tamat.
“Bullshit.” gumam Eshania pelan.
Tidak.
Ia tidak akan membiarkan kakaknya berakhir seperti di novel itu.
Tidak peduli bagaimana caranya.
Dan karena tekad itulah, Eshania memutuskan kembali ke Indonesia dan pindah sekolah bersama sang kakak.
Ia akan mengubah alur.
Menghancurkan plotnya.
Membalikkan takdirnya.
“Tunggu saja,” bisiknya lirih, senyum tipis terlukis di wajahnya.
“Aku bakal hancurin cerita sialan ini.”
————————
DISCLAIMER!
INI ADALAH CERITA PERTAMA SAYA YANG TERGOLONG BUKAN FANFICT.
JIKA ADA ALUR, ATAU NAMA TOKOH YANG SAMA MAKA SEMUANYA MURNI BUKAN KESENGAJAAN.
JIKA ADA SARAN, KRITIK, ATAU SEBAGAINYA KALIAN BISA SAMPAIKAN DI KOLOM KOMENTAR YANG ADA. DAN PERINGATAN SINGKAT, MUNGKIN DI CHAPTER KEDEPANNYA AKAN LEBIH BANYAK PENGUNAAN KATA KATA KURANG PANTAS DAN KASAR.
BAGI KALIAN YANG TIDAK TAHAN DENGAN HAL HAL SEPERTI ITU MAKA TOLONG LEWATKAN LAPAK INI.
ITU SAJA... PENYAMPAIAN SINGKAT DARI SAYA.
SEE YOU NEXT TIME DI CHAPTER BERIKUTNYA!! 💕
YOU ARE READING
I REFUSE THIS ENDING
Teen FictionEshania Galatri, adalah seorang remaja yang baru menyadari bahwa kehidupannya saat ini bukanlah kenyataan seperti yang ia kira. Dunia yang ia pijak, orang-orang yang ia kenal, bahkan alur kejadian yang perlahan bergerak di sekitarnya-semuanya adala...
