PROLOG: Aset Bernapas

1.5K 142 50
                                        


Suara klik logam beradu dengan logam adalah satu-satunya hal yang memecah keheningan di kamar motel murahan itu.

Julian Ryker sedang membersihkan laras Glock-19 miliknya, namun matanya yang tajam tidak fokus pada senjata itu. Ia sesekali melirik ke sudut ruangan. Bukan melirik dinding, melainkan melirik gumpalan manusia yang sedang meringkuk di sana.

"Tiga hari," gumam Julian. Ia mengarahkan pistol yang belum terisi peluru itu ke arah sudut, menyipitkan satu mata seolah membidik sasaran tembak.
"Kalau ginjalnya kita lego di pasar gelap Tijuana, lumayan buat nambal uang bensin, Max."

Di meja seberang, Maxwell Sato tidak mendongak dari layar laptopnya. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard, menghitung rute pelarian yang makin sempit.
"Jangan bego. Dehidrasi bikin organ dalem rusak. Valuasinya anjlok."

"Siapa tau ada diskon." Julian terkekeh pelan, lalu menarik pelatuk kosong.
Ceklek.

Di sudut ruangan, Orion tersentak hebat.
Tubuh remaja tujuh belas tahun itu menegang. Lututnya ditekuk rapat ke dada, kepalanya tertunduk dalam menyembunyikan wajah. Kemeja sekolah mahal yang ia pakai tiga hari lalu kini kucel, bernoda tanah kering, dan bau keringat basi. Ia tidak menangis, air matanya sudah kering di hari pertama, tapi bahunya yang kurus gemetar tiap kali mendengar suara Julian.
Orion tahu ia tidak seharusnya ada di sini. Ia adalah sisa transaksi yang gagal. Sampah yang seharusnya dibuang.

"Berisik."
Satu kata itu meluncur rendah dan berat dari arah kasur.
Roger Cain duduk di tepi ranjang, telanjang dada, memperlihatkan perban tebal yang membebat rusuk kirinya, oleh-oleh dari baku tembak saat menyeret Orion keluar dari gudang musuh. Ia sedang melilitkan lakban hitam ke pegangan pisau tempurnya, gerakannya metodis dan tenang.

Julian menurunkan pistolnya, memutar bola mata malas.
"Gue cuma stress test, Rog. Kalau denger pelatuk kosong aja dia mati jantungan, mending kita abisin sekarang. Buang-buang jatah oksigen."

"Dia aset," jawab Roger datar. Ia tidak melihat ke arah Orion, matanya tetap pada bilah pisau yang memantulkan cahaya lampu remang. "Aset nggak boleh lecet. Titik."

"Sepuluh juta dolar," potong suara berat dari arah jendela.
Eugene Han, yang sejak tadi diam merokok, akhirnya bersuara. Asap rokoknya mengepul tebal, membuat ruangan yang sempit itu makin pengap. Eugene menatap Orion dengan tatapan jijik yang murni, seperti melihat kecoa di meja makan.
"Itu harga kepala kita sekarang gara-gara 'barang cacat' ini. Lo yakin tagihannya sebanding, Rog?"

Roger berhenti melilit lakban. Ia mendongak, menatap ketiga rekannya satu per satu. Tatapan Roger tidak berapi-api, tapi dingin dan mematikan. Jenis tatapan yang membuat ruangan yang panas itu mendadak turun suhunya.
"Ada lagi yang punya masalah?" tanya Roger pelan.

Hening. Maxwell berhenti mengetik. Julian meletakkan pistolnya di meja dengan bunyi tak pelan. Eugene membuang puntung rokoknya ke lantai dan menginjaknya keras-keras sampai bara apinya mati.

Roger kembali menekuni pisaunya. "Tidur. Kita cabut jam empat."

Lampu utama dimatikan. Hanya cahaya oranye dari lampu jalan di luar yang menyelinap masuk lewat celah tirai, menciptakan garis-garis bayangan panjang di lantai.

Satu jam berlalu. Suara dengkuran Eugene mulai terdengar kasar.
Di sudut gelap, Orion perlahan membuka matanya. Ia kedinginan. Lantai keramik motel itu menyerap panas tubuhnya tanpa ampun. Ia melirik ke arah tiga pria lain. Julian, Maxwell, Eugene yang tidur seperti predator yang siap menerkam kapan saja. Orion tahu, jika Roger tidak ada, lehernya pasti sudah digorok oleh salah satu dari mereka sebelum pagi tiba.

Dengan gerakan sangat pelan, nyaris tanpa suara, Orion menggeser tubuhnya.
Ia tidak berani naik ke kasur. Ia tidak berani membangunkan Roger.

Orion merayap di lantai, inci demi inci, menahan napas agar tidak terdengar, sampai ia berada tepat di samping sisi ranjang tempat Roger tidur. Di sana, tepat di bawah juntai tangan Roger yang kekar dan penuh bekas luka, Orion meringkuk kembali.
Ia memosisikan dirinya sedekat mungkin dengan Roger tanpa menyentuhnya. Seolah-olah Roger adalah satu-satunya tembok beton yang bisa menahan peluru dunia yang mengincarnya.

RECOIL | On GoingStories to obsess over. Discover now